UMM Talks Bahas Jahatnya Insecure bagi Perkembangan Karir

Seiring berkembangnya teknologi informasi, kini ruang ekspresi tidak lagi dibatasi. Sayangnya, hal tersebut menimbulkan efek negatif, termasuk suka membandingkan diri dengan orang lain. Sehingga muncul rasa rendah diri dan insecure. Hal tersebut kembali dibahas dalam UMM Talks Episode 22 yang mengangkat tema “Jahatnya Insecure untuk Pengembangan Karir Masa Depanmu” bersama Devina Andiany, M.Psi, seorang psikolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara ini telah tayang pada 10 Februari lalu di platform YouTube UMM Campus. Devina, sapaan akrbnya, menjelaskan bahwa ada tiga penyebab utama orang merasa insecure. Pertama, yaitu pengalaman ketika dicampakkan dalam suatu fenomena. Sehingga berefek pada rasa percaya diri yang berkurang seiring berjalannya waktu. Kedua, kondisi sosial atau lingkungan sehari-hari yang terus memberikan tekanan yang tinggi. Kemudian yang ketiga berasal dari diri sendiri, yakni perasaan perfeksionis yang berlebih. “Tiga faktor itu menjadi hal yang paling sering dialami oleh anak-anak muda saat ini. Apalagi ditambah dengan pikiran membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Mereka malah akan sulit berkembang karena kecemasan yang berlebih,” katanya. Lebih spesifik, ia menjelaskan bahwa faktor lingkungan terutama keluarga dapat menjadi dua mata pisau. Keluarga bisa menjadi support sistem maupun sumber tekanan bagi individu. Keluarga selayaknya harus menjadi tempat pulang bagi anaknya, baik dalam keadaan susah maupun senang. Keluarga juga harus menjadi tempat di mana anggota keluarga dapat bercerita, khususnya anak. Sayangnya, tak jarang anak enggan pulang karena saat pulang malah mendapatkan tekanan. Pun dengan ucapan yang membandingkan sang anak dengan orang lain. Disampaikan Devina, pada dasarnya insecure merupakan hal yang normal ketika melihat kondisi orang lain. Tidak selalu dipandang negatif selama tidak berlebihan dan menjadi bahan evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Perempuan yang juga dosen Psikologi UMM ini memaparkan bahwa dalam mengendalikan rasa insecure bisa dimulai dari diri sendiri. Hal itu dikarenakan yang mampu mengubah rasa negarif ke hal positif adalah diri kita sendiri. “Kita juga bisa membantu mereka yang insecure dengan mendengarkan keluh kesah dan segala cerita yang teman ingin sampaikan. Meski remeh, tapi hal itu bisa membantu mereka untuk melepaskan kecemasan yang berlebih,” tegasnya mengakhiri. (haq/wil)

Ini Alumnus UMM yang Sukses jadi Entrepreneur dan Komisaris Perusahaan BUMN

Ali Muthohirin adalah salah satu alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan karir entreprenuer dan pergerakan yang apik. Ali, sapaannya kini tengah menjabat sebagai komisaris independen Adhi Persada Beton. Di samping itu, ia juga memiliki sederet usaha kuliner dan properti. “Motivasi terbesar yang membuat saya di berada si titik ini adalah berbagi kemanfaatan ke sesama,” jelasnya. Usaha yang ia bangun berawal dari niat mulia untuk memberikan lapangan kerja para mahasiswa. Ia yang dulu kesulitan biaya untuk kulia,h tidak ingin orang lain merasakan hal yang serupa. Maka dari itu, munculah berbagai ide usaha yang ia buka. Salah satunya yakni usaha kuliner yang bernama Sambal Genit Resto. Selain mempekerjakan mahasiswa, tarif yang ia tawarkan juga terjangkau. Sehingga para perantau tidak perlu merogoh kocek yang terlalu dalam dan bisa menggunakannya untuk keperlun lain. Pun dengan bisnis properti yang ia bangun. Tidak hanya satu, tapi dua usaha yakni Mangkujoyo Property dan Maharaya Property. Keduanya menjadi bekal Ali untuk menjadi pribadi mandiri dan bertekad membantu sesama. “Biasanya anak-anak mahasiswa kan sering diskusi dengan saya. Dulu, saya hanya bisa kasih masukan saja. Tapi dengan memberikan jalan keluar dan bantuan secara materiil tentu akan lebih bermanfaat buat mereka,” katanya. Ali, begitu ia kerap disapa, juga getol untuk turun ke ruang-ruang publik dan politik. Bahkan ia telah aktif di organisasi pergerakan sejak duduk di bangku sekolah dan kuliah. “Keputusan saya untuk terjun ke ruang publik berawal dari pikiran bahwa anak muda tidak seharusnya menjadi generasi yang hanya bisa mencerca. Tapi juga harus berkontribusi dan berperan dalam mengambil kebijakan di ranah publik,” kata pria kelahiran Gresik itu. Ditanya mengenai inspirasinya, Ali menyebut nama Moeslim Abdurrahman, seorang intelektual yang juga turut berkontribusi di ranah publik. Ali yang dulu awalnya hanya terjun di dunia intelektual, akhirnya tergerak untuk terjun langsung. Berupaya agar bisa menjadi pihak yang mengambil kebijakan untuk kemanfaatan bersama. Ia bercerita bahwa sejak dulu dirinya memang aktif di wadah-wadah diskusi ilmiah seperti Jenesys, Young Political Leader, PPUT, hingga Tadarus Pemikiran Islam. “Saat tahu sosok Moeslim Abdurahman inilah, saya ingin mengikuti jejaknya. Menjadi cendekiawan sekaligus masuk di dunia politik. Harus bisa dirangkul bersama atau disinergikan,” katanya. Ali juga sempat memberikan pesan bagi para anak muda Indonesia. Di antaranya keikhlasan untuk menebar manfaat dan memiliki tujuan yang jelas serta menggapainya dengan konsistensi. Di samping itu harus mengasah passion masing-masing agar bisa sukses. “Tiap anak muda harus punya tujuan sendiri-sendiri. Ada yang fokus di entrepreneur, ada yang di politik, menjadi akademisi dan lainnya. Hal itu harus dimaksimalkan karena kita adalah masa depan Indonesia. Apalagi anak muda juga memiliki persentase cukup besar dalam aspek hak pilih dalam pemilu nanti, yakni sekitar 40 persenan,” tegasnya mengakhiri. (wil)