Rakornas Pesantren Muhammadiyah di UMM: Upaya Ciptakan Pesantren Berkemajuan

Jumlah pondok pesantren (Ponpes) di bawah naungan Muhammadiyah terus bertambah. Terbaru, ada 440 ponpes yang tersebar di seluruh Indonesia dengan lebih dari 67 ribu santri. Bahkan angka tersebut terus bertambah dari hari ke hari. Data itu dijelaskan dalam Rapat Koordinasi Nasional ke-V Pesantren Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (31/8) lalu. Turut hadir ratusan perwakilan dari pesantren seluruh Indonesia. Terkait hal itu, Menteri Koordinator PMK RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP menjelaskan bahwa pemerintah telah memberikan perhatian spesifik akan keberadan pesantren. Salah satunya melalui Undang-undang nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Dengan begitu, eksistensi ponpes yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu sudah diakui dan mendapatkan kepastian serta perlindungan hukum. “Adanya regulasi ini juga membeikan implikasi yang besar, baik dari segi bisnis, model pendidikan, anggaran, dan lainnya. Maka saya berpesan agar teman-teman mampu mengkaji dan memahami regulasi pesantren, termasuk produk turunannya. Perlu adanya kreativitas dan pikiran segar untuk membenahi dan memberi inovasi dalam sebuah regulasi,” tegasnya. Muhadjir mengatakan bahwa ponpes Muhammadiyah tidak hanya menyediakan pendidikan semata. Namun juga harus bisa memberikan bekal bagi peserta didiknya, agar mampu mewujudkan visi dan misi Muhammadiyah. Selain itu, ia juga berharap tiap pesantren dapat memiliki corporate culture yang mengakar sehingga ada ciri yang unggul. Dalam kesempatan yang sama, Ketua PW Muhammadiyah Jatim Dr. Saad Ibrahim, MA. mengutip apa yang dikatakan profesor antropologi dari Boston University, Robert Hefner bahwa seni Islam itu dapat dilihat dari Muhammadiyah. Hal itu tidak lepas gerakan Muhammadiyah yang memadukan ilmu sains dan agama, bahkan sejak awal berdiri. “Maka, pesantren Muhammadiyah harus bisa memberikan nilai lebih pada santri. Bukan hanya fokus mentransferkan ilmu agama, tapi juga mampu memberikan ilmu dunia yang dibutuhkan untuk memajukan umat,” tuturnya. Antusiasme perwakilan tiap pesantren juga tinggi. Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Dr. Maskuri M.Ed. Menurutnya, antusiasme yang tinggi juga berbanding lurus dengan semangat membina pesantren. Maskuri menjelaskan bahwa pada 2015 lalu, pesantren Muhammadiyah mencapai angka 127. Kini, jumlah tersebut melambung tinggi menjadi 440 dan terus bertambah setiap tahunnya. Perkembangan ini tentu memberikan tantangan baru, utamanya dalam aspek sumber daya manusia (SDM). “Kalau dihitung, satu pesantren kecil kira-kira membutuhkan ustad dan ustadzah sebanyak 14. Maka, untuk memenuhi SDM di tiap pesantren, minimal kita harus memiliki 6160 ustad yang mumpuni dan unggul. Itu kalau pesantren kecil, situasi berbeda akan muncul di pesantren yang besar,” paparnya. Sepak terjang pesantren juga bisa dimaksimalkan dengan membangun sinergisitas bersama perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM). Menurut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. pihak PTM tanpa ragu akan membantu mengembangkan berbagai hal. Pada dasarnya, ada banyak program yang bisa diakses oleh santri maupun ustaz ustazah. Utamanya yang mengenai entrepreneurship. “Pengetahuan keislaman dan iptek memang penting. Tapi hal yang tak kalah pentingnya adalah keterampilan hidup. Maka saya rasa, PTM khususnya UMM bisa mengisi aspek tersebut sehingga mampu melahirkan generasi unggul nan lengkap,” pungkasnya. (wil)
Roadshow 1000 Startup Digital di UMM Targetkan Satu Juta Startup

Indonesia memiliki potensi besar dalam meningkatkan aspek ekonomi. Salah satunya dapat dilihat melalui pasar yang besar dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Koordinator Startup Digital Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI) Sonny Hendra Sudaryana mengatakan bahwa potensi itu harus digunakan semaksimal mungkin. Termasuk melalui pengembangan stratup yang mampu membantu masyarakat di berbagai aspek. Saat ini, tercatat ada 2.346 startup karya anak bangsa di Indonesia. Hal itu ia sampaikan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), akhir Agustus lalu. Melihat potensi itu, ia yakin akan muncul banyak startup baru yang bisa mendorong perekonomian negara. Maka, program 1000 Startup Digital Indonesia hadir dan melakukan roadshow di semua provinsi dengan memberikan materi mengenai caraa merintis startup. Sederet pemateri andal juga dihadirkan dalam rangka memberikan pemaparan yang terbaik dan mendorong peserta merintis strat upnya sendiri dan menambah jumlah startup di Indonesia. “Tentu kami berharap jumlah startup di Indonesia meningkat dan mampu melebihi India yang saat ini menjadi negara tertinggi di Asia. Sejauh ini, Indonesia masih menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara,” ucapnya di roadshow 1000 startup UMM. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, S.Pd., M.Pd. menyambut baik program 1000 startup ini. Menurutnya, program ini selaras dengan Center of Excellent (CoE) yang dikembangkan dan dijalankan oleh Kampus Putih UMM. Setelah lulus, mahasiswa didorong untuk menjadi pengusaha dan memberikan lapangan kerja bagi masyarakat. selain itu juga dapat menggapai pasar yang lebih luas. Fauzan juga berpendapat bahwa saat ini perlu adanya studi dan pembelajaran yang fokus mengkaji tentang teknologi dan informasi sejak dini. Sehingga target 1000 startup setiap tahun bisa tercapai. Bahkan ia berharap tidak hanya seribu, tapi mampu melahirkan satu juta startup dari anak-anak bangsa. “Harapan saya jangan hanya seribu, tetapi harus ada satu juta starup yang dilahirkan. Dengan begitu, aspek ini dapat menjadi ujung tombak menggerakkan ekonomi Indonesia di masa depan,” imbuhnya. Disisi lain, Sausan Putri selaku Manajer 1000 Startup Indonesia Hubungan 9 Jawa Timur mengatakan program ini memilki target melahirkan 40 startup. Dimulai dari prototipe hingga siap dipasarkan. Menariknya, program ini juga memiliki proses pendampingan berupa incubation class, feedback session, mentoring tatap muka, acceleration (Startup Studio), hingga completions startup. Pelaksanaan pendampingan tidak hanya sekali, namun dilakukan beberapa kali secara berkala. “Saya yakin, program ini bisa mengembangkan kretaivitas anak-anak bangsa di dunia digital. Sekaligus membantu perkenomian masyarakat di Indonesia. Mari satukan keberagaman dan mengubahnya menjadi kekuatan melalui teknologi digital,” katanya. (Haq/Wil)