Ini Keaktifan Amcor UMM, Beberkan Cara Belajar di US hingga Program Inovatif

Setelah sukses menggelar info session dan exibition Education USA, Kali ini, American Corner (AmCor) Universitas Muhammadiyah malang (UMM) menyelenggarakan “Info Session on The U.S. Exchange Programs” pada Jumat ( 21/10) lalu. Agenda hasil kolaborasi dengan U.S. Consulate General Surabaya ini menghadiran sederet pembicara yang memotivasi mahasiswa untuk mengecar cita-cita ke luar negeri. Salah satunya adalah Cultural Affairs Assistant US Consulate General Surabaya Puguh Budi Susetyo. Ia menyampaikan ada banyak program yang bisa diikuti anak muda, salah satunya Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI). Melalui YSEALI Academic Fellows Program, mahasiswa mendapatkan rangkaian agenda akademik intensif, leadership development, study tour, serta pengalaman mengikuti kegiatan community service. “Tujuan program ini yaitu untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan dan meningkatkan pemahaman pemuda di ASEAN terhadap Amerika Serikat. Program tersebut akan memberikan banyak pengetahuan dan juga hal baru bagi peserta yang mengikutinya. Ada banyak project berbasis anak muda yang bisa mendorong peserta menjadi pemimpin,” jelas Puguh. YSEALI tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa, tapi juga untuk tenaga kependidikan atau dosen dari negara-negara ASEAN. Dengan begitu, para peserta bisa bertukar pikiran dan ide. Kemudian mengimplementasikannya di negara masing-masing. Turut hadir Director of Public Affairs U.S. Embassy Surabaya Joshua Shen yang memantau perkembangan American Corner UMM serta merekatkan hubungan dengan para volunteer dan anggota. Menariknya, Joshua juga menegaskan akan melakukan extend partnership dengan International Relation Office (IRO) UMM. Sehingga ada lebih banyak program yang bisa dilaksanakan dan diikuti oleh mahasiswa. “Saya sudah banyak mendengar bahwa AmCor UMM menjadi AmCor yang sangat aktif. Selain dari program-program yang di adakan sendiri, saya lihat Amcor UMM juga banyak melakukan partnership dengan pihak lain yang memilki tujuan sama dengan misi American Spaces. Seperti misalnya Let’s Play dan iLitterless. Oleh karena itu, kami juga akan melakukan extend partnership,” Ungkap Joshua. Disisi lain, salah satu peserta Eginuari Ilhani berharap Amcor bisa memberikan agenda menarik secara rutin. Selain bisa memotivasi mahasiswa untuk menuntut ilmu, menurutnya ajang seperti ini bsia memberikan hal baru yang menarik. Utamanya bagi mereka yang ingin atau sedang mempersiapkan diri untuk program pertukaran ke luar negeri. “Acaranya seru sekali dan saya tertarik untuk mengikuti program tersebut, apalagi ke Amerika Serikat. Siapa yang tidak mau ke Amerika Serikat kan, semoga kedepannya lebih banyak program seru lagi,” ungkap Egi mengakhirinya. (zak/wil)
Aziz, Mahasiswa UMM yang Berkontribusi di Ajang V20

Sebagai tuan rumah Group of Twenty (G20) tahun ini, Indonesia memiliki peranan penting bagi terlaksananya forum berskala internasional itu. Sebelum digelar forum G20, terlebih dahulu diadakan konferensi Values 20 (V20). Melalui undangan dari V20, Haziz Hidayat mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) jurusan Ekonomi Syariah berhasil terpilih menjadi salah satu delegasi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai perwakilan Indonesia. Adapun konferensi V20 yang diikuti oleh perwakilan dari 20 negara ini dilaksanakan pada akhir Oktober lalu di Ubud Bali. V20 merupakan komunitas global yang mendukung G20 dalam inisiasi, pembangunan, serta penguatan kembali nilai-nilai individu, institusi, nasional dan global. Aziz, sapaan akrabnya mengaku sangat senang bisa terpilih menjadi delegasi di konferensi V20. Mahasiswa yang memang tertarik dengan isu-isu global itu mengatakan, ia dan delegasi dari negara lainnya banyak membahas terkait goals dan target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Menurutnya, pembahasan isu-isu terkait sangat menarik karena skalanya luas. Pun dengan aspek pengkajian serta tujuan-tujuannya yang banyak. Mulai dari sosial, ekonomi, lingkungan, hukum, dan lainnya. Mereka juga saling bantu untuk memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dan akan terjadi. “Kebetulan saya mendapatkan projek di bidang lingkungan terkait penanggulangan food waste. Saya memberikan solusi yakni dengan menggunakan sistem pirolisis yaitu sebuah cara yang bisa berdampak dalam penanggulangan sampah. Sistem ini bahkan bsia menampung hampir 18 ton sampah yang kemudian diolah menjadi BBM, aspal, serta baja,” terangnya. Mahasiswa kelahiran tahun 1999 itu mengatakan, dirinya memang sering ikut dan berkontribusi dalam banyak konferensi internasional. Sebelumnya ia juga turut serta dalam Konferensi Sidang PBB tahun 2020 di Jakarta. Dari Pengalaman yang ia dapatkan, Aziz bersama teman-temannya di kampus mulai membangun SDGs Center di UMM. Berungtungnya, semua potensi yang dimiliki mahasiswa didukung penuh oleh Kampus Putih UMM. Sehingga ia dan teman-temannya tidak kesulitan dalam meningkatkan kualitas diri. Ia juga menekankan bahwa SDGs 2030 itu bukan tanggung jawab perorangan, pemerintah, ataupun kelompok tertentu. Namun semua orang memiliki tanggungjawab untuk mewujudkannya. Maka kerjasama antar lini sangat diperlukan. “Sebagai perwakilan dari UMM dan Indonesia, banyak sekali pengalaman dan manfaat yang didapat lewat V20 ini. Semoga solusi-solusi yang kami berikan bisa ditindaklanjuti dan dikembangkan. Paling tidak nanti akan saya jalankan di lingkup kampus. Saya juga ingin mengajak mahasiswa lain untuk pro aktif dengan isu-isu global yang ada, sehingga UMM juga mempunyai peran penting. Bukan hanya di level Indonesia tapi juga dunia,” harap Aziz mengakhiri. (zak/wil)