Merekonstruksi Subak Bali, Pemkab Tabanan Gandeng UMM

Demi menjaga kelestarian warisan budaya Subak di Bali, Pemerintah Kabupaten Tabanan menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengembangkannya. Bahkan Kampus Putih UMM telah mengirimkan tim survei penguatan pengelolaan Subak berkelanjutan pada 7-13 Mei lalu ke Tabanan. Adapun Subak dikenal sebagai organisasi wadah bermusyawarah para petani untuk mengatur sistem tata kelola pengairan pertanian di Bali. Masyarakat Bali meyakini, tanpa campur tangan Subak, sistem pembibitan dan produk pertanian tidak akan maksimal. Menariknya, Subak yang ada sejak abad ke 9 Masehi itu telah diakui oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), tepatnya pada 29 Juni 2021 lalu. Sayangnya, peran Subak terus berkurang akibat pengaruh global. Sehingga tatakelola pertanian dan irigasi seringkali kurang mendapat perhatian. “Maka, UMM dan Pemkab Tabanan bekerjasama untuk merekonstruksi Subak yang ada. Apalagi pertanian merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Tabanan, Bali,” jelas Bupati Tabanan I Komang Sanjaya. Ia juga merasa senang dan mengapresiasi adanya diskusi dengan para ahli UMM. Bahkan pihaknya siap membuka kerjasama-kerjasama lain. Tidak hanya di sektor pertanian tapi juga sektor strategis lainnya. Selama ini, UMM melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) telah banyak bekerja sama dengan sederet Kepala Daerah. Utamanya untuk berkontribusi nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan Pemkab Bondowoso misalnya, Tim UMM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP, telah berhasil mendampingi kelompok tani padi tradisional yang kini beralih ke pertanian organik. Hingga saat ini, ada lebih dari 164 hektar sawah yang telah bersertifikat pertanian organik. Di samping itu, ada dua sektor yang dikembangkan bersama Pemkab Jember. Yakni mandiri pangan melalui program budidaya pertanian organik dan mandiri energi yang berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hal serupa juga sudah dilakukan di banyak daerah, baik kabupaten maupun kota. Ditemui secara terpisah, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa UMM harus menjadi lembaga problem solver atas persoalan yang terjadi di masyarakat. Hal itu tak lepas dari realitas bahwa UMM merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem masyarakat. “Fardu ain hukumnya bagi UMM untuk memberikan solusi atas persoalan masyarakat. Tidak ada alasan bagi UMM untuk tidak berkotnribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tukasnya. Lebih jauh, Fauzan mengungkapkan bahwa di era yang serba cepat, perlu kemampuan berpikir cepat dan ebrtindak antisipatif. Maka dari itu, UMM juga telah menjalankan program Center of Excellence (CoE) yang menjawab persoalan pengangguran di Indonesia. Termasuk di dalamnya sektor-sektor riil seperti pangan, energi, pendidikan, sosial dan lainnya. Kampus Putih juga memiliki progra P3M yang terdiri dari para dosen dengan berbagai keahlian yang mumpuni. (Wil)

Ini kata Dosen Psikologi UMM Soal Hilangnya Semangat Gara-gara Putus Cinta

Saat mengalami putus cinta, seseorang biasanya merasa malas melakukan berbagai hal. Termasuk bekerja maupun belajar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ibnu Sutoko, S.Psi., M.Psi memberikan penjelasannya. Menurutnya, cinta merupakan salah satu kebutuhan psikologis manusia. Maka dari itu, banyak tokoh psikologi yang mengatakan bahwa cinta dan kasih sayang merupakan suatu kebutuhan yang harus terpenuhi. Ketika seseorang kehilangan suatu kebutuhan di dalam dirinya, maka ini dapat menyebabkan seseorang menjadi malas. Keadaan tidak bersemangat ini berhubungan dengan kebutuhan afeksi. Jika tidak segera diatasi dengan benar, maka hal ini akan berdampak serius. Seperti munculnya stres yang menyebabkan banyak pikiran, susah tidur hingga tidak berselera makan. “Ketika fenomena itu tidak ditangani dengan baik, maka akan berubah menjadi sebuah depresi. Mood seseorang juga akan cenderung menjadi negatif, sering menangis, dan keinginan untuk bersosial menurun. Hal ini tentu dapat berdampak buruk pada kehidupan sehari-hari,” tambahnya. Ibnu, begitu ia kerap disapa, menyampaikan bahwa orang yang patah hati harus segera mengidentifikasi emosi yang dirasakan and mengukur kesedihan. Biasanya, mereka yang larut dalam kesedihan adalah mereka yang tidak mampu mengeluarkan emosi atau salah memilih solusi dalam permasalahannya. “Karenanya, jika ada masalah, coba untuk bercerita pada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang tepat untuk mengeluarkan emosi kita. Setelah menyalurkan emosi yang dipendam secara verbal, langkah selanjutnya adalah melakukan hal-hal yang positif sebagai pengalihan atas emosi negatif yang dialami ketika putus cinta. Kemudian perlahan emosi negatif akan menghilang. Namun, perlu dicatat bahwa upaya ini harus dibarengi dengan penyelesaian masalah,” katanya. Ibnu juga mengeaskan bahwa melupakan kenangan yang sudah terjadi akan sangat sulit. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menerika kesedihan coba untuk menerima kesedihan tersebut. Dengan demikian, diri akan merasa lebih lega dengan keadaan. “Kemudian cobalah untuk kembali memulai kehidupan nyata. Menjalani hari agar kehidupan bisa kembali ke jalur yang tepat. Misalnya dengan kembali menikmait hobi atau mencoba mencapai target,” katanya. Ia juga mewanti-wanti agar mereka yang putus cinta tidak melakukan hal negatif saat sedih. Kalaupun segala upaya sudah dilakukan, namun belum ada perubahan, ia menyarankan agar mereka mendatangi tenaga profesional seperti psikolog untuk membantu. (Fat/Wil)