Pengusaha asal Makau Beri 40 Beasiswa S2 dan S3 bagi Sivitas Akademika UMM

Kerja keras dan tekun adalah kunci menggapai kesuksesan. Hal itu juga yang dirasakan dan diceritakan President Director OBOR Education Foundation, Soe To Tie Lin di depan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun gelaran wisuda tersebut dilaksanakan pada 23 Mei 2023 lalu. John, sapaan akrab Soe To Tie Lin, sehari-hari menjalankan berbagai bisnis dan beraktivitas di Makau, Tiongkok. Ia juga merupakan president commisioner PT. Sunindo Pratama yang bergerak di bidang minyak dan gas. Selain itu, menduduki jabatan president director One Belt One Road (OBOR) Scholarship. Maksud kedatangannya ke UMM adalah untuk memperkenalkan beasiswa OBOR yang memungkinkan sivitas akademika Indonesia untuk melanjutkan studi ke Tiongkok. Bahkan ia juga menyiapkan 40 beasiswa master dan doktoral untuk melanjutkan studi di Tiongkok bagi sivitas akademika Kampus Putih. Lebih lanjut, ia juga bercerita bagaimana proses yang harus dia lakoni hingga bisa mencapai titik sekarang. Menurutnya, para lulusan harus tahu dan mempelajari skill yang jarang dimiliki banyak orang. Sehingga akna banyak pihak yang mencari dan berebut mendapatkan sumber daya manusia yang menguasa skill itu. “Jangan lupa untuk menjadi pribadi yang berintegritas agar dapat mendapatkan reputasi yang baik sepanjang merinstis karir,” tegas pengusaha besar asal kota Makau, Tiongkok, itu. Penguasaan teknologi juga menjadi hal yang semestinya dimiliki oleh wisudawan. Tidak hanya tahu, tapi juga memanfaatkannya dengan baik. Pun dengan keterampilan manajemen dan observasi. Para lulusan juga tidak boleh takut untuk merangkul resiko dan membuat keputusan penting. “Jangan mudah tergoda dengan berbagai hal di dunia ini. Fokus dengan tujuan anda dan pastikan bisa mencapainya,” pesan John. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa kedatangan John ke Kampus Putih memiliki misi khusus. Salah satunya yakni bekerjasama dan mengimplementasikan perusahaannya dengan UMM. Dengan begitu, akan ada berbagai manfaat yang timbul berkat kolaborasi keduanya. Fauzan juga mengatakan, menjadi seorang sarjana merupakan awal dari kehidupan membangun karir di masa depan. Maka dari itu, UMM sudah menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi SDM unggul melalui Center of Excellence (CoE). Program ini didasari oleh satu pemikiran strategis dan futuristik, yakni realita bahwa tahun 2025-2038 Indonesia akan berada di fase bonus demografi. Di mana, penduduk Indonesia dengan angka usia produktif memiliki jumlah yang jauh lebih besar ketimbang non-produktif.  Yakni mencapai 73% berbanding  kurang dari 24%. “UMM tidak ingin fase bonus demografi yang dimiliki Indonesia malah menjadi malapetaka. Maka CoE hadir untuk membekali mahasiswa, menyiapkan diri untuk bisa bersaing di dunia kerja serta memiliki jiwa yang mandiri,” kata Fauzan. (ri/wil)

Jadi Ojol hingga Buka Bisnis Udang, Ini Kisah Inspiratif Wisudawan Berprestasi UMM

Pernah menjadi driver ojek online (ojol) hingga bercita-cita menjadi pelopor bisnis udang di Bojonegoro. Proses itulah yang sudah dialami oleh salah satu lulusan berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Agill Thevany. Adapun bisnis udangnya merupakan hasil dari penerapan program kelas keahlian Center of Excellence (CoE) budidaya Udang, yang menjadi implementasi nyata program pemerintah yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mahasiswa Prodi Akuakultur itu bahkan berhasil menyelesaikan studi sarjananya dengan Indeks Prestasi Kumulatif sangat memuaskan. Agill, sapaan akrabnya, mengatakan alasannya menjadi driver ojol untuk menambah uang saku. Selain itu juga berupaya meringankan beban orang tua dalam membiayai dirinya hidup di Malang. “Jadi ojol itu sebenarnya sudah saya lakoni dari sebelum kuliah. Kebetulan dulu ada waktu luang sembari menunggu hasil pengumuman masuk kuliah. Apalagi beberapa kali saya butuh uang sehingga saya coba mendaftar menjadi ojol. Alhamdulillah diterima dan saya teruskan saat menjadi mahasiswa,” ungkap Agill. Lebih lanjut, pemuda asal Bojonegoro itu juga memiliki ketertarikan mengembangkan budidaya udang di kota asalnya. Apalahi komoditas udang di Bojonegoro sangat jarang, bahkan mungkin tidak ada. Dari situlah ia melihat peluang besar yang bisa ia gali. Apalagi ia sempat diarahkan prodi Akuakultur UMM untuk magang di perusahaan tambak udang yang besar. Menurutnya, selama magang itulah ia bisa tahu banyak hal terkait bisnis udang. Ia diajari proses awal persiapan hingga akhirnya bisa memanen. “Saya jadi tahu banyak jenis udang serta jenis apa saja yang bagus untuk dijual. Dari pengalaman dan ilmu itulah, saya merintis usaha di dekat rumah saya Bojonegoro,” jelasnya. Adapun budidaya udang yang ia tekuni tergolong baru. Ia baru sekali memanen udang yang ia budidaya dan cukup menguntungkan. Apalagi di daerahnya, harga udang di pasar mencapai Rp60.000 untuk satu kilonya. “Saya cukup beruntung karena orang tua selalu mendukung apapun keinginan saya, termasuk untuk usaha budidaya udang ini. Sejauh ini sudah ada empat kolam udang di rumah. Adapun jenis udang yang saya kembangkan adalah vaname, karena memiliki usia budidaya yang lebih rendah, pertumbuhan lebih cepat, dan lebih kuat terhadap penyakit,” terang Agill. Terakhir, pemuda kelahiran 2001 itu berharap ilmu yang didapat di bangku kuliah tidak  hanya menjadi angin lalu. Namun mampu mendorongnya untuk bermanfaat bagi sesama. Paling tidak ke orang-orang terdekat di kampungnya. “Semoga usaha udang saya ini semakin maju, sehingga saya bsia membuka lapangan pekerjaan dan membantu sesama. Sarjana tidak harus selalu bekerja di kantor atau gedung tinggi, tapi juga bisa membangun daerahnya menjadi lebih baik. Sekalipun perubahan yang dibuat berada dalam lingkup yang kecil,” pungkasnya. (zak/wil)