Mantan Teroris Selesaikan Studi Doktor di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tempat yang memberikan harapan dan dinilai terbuka untuk siapapun. Hal itu diucapkan oleh Ali Fauzi, mantan narapidana teroris (Napiter) yang berhasil menyelesaikan sidang disertasi di Kampus Putih UMM, 17 Januari lalu. Ia yang mengambil jurusan doktoral pendidikan Islam itu mengkaji terkait Edukasi Moderasi Beragama Bagi Para Mantan Napiter dalam tugas akhirnya. Lebih lanjut, Ali, sapaannya memang berfokus pada subjek eks napiter. Mulai dari proses perekrutan, radikalisasi, hingga aksi berupa penembakan dan pengeboman. Ia menilai bahwa pemahaman Islam mereka pada teks yang tidak sesuai dengan konteks Indonesia telah menenggelamkan ke gerakan radikal fundamental yang berujung pada terorisme. “Namun kini para napiter telah menyadari kesalahan mereka yang telah melakukan tindakan merugikan pihak lain dan mengakhirinya,” katanya. Menurut Ali, moderasi beragama membuat mereka membuka pikiran dan sadar. Terutama akan hak-hak orang lain yang berbeda pemahaman maupun agama di Indonesia. Pemaknaan Islam secara moderat dna humanis menenangkan batin bagi kehidupan mantan napiter. Menariknya, Ali juga memiliki yayasan yang bernama Yayasan Lingkar Perdamaian. Yayasan ini bertujuan untuk membawa pulang mantan napiter ke NKRI, memberikan pembinaan di lapas, serta memberdayakan mereka melalui pelatihan life skill. Bahkan juga memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anaknya dan juga para janda yang ditinggal suaminya. Terkait Kampus Putih, ia menilai bahwa UMM merupakan universitas Islam yang memberikan kesejukan. Hal itu tak lepas dari paham Islam UMM yang berwawasan tamaddun, wasathiyah, dan moderat. Apalagi dengan sederet pendidik yang tidak hanya bagus dari sisi akademik, tapi juga memberikan teladan dan menjadi teman diskusi yang apik. Sementara itu, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. selaku Direktur Program Pascasarjana UMM mengapresiasi disertasi yang disusun oleh Ali Fauzi. Hal itu tak lepas dari pembahasan terkait moderasi beragama. Baginya, kajian tersebut sangat penting untuk dibahas serta dibagikan ke masyarakat. “Dalam beragama, sebisa mungkin kita menjadi orang baik dengan tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan,” terangnya. In’am, menyampaikan bahwa UMM selalu memberi kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik, tak terkecuali mantan teroris seperti Ali Fauzi. Sebab, menurutnya UMM dapat memberi wawasan yang luas dan pengerahuan sesungguhnya dalam beragama. “Seperti kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Pak Haidar Nasir, bahwa kita harus mengambil jalan tengah. Tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan,” Selain Ali, sebelumnya ada mahasiswa non muslim dari Australia yang mengambil S3 di Pendidikan Agama Islam. Hal itu membuktikan tingkat inklusivitas UMM yang tinggi. Itu juga upaya Kampus Putih untuk menyiarkan masyarakat bahwa Islam yang diajarkan meruakan Islam yang menyejukkan. “Sekarang Pak Fauzi bergelut di Muhammadiyah dan dapat aroma parfumnya. Kalau dulu bergelut dengan pandai besi dan kena percikan api, sekarang dapat bau parfum, terutama dari UMM. Jadi, siapapun boleh belajar Islam di sini, selama niatnya adalah berubah menjadi lebih baik. Faktanya, Pak Ali kini memiliki yayasan yang mengedepankan moderasi beragama,” pungkasnya. (ros/wil)
Mahasiswa FPP UMM, Wamil Kilat dengan Pusdik Arhanud

Penanaman jiwa nasionalisme untuk melindungi dan berkontribusi terhadap bangsa Indonesia perlu diperkuat kembali. Hal tersebut diucapkan oleh Komandan Pusat Diklat (Pusdik) Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Brigjen Tentara Nasional Indonesia (TNI) Raden Edi Setiawan, S.H., pada pembukaan Bela Negara Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa ini berlangsung selama enam hari sejak 16 Januari 2023 di Pusdik Arhanud, Kabupaten Malang. Edi, sapaan akrabnya memaparkan bahwa generasi muda saat ini sangat mengikuti zaman, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun teknologi. Sayangnya, tidak diimbangi dengan rasa nasionalisme akan Indonesia. Maka perlu adanya kegiatan yang bisa meningkatkan rasa kecintaan akan tanah air. “Salah satunya dengan aktivitas bela negara yang dilaksanakan FPP UMM ini. Dengan kedisiplinan dan ketekunan saudara, saya yakin saudara mampu menjadi pribadi yang bermanfaat. Bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat luas,” ucapnya. Turut hadir Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Ia menilai bahwa Bela Negara ini dapat melatih kedispilinan mahasiswa. kemudian akan membuahkan sifat ketekunan dan manajemen yang baik dalam diri masing-masing mahasiswa. Menariknya, ia mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi model baru dalam meningkatkan rasa nasionalisme dan bisa diekuivalensi pad amata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganeraan (PPKN). “Kedisiplinan menjadi hal yang perlu dimiliki anak muda. Maka, kerjasama dengan TNI mnejadi hal yang penting dan strategis untuk dilakukan demi mewujudkan generasi muda yang tangguh,” katanya. Di sisi lain, Dr. Ir. Aris Winaya, M.M. M.Si. selaku dekan FPP UMM mengatakan era digital memberikan banyak dampak positif maupun negatif. Banyak budaya luar yang masuk dan mengikis rasa nasionalisme. Bahkan anak muda dirasa lebih mengenanl budaya asing yang kurang sesuai dibanding budaya Indonesia. “Selain jiwa nasionalisme yang tinggi, sebagia warga negara Indonesia, kita juga harus mengedepankan tata susila yang ditunjukkan pada perkataan maupun perbuatan. Bukan hanya kepada mereka yang dekat, tapi juga kepada masyarakat secara luas,” pungkasnya. (Haq/wil)