Bertekad Tekan Pengangguran di Mali, Mahasiswa UMM Ini Nekat Belajar di Indonesia

Pernah menjadi buruh dengan upah tak layak membuat Gaoussou Coulibaly, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Republik Mali Afrika Barat bertekad menjadi pengusaha sukses. Berbekal niat dan kesungguhan, ia memututuskan untuk belajar dengan tekun di Program Studi Akutansi UMM. “Menjadi pengusaha sudah menjadi passion dan cita-cita saya sejak kecil, karena di Afrika terutama di Mali, anda harus bekerja. Saat mencari pekerjaan, saya banyak menemui kesulitan. Misalnya saya pernah bekerja 12 jam sehari dan saya tidak dibayar dengan baik di akhir bulan. Bertekad untuk mengembangkan berbagai sektor sebagai lapangan pekerjaan bagi keluarga, teman-teman dan anak muda di Mali,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Kuli tersebut. Tidak main-main, untuk mewujudkan mimpinya Kuli berusaha mendapatkan akses pendidikan terbaik. Ia pun bergabung dalam program Asia Afrika Scholarship Student (AASS) dan mendapatkan kesempatan belajar selama 4 tahun ditambah 1 tahun masa persiapan studi. “Saya memutuskan datang ke Indonesia untuk belajar akuntansi. Saya menilai bahwa di UMM para mahasiswa didorong untuk menjadi versi terbaik. Salah satunya melalui Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang mengajari saya tentang Bahasa Indoensia dan budayanya,” tambahnya. Kuli juga melihat bahwa di UMM ia didorong unntuk bisa mengembangkan potensi sntrepreneurship. Ada banyak kegiatan yang mengarah ke sana. Ia berharap, apa yang ia dapat di Kampus Putih mampu diimplementasikan di Mali. Paling tidak bisa menekan angka pengangguran di sekitar lingkungannya. Sudah tiga bulan tinggal di Indonesia, Kuli mengaku senang belajar di Malang. Ia mendapat banyak pengalaman juga teman-teman baru. Terselebih, para sivitas UMM yang menurutnya sangat terbuka dan mau membantu ketika ia menemukan kesulitan. “Belajar di UMM sangat seru, apalago dosen di sini cukup ramah dan menyennagkan. Orang-orang di sini juga baik sekali. Saya sering mengobrol bersama teman-teman di kos. Mereka tidak membeda-bedakan ras, bahasa dan lainnya. Saya bersyukur bisa belajar di Indonesia, khususnya kota ini,” pungkasnya. (auul/wil)
Perjuangan untuk Beribadah Mahasiswa UMM di Hungaria

Dipaksa mandiri di negeri orang, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini jalani pertukaran pelajar ke Universitas Szeged, Hongaria. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI) bernama Indah Febriana As’ari Putri ini mengikuti program International Student Mobility Award (IISMA) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek). Program ini berlangsung selama lima bulan dari September 2022 sampai Januari 2023 lalu. Indah sapaannya menceritakan bahwa perjalanannya ke negara eropa ini merupakan kali pertamanya merantau. Hidup jauh dari orang tua membuatnya harus beradaptasi dengan budaya serta lingkungan baru. Hal itu membuatnya tidak nyaman selama dua minggu pertama. Ia bahkan hanya memakan mie instan, nasi, serta telur di hari-hari awal menjalani program pertukaran pelajar ke Hungaria. “Penganut Islam di Hungaria sangat minoritas. Beberapa restoran sebenarnya menjual makanan halal seperti daging ayam, ikan, dan lain sebagainya. Namun di dalam bahan masakan mereka masih menggunakan minyak babi. Oleh karena itu, alternatif satu-satunya adalah memasak. Masalahnya saya tidak pernah memasak, jadi saya hanya makan mie instan selama dua minggu pertama. Setelah itu, saya lambat laun mulai belajar memasak dengan menggunakan resep dari internet,” ujar mahasiswa angkatan 2020 itu. Selain kesusahan mengakses makanan halal, Indah juga mengatakan bahwa akses ke tempat ibadah dan masjid sangat minim. Sebenarnya pihak kampus telah menyediakan musala bagi para mahasiswa, namun hanya dibuka saat waktu-waktu ibadah saja. “Saya harus menyesuaikan jadwal kuliah dengan jadwal salat lima waktu. Kadang jika waktu salat telah lewat dan musala tutup, saya melaksanakan solat di tangga darurat. Saya juga kerap salat di ruang ganti yang ada di mall,” ungkap mahasiswa asal Malang tersebut. Meskipun adaptasinya sangat berat, Indah mengatakan bahwa pengalamannya melakukan pertukaran pelajar ke Universitas Szeged ini memberikan pengalaman yang berharga. Selain memaksanya untuk menjadi mandiri, dengan mengikuti program ini ia juga menjadi lebih tahu mengenai kebudayaan serta adat istiadat dari negara lain. “Salah satu hal yang membuat saya takjub selama di Hongaria adalah Gereja Candlemas. Bangunan gereja ini awalnya merupakan masjid di zaman kesultanan Utsmaniyah lalu dialihfungsikan menjadi gereja pada tahun 1702. Ornamen luarnya masih tampak seperti masjid dengan atap kubahnya, sementara bagian dalamnya bercorak gereja katolik yang kental. Kesempatan mengikuti program IISMA ini merupakan pengalaman yang tak kan terlupakan bagi saya,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)