AmCor UMM Ajak Siswa Cakap Berbahasa Inggris

Memiliki kemampuan berbahasa Inggris dalam berkomunikasi merupakan suatu hal yang penting dalam memasuki dunia global. Belajar bahasa Inggris juga dirasa tidak cukup kalau hanya melalui materi pembelajaran di ruang kelas saja, namun harus praktek langsung. Oleh karena itu, American Corner (AmCor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) datang ke sekolah-sekolah dan memberikan motivasi. Kali ini tim Amcor datang mengunjungi Ar-Rohmah putri pada akhir Agustus lalu. Menariknya, tim AmCor UMM tidak hanya datang dengan mahasiswa Indonesia, tapi juga ada mahasiswa asing yang berbagi ilmu. Utamanya tentang bahasa Inggris. Salah satu volunteer senior AmCor, Emeralda Narulita Halim menekankan peserta untuk percaya diri dan tidak malu berbahasa Inggris. Tak apa sekalipun cara bicaranya masih kurang baik. “Semua memang membutuhkan proses. Keberanian untuk berbicara bahasa Inggris bisa membuat teman-teman lebih baik lagi. Terus latih dan praktekkan bersama  teman-teman lain,” tegasnya. Selain itu, AmCor turut menggandeng mahasiswa asing UMM asal Tanzania, Francis Raphael Sendalo. Ia memberikan waktu para peserta untuk berbiacara dengannya sebagai proses belajar bahasa Inggris. Francis juga berbagi tips mudah belajar bahasa asing serta pengalaman internasionalnya bersama para pejabat Tanzania dan negara-negara Afrika lain. Direktur AmCor UMMRia Arista Asih, P.hD. merasa senang timnya bisa berbagi ilmu di Ar-Rohmah Putri. Menurutnya, aktivitas seperti ini sangat baik untuk menignkatkan skill anak-anak muda. Apalagi bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang membantu mereka di tahap kehidupan selanjutnya. “Tak perlu malu meski bahasa Inggris dan aksesnya masih kurang. Saya yakin selama teman-teman terus berlatih, sedikit demi sedikit skill bahasa Inggris kalian akan menjadi lebih bagus. Kami juga menyediakan berbagai program yang bisa diikuti oleh mahasiswa maupun kalangan umum,” tambahnya. Di sisi lain, pembina English Club Ar-Rohmah, Laili Isna Nur Cahyani, mengucapkan terima kasih kepada AmCor UMM atas kunjungannya. Pihaknya memang ingin meningkatkan dan mengembangkan kemampuan santri dalam berbahasa. Selain itu juga skill public speaking sebagai sarana dakwah, tidak hanya dalam bahasa Indonesia tapi juga Inggris. “Sebelumnya, kami cukup kesulitan untuk mendapat pemateri yang berkualitas. Alhamdulillah, AmCor UMM datang bersama dengan pemateri berkualitas. Bahkan membawa mahasiswa asing untuk berbagi ilmu. Kami berharap kerja sama ini bisa terus terjalin dan kami pun bisa berkunjung langsung ke sana,” ungkap Laili. (zak/wil)

Dua Mahasiswa UMM Juara Debat Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak henti mengukir prestasi. Kali ini datang dari mahasiswa Fakultas Hukum UMM, ia adalah Amanda Putri Rahmawati dan Yogi Syahputra yang berhasil mengunci juara dua di lomba debat nasional bertajuk Public Expo 2022 pada akhir Agustus lalu. Total, terdapat 24 tim yang mengikuti perlombaan dengan menggunakan sistem debat british parliamentary, yakni dua orang dalam satu tim. Tim dari kampus putih UMM berhasil melesat ke final dan berjumpa dengan mahasiswa dari Universitas Insan Cita Indonesia. Adapun peserta lain berasal dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia seperti Universitas Sriwijaya, Universitas Hasanuddin dan lain-lain. Mahasiswi yang kerap disapa Amanda ini menuturkan jika ia dan tim mempersiapkan lomba dalam waktu singkat, namun cukup matang. Sebab ia dan Yogi telah melakukan riset mendalam terkait topik yang diangkat untuk nantinya dikemukakan ke juri dalam bentuk video. Terdapat tiga babak yang harus dilalui oleh tim kampus putih. Pertama babak penyisihan, semifinal dan kemudian final. Khusus untuk babak penyisihan, mereka mengirim video mosi ke pihak panitia. Ia dan Yogi merasa beruntung berkuliah Kampus Putih UMM. Hal itu tidak lepas dari sederet organisasi yang disediakan, baik yang meningkatkan skill di akademik maupun akademik. Terhitung, Amanda mengikuti tiga lembaga semi otonom (LSO) yang membekalinya dalam bertorika yakni LSO Peradilan Semu, Komunitas Riset dan Debat serta Pusat Kajian keilmuan (Pukas). “Dari sanalah saya belajar banyak hal. Tidak hanya ilmu jurusan yang saya tekuni, tapi juga cara berbicara, beretorika, hingga berorganisasi. Apalagi melihat bahwa lomba ini dilaksanakan secara tim, jadi mau tidak mau saya harus bisa berkompromi dan menyatukan ide bersama Yogi agar bisa memenangkan lomba ini dengan apik,” tegas mahasiswa kelahiran Lampung itu. Menurut Amanda, UMM juga sangat membantunya selama sebelum hingga proses perlombaan. Ada bimbingan, bantuan take video, mengedit video dan persiapan krusial lainnya. Bahkan nuga mengapresiasi kemenangannya dengan berbagai bentuk. “Adapun pada babak semi final kami berhadapan dengan tuan rumah, Universitas Negeri Makassar dan membahas mosi terkait pembangunan jalan tol tidak terdampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Sedangkan saat final, mosi yang diangkat adalah Konflik Palestina dan Israel serta sistem konfesionalisme lebih baik dari pada sistem two state dalam menyelesaikan konflik tersebut,”  ujar mahasiswi angkatan 2020 itu. (Ros/Wil)