Mulai Presma hingga Perwakilan ke Korea, Ini Sosok Harisuddin Wisudawan UMM

Menjadi mahasiswa dan pemuda yang aktif mengikuti berbagai kegiatan bukan perkara mudah. Hal itu juga dirasakan oleh Harisuddin, wisudawan Universitas Muhammadiyah malang (UMM) yang penuh dengan prestasi dan mandiri. Ia pernah menjabat sebagai presiden mahasiswa UMM, mewakili Indonesia di konferensi internasional petani muda di Korea Selatan, hingga membangun platfrom pertanian yang diberi nama Harvest Day Farm. Ia juga sering menjadi pemateri di berbagai event dan kesempatan. Salah satunya menjadi pembicara di ajang Your Voice Matter garapan Indozone. Bahkan ia juga pernah satu panggung dengan Erick Thohir saat berkunjung ke UMM. Haris, sapaan akrabnya, memulai ceritanya saat pertama kali menginjakkan kaki di Kampus Putih. ia langsung tancap gas ikut ke berbagai organisasi. Mulai dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menjadi anggota himpunan mahasiswa jurusan, berlanjut ke ketua senat mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), hingga terakhir sebagai presiden mahasiswa UMM. “Menjadi mahasiswa, tidak cukup jika mengandalkan ilmu dari perkuliahan semata. Harus mencari hal baru di organisasi. Makanya, saya selalu aktif ikut dan turut berperan memebrikan kontribusi, paling tidak di komunitas mahasiswa,” katanya. Ia juga menjelaskan saat terbang ke Korea Selatan untuk menghadiri konferensi petani muda. Di sana, ia bertemu dengan anak-anak muda yang fokus untuk mengembangkan pertanian dari berbagai negara. Ia juga berkesempatan melihat bagaimana pengelolaan pertanian menggunakan teknologi di sana. Hal itu memacunya untuk memberikan inovasi baru dan menerapkannya di Indonesia agar petani bisa hidup lebih sejahtera. “Saya bersyukur berkuliah di UMM karena sneantiasa didukung untuk melakukan banyak hal sesuai passion. Kalau saja saya tidak menimba ilmu di sini, belum tentu saya bisa ke Korea dan memberikan dampak positif seperti sekarang,” katanya. Menariknya, ia juga menjadi salah satu lulusan yang sesuai dengan tujuan UMM yakni mencetak generasi yang mandiri. Hal itu tidak lepas dari usahanya, Harvest Day farm yang bergerak di bidang pertanian, baik jasa maupun barang. Layanan jasa berupa pelatihan pertanian organik dan hidroponik. Sementara untuk produk, ia menjual lebih dari 300 benih hasil kerjasama dengan petani yang ada di Batu. “Saat ini saya dan tim juga sedang mengembangkan scan barcode yang bisa memberikan informasi terkait tumbuhan terkait. Seperti misalnya, kita tinggal scan pohon tertentu dan kemudian akan muncul infomasi tentang penyakit dan hal-hal terkait. Semoga bisa segera terealisasi,” jelasnya. Terkahir, wisudawan asal Lamongan ini berpesan kepada anak-anak muda untuk terus menggali potensi. Khusus untuk mahasiswa di bidang pertanian, ia mengajak untuk memajukan pertanian Indonesia. Saat ini ada 33 juta petani di NKRI dan hanya 8% yang merupakan petani muda. “Jadilah pemain dalam bidang ini. Indonesia adalah negara agraris, jangan sampai membuat petani menangis,” tegasnya. (wil)
Ubah Anggrek Jadi Pangan, Tim UMM Raih Medali PIMNAS Ke-35

Gelaran PIMNAS selalu ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, utamanya untuk menyalurkan ide kreatif serta ajang meraih prestasi. Hal itu juga yang dilakukan oleh salah satu tim Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) yang berhasil menyabet juara dua poster di kategori PKM-RE (Riset Eksakta) pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Ke-35 pada awal Desember 2022. Mereka adalah Syntiya Inanda Khoidir, Rika Cahyani Irjayanti, Annisa Jihan Purnama dan Nastiar Majidatun Wakhidah yang merupakan mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Ketua tim, Syntiya Inanda Khoidir mengatakan, awalnya tidak terlalu berharap proposal yang diajukan akan lolos pendanaan PIMNAS. Apalagi sudah dua tahun mereka mengajukan proposal, tapi ujungnya belum beruntung. Tapi mereka terkejut ketika proposalnya mampu mendapatkan pendanaan, bahkan lolos sampai PIMNAS dan membawa pulang medali. “Saya merasa takjub dan bersyukur. Akhirnya kerja keras yang kami pikir akan kembali gagal, nyatanya mampu memberikan hasil maksimal,” ungkap Syntiya. Syntiya, sapan akrabnya menjelaskan bahwa penelitian mereka membahas mengenai Potensi Ekstrak Fenolik Bunga Anggrek Cymbidium Golden Boy sebagai Antioksidan pada Pembuatan Flower Leather. Dari hasil penelitian, dapat diketahuin bahwa kadar fenol pada bunga anggrek memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi. Zat ini sangat bermanfaat bermanfaat bagi manusia untuk menangkal radikal bebas. “Alasan memilih bunga anggrek untuk diteliti karena dasarnya memang senang dengan bunga anggrek. Bunga anggrek sendiri juga memiliki rasa yang unik seperti selada. Apalagi melihat belum banyak penelitian yang membahas mengenai tanaman hias yang dijadikan tanaman pangan,” tuturnya. Mahasiswa kelahiran tahun 2001 juga bercerita bahwa penelitian dilakukan selama lima bulan lamanya. Diawali dengan mencari bunga anggrek yang paling segar kemudian dikeringkan untuk diambil ekstrak fenolnya untuk mendapatkan kandungan antioksidan. Kemudian diolah menjadi manisan atau agar-agar. Selama penelitian ada beberapa kendala yang dihadapi seperti teksturnya yang rapuh dan juga warna yang kurang menarik. Namun itu bisa disiasati dengan penambahan asam sitrat untuk membentuk warna dan penambahan hidrokoloid untuk mempertahankan teksturnya. “Beruntung kami berkuliah di UMM yang selalu mendukung segala kreativitas dan inovasi mahasiswanya. Banyak lembaga mahasiswa yang menjadi wadah seperti LSO Hipotesa serta dosen yang selalu siap ditanya ketika kami mengalami kesulitan. Pun dengan dukungan orang tua dan teman yang menjadi bahan bakar kami untuk terus berprestasi,” katanya. Ia dan tim ingin agar penelitian yang mereka lakukan tidak hanya memenangkan medali PIMNAS saja, tapi terus dikembangkan agar bisa mendapatkan formula yang sesuai. Sehingga bisa menjadi salah satu pangan nasional. “Kami juga ingin mendorong adik-adik mahasiswa lain untuk menyemarakkan PIMNAS. Harus ada lebih banyak proposal yang diajukan sehingga bisa meloloskan lebih banyak tim di PIMNAS tahun depan,” harapnya mengakhiri. (zak/wil)