Pita Hitam di Wisuda UMM: Bentuk Kemanusiaan dan Keprihatinan Terhadap Korban Tragedi Kanjuruhan

Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang pada 1 Oktober 2022 telah membawa duka yang amat dalam bagi masyarakat indonesia. Tak terkecuali pada perhelatan wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke 105 periode ke III tahun 2022, Selasa (4/10) lalu. Para wisudawan beserta orang tua mengenakan pita hitam sebagai tanda rasa duka atas kepergian para korban. Tak hanya itu, penggalangan dana juga diadakan dalam wisdua tersebut sebagai bentuk saling mengasihi dan rasa kemanusiaan. Wisuda itu juga diawali dengan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Rektor UMM. Hadir dalam wisuda itu Direktur Utama PT INKA (Persero) Budi Noviantoro. Ia memberikan selamat bagi wisudawan yang telah melaksanakan amanah dengan baik. Baginya, menjadi lulusan yang tetap eksis di masa mendatang diperlukan tiga hal. Pertama yakni bermula dari akhir dan berakhir di awal. “Contohnya ketika saya membuat bus listrik. Saya tes terlebih dahulu, setelah itu baru menarik teori berdasarkan percobaan itu. Jika saya buat dari awal dulu, tentu tidak akan jadi apa-apa,” ungkapnya. Kedua, kalau sudah membuat, maka akan bisa memperbaiki. Ia mengaku beberapa kali menegur masyarakat yang suka membeli, tetapi tidak menghargai produk sendiri. Oleh karena itu, ia menghimbau untuk mencintai produk dalam negeri seperti yang telah dikatakan oleh presiden. Tidak ada salahnya membeli produk lokal untuk kemajuan bangsa. “Ketiga, inovasi forever. Kalau tidak memiliki jiwa inovasi, maka akan terlambat dalam bergerak,” tegasnya. Ia juga berharap UMM mampu melakukan riset-riset yang mengarah pada teknologi hidrogen yang ramah lingkungan. Menurutnya, teknologi hidrogen ini bisa menjadi kendaraan masa depan. “Indonesia adalah gudangnya material untuk hidrogen. Saya titip ke wisudawan agar bisa berpikir visoner. Apalagi di UMM sudah ada Center of Excellence (CoE) yang bisa menjadi wadah. Maka maksimalkan wadah ini untuk melakukan riset-riset bermanfaat,” terangnya. Pada kesempatan yang sama, hadir Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Ia mengucapkan turut berbelasungkawa, khususnya untuk Aremania dan keluarga yang telah menjadi korban tragedi di Kanjuruhan. “Mari kita berdoa semoga mereka yang meninggalkan kita dapat ditempatkan di sisi terbaikNya. Begitupun dengan mereka yang luka agar cetat membaik dan sembuh,” harap Muhadjir. Selain itu, ia mengingatkan kepada wisudawan untuk siap menghadapi Indonesia emas 2045. Jika tidak siap, maka akan ditinggal dan kalah dengan orang lain. Sebaliknya, jika lulusan UMM siap dan berada di barisan terdepan, tentu akan sangat membanggakan untuk diri sendiri, orang tua dan Kampus Putih.  “Sebab selama di kampus ini, wisudawan telah dibentuk untuk menjadi orang profesional agar saudara bisa memberi peran di puncak Indonesia emas,” tegasnya. Ia juga berpesan kepada wisudawan UMM untuk merubah cara pandang dan berpikir berpikir. Salah satunya terkait kehidupan yang bersih, hijau dan mengurangi efek rumah kaca. Baginya, dunia berada dalam suasana global warming yang memerlukan tindakan konkret untuk menekan hal itu. “Saya ingin alumni UMM yang diwisuda untuk tidak kenal berhenti dan tetap semangat. Manfaatkan potensi dan otak saudara untuk memberikan solusi atas permasalahan masyarakat,” tuturnya. (ros/wil)

Sosok Angger, Aremania UMM yang Jadi Korban Tragedi Kanjuruhan

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berduka. Pasalnya salah satu mahasiswa Kampus Putih, Angger Aditya Permana menjadi korban dalam tragedi yang terjadi usai laga Arema melawan Persebaya (1/10). Ia menjadi salah satu dari ratusan korban yang meninggal malam itu. Angger, sapaan akrabnya merupakan mahasiswa jurusan Kehutanan Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP). Ia dikenal sebagai mahasiswa yang rajin dan baik. Sebagai orang Malang, ia sangat mencintai Arema dengan menonton timnya bertanding. Namun ia juga tak pernah meninggalkan kewajibannya untuk belajar sebagai mahasiswa. Mendengar musibah itu, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. datang dan melakukan takziah ke kediaman Angger. Ia menyampaikan belasungkawa yang sangat dalam. “Angger adalah anak kita, pun juga anak kami di UMM. Selama ini, para dosen di Jurusan Kehutanan juga melihat bahwa ia adalah anak yang baik dan taat. Tak ada catatan negatif maupun buruk selama berkuliah di Kampus Putih. Kami tentu berharap, semoga Angger husnul khotimah serta ditempatkan di sisi terbaik-Nya,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Nazar yang datang bersama tim UMM juga memberikan santunan sebagai bentuk kasih sayang. Mengobrol dan menemani keluarga yang masih merasa kehilangan. Pun dengan mengembalikan biaya studi yang sudah orang tua Angger bayarkan selama menimba ilmu di UMM. Ia salut dengan bapak Angger yang masih bersemangat dan terus berupaya menguliahkan anak-anaknya dengan bekerja sebagai ojek online. Selain Angger, kakanya juga sedang menimba ilmu di UMM. ia diterima lewat jalur bidik misi di jurusan Civic Hukum dan akan selesai dalam waktu dekat. “Saya sangat salut akan kerja keras bapak untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Upaya banting tulang bapak tentu mnejadi semnagat tersendiri bagi almarhum Angger dan kakaknya. Semoga keluarga terus diberi kelancaran rezeki serta kesehatan,” harap Nazar mengakhiri. (*)