Fitness dan Gym Tanpa Personal Trainer? Begini Kata Dosen UMM

Olahraga fitness dan gym menjadi primadona belakangan ini. Selain bermanfaat untuk kesehatan, olahraga satu ini banyak diminati karena memberikan hasil yang siginifikan dalam membentuk tubuh. Bagi pemula, biasanya akan direkomendasikan menggunakan Personal Trainer (PT) untuk awal latihan. Sayangnya, harga pendampingan PT yang mahal membuat banyak orang akhirnya memilih untuk melakukan fitness sendiri. Kaprodi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph,D. meyampaikan bahwa hal ini tidak disarankan. Fitness dan gym memang memerlukan trainer untuk mengurangi kemungkinan cedera. Adapun fitness dan gym berbeda. Gym merupakan latihan menggunakan beban, sementara fitness lebih pada kebugaran yang dapat dilakukan tanpa beban. Walau ada perbedaan signifikan antara keduanya, namun tetap saja fitness membutuhkan PT terutama bagi pemula. “Personal trainer disini dapat membantu untuk memberikan pemahaman mengenai manfaat dan tujuan, pemberian dosis latihan dan resiko cedera yang kemungkinan terjadi. Pun dengan penanganan awal jika sewaktu-waktu terkena cedera,” jelasnya. Salah satu resiko cedera yang terjadi bagi pemula fitness dan gym tanpa PT adalah delayed onset muscle soreness (DOMS). Yaitu munculnya rasa nyeri setelah melakukan latihan. Ini biasanya terjadi 12-24 jam setelah berolahraga. Resiko cedera tersebut rentan terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai repetisi dan beban sesuai batas kemampuan. Apalagi biasanya pemula tidak sabar untuk bisa segera mendapatkan tubuh yang ideal hingga akhirnya memaksakan diri. “Fitness sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun dengan rentan usia berapapun. Bahkan lebih baik sudah dilakukan sejak masih kanak-kanak. Seperti yang kita ketahui, anak-anak sekarang lekat dengan teknologi yang membuat aktivitas fisiknya berkurang drastis,” tutur Dimas. Hal yang sama juga terjadi pada orang dewasa. Banyak masyarakat yang merasa telah cukup berolahraga lantaran aktivitas fisiknya tinggi. Sayangnya, persepsi tersebut tidak benar karena tubuh manusia membutuhkan maintenance yang jelas dan fitness memberikannya dengan baik. “Sedikit pesan untuk tenaga kesehatan maupun mahasiswa kesehatan. Tugas kita adalah memberikan edukasi ke masyarakat terkait hal mana yang salah dan mana yang benar dalam kesehatan. Sehingga kesalahpahaman tidak terjadi dan mereka sadar untuk menjaga kebugaran tubuhnya,” pungkasnya. (nia/wil)
Mahasiswa Kesos UMM Berdayakan Janda Desa Pandansari lewat Program PHP

Mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jalankan program Perempuan Hebat Pandansari (PHP) di Desa Pandansari. Mereka menggaet para perempuan rawan sosial dan ekonomi (PRSE) dan janda di sana selama satu bulan sejak awal Maret 2023 lalu. Salah satu pelatihannya yakni terkait pembuatan kue mochi. Terhitung ada puluhan peserta dari tujuh dusun yang berpartisipasi aktif. Koordinator tim Enggar Hikmatul menjelaskan bahwa sebagian besar PRSE di Desa Pandansari adalah mereka yang ditinggal suaminya. Timnya mencoba memberikan pelatihan skill agar para janda ini bisa lebih mandiri melalui pengolahan mochi. “Mochi dipilih karena melihat salah satu potensi Desa Pandansari, yakni susu sapi dan durian. Susu adalah bahan utama dalam pembuatan mochi, makanya kami menilai bahwa mochi akan sangat cocok dikembangkan di sini. Ditambah dengan durian yang bisa dijadikan isiannya,” jelasnya. Tidak hanya pengolahan, para janda juga diajari terkait branding produk. Hal itu agar mereka bisa sekaligus mencari dan mengembangkan pasar mochi yang sedang digeluti. Menurut Enggar, upaya timnya tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan bagi para janda saja, tapi juga menggerakkan masyarakat untuk mengembangkan potensi yang ada. Jika berlangsung dengan baik, usaha pembuatan mochi ini akan mampu mencapai pasar yang luas. Kegiatan PHP ini disambut baik oleh pemerintah desa. Salah satunya Kepala Desa Pandansari, bambang Riyanto. Ia sangat mengapresiasi dan antusias akan program tersebut. Apalagi sangat jarang ada program yang memberdayakan perempuan untuk berkarya. “Ini adalah kegiatan yang kreatif. Selain mendorong dan memacu para janda untuk terus berkarya dan menghidupi keluarga, aktivitas ini juga membuat mereka mendapatkan skill baru yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya,” tambahnya. Bambang, begitu ia kerap disapamenilai, jika produk ini bisa dikembangkan dan dilakukan secara kontinyu, ia yakin mochi buatan Desa Pandansari dapat dikenal oleh masyarakat luas. “Semoga dengan diadakannya pelatihan ini, dapat menggugah inovasi para masyarakat. Khususnya ibu-ibu muda dan PRSE,” ujarnya. Nanik, salah satu peserta, juga senang bisa turut aktif dalam pelatihan pembuatan produk mochi. Ada banyak pengetahuan yang ia dapat, baik itu proses pembuatan mochi maupun cara memasarkannya. Ia berencana untuk mendalami pengembangan mochi dan akan membuka usaha sendiri. Dengan begitu ia juga turut membuka lapangan kerja bagi warga desa. “Sebenarnya, pembuatan kue mochi ini sangat mudah dan tidak ribet. Bahannya juga mudah didapatkan di toko-toko terdekat,” ungkapnya mengakhiri. (*/wil)
PBA UMM Semarakkan Pembelajaran Bahasa Arab lewat Alepo

Festival mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini hadir lebih menarik. Menjadi tahun ke enam diadakan, Al-arabiya Festival Expo (Alepo) dilangsungkan pada 6-9 Maret 2023 dan diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua Pelaksana, Muhammad Zarfan Yamin menilai bahwa festival ini bukan hanya menyelenggarakan lomba, tapi juga menghadirkan sederet pembicara. Sehingga diharapkan Alepo mampu menjadi wadah kolaborasi untuk mendalami Bahasa Arab. Pun dengan meningkatkan semangat serta minat dalam pengembangan bahasa terkait. “Nama Alepo terinspirasi dari sebuah kota yang bernama serupa di Suriah. Kota ini memiliki sejarah tinggi dan kecemerlangan yang bisa dijadikan inspirasi. Apalagi dulu, kota ini juga telah mencapai kemaayhuran dan kemakmuran dalam bidang seni, ilmu pengetahuan dan sejarah Arab. Maka digarpakan festival ini juga menghasilkan hal yang sama,” tegasnya. Sederet acara yang ada di Alepo di antaranya talkshow, lomba tingkat pelajar hingga kompetisi antar mahasiswa di berbagai cabang lomba. Para peserta bersaing di beberapa cabang menarik seperti lomba debat bahasa arab, olimpiade bahasa arab, puisi, pidato, menyanyi hingga komentator yang suanya berlangaung dalam bahasa Arab. Lebih dari 270-an peserta memperebutkan juara. Adalun festival tahun ini mengambil tema visual yng lebih trendi. Yakni dengan menerapkan tema classic retro yang naik turun. Diharapkan, visual ini bisa lebih menyemarakkan lomba dan festival terkait. Menarikny, ada juga bazar yang menyediakan berbagai makanan karya anak-anak mahasiswa. Sehingga mereka bisa belajar berwirausaha dan mengembangkan jualannya. Meski menggunakan istilah festival dan kompetisi, panitia juga mengalokasikan waktu untuk hiburan. Seperti menghadirkan stand up comedian, Fajar Mukti dan Wawan Saktiawan dalam comedy show di akhir kegiatan. “Semoga Alepo dapat mengubah mindset belajar bahasa Arab yang seringkali dianggap sulit. Padahal belajar bahasa arab itu asyik, kekinian, dan bermanfaat. Kami juga berharap festival tahunan ini bisa mengharumkan nama besar PBA di kancah nasional, bahkan juga internasional,” pungkasnya. (*zak/wil)