Pakar Kesejahteraan Sosial UMM Beberkan Solusi Permasalah Pekerja Sosial

Berbagai masalah dihadapi oleh praktek pekerja sosial, terutama dalam perspektif suku-suku pribumi di Malaysia. Hal itu disampaikan oleh Prof. Madya Dr. Khadijah Alavi asal Malaysia pada kuliah tamu prodi Kesejahteraaan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pertengahan Juni Ini. Selain Khadijah, hadir sebagai pembicara profesor asal Malaysia pula Prof. Madya Dr. Zahara Abdul Manaf dan Dr. Rinikso Kartono. M.Si. Lebih lanjut, ia menjelaskan sederet masalah yang terjadi. Mulai dari aspek pendidikan dan kesehatan, hingga isu konflik utama yakni diskriminasi kekerasan. Melihat banyaknya problem yang terjadi, ia memberikan solusi bagi pekerja sosial agar bisa mencegah konflik dan memebrik dukungan. Utamanya bagi kefungsian sosial masyarakat pribumi berdasarkan temuan antropologis. “Tiga perkara penting yang harus dimiliki yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Kita harus paham budaya pribumi. Pekerja sosial harus mengesampingkan prasangka tentang agama, ras, sosial, ekonomi dan status kelas. Dengan begitu, mereka akan mau menghargai sistem nilai hidup walaupun berbenturan dengan nili yang mereka pegang teguh,” katanya. Adapun kuliah tamu ini mengusung tema “Social Work Practice In Indigenous Perspective”. Para pemateri mencoba membahas khusus tentang permasalahan sosial yang dialami oleh masyarakat pribumi. Sementara itu, Zahara menyampaikan isu-isu kesehatan sosial. Misalnya saja terkait stunting dan obesitas yang terfokus pada anak-anak suku pribumi. Menurutnya faktor penyebab kurangnya gizi pada anak salah satunya karena masalah sosial seperti kemiskinan, kurangnya pengetahuan tentang gizi, perubahan iklim dan faktor lingkungan. Di samping itu juga terbatasnya layanan kesehatan menjadi tantangan yang harus segera diatasi. Pun dengan praktik budaya dan keyakinan adat yang juga menjadi salah satu alasannya. “Maka dari itu, penanganan kurang gizi memerlukan pendekatan multi-aspek yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Namun pemerintah juga harus banyak mempertimbangkan konteks budaya yang unik dan melibatkan komunitas orang asli dalam merancang intervensi yang sesuai budaya, berkelanjutan, dan memberdayakan,” tandasnya. Di sisi lain, Rinikso memberikan penjelasan ciri profesi pekerjaan sosial dalam menangani masalah pribumi dalam pelayanannya. Ada sederet hal yang ia sebutkan. Mulai dari integrasi tradisi lokal, intervensi bantuan lokal ke dalam praktik kerja sosial arus utama (dukun, kepala desa) juga adaptasi pendekatan arus utama agar sesuai dengan konteks (batasan) lokal. “Sumber utama pengetahuan untuk praktek ekologi dan kebijaksanaan itu ada banyak. Seperti menghasilkan model pengetahuan dan praktik dari bawah ke atas, berdasarkan nilai, kepercayaan, adat istiadat dan norma budaya praktik pertolongan local. Pun dengan model Sarawak dan budaya lokal,” pungkasnya. (Nel/Wil)
Dorong Ekosistem Halal, UMM Gelar Pelatihan Juleha Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi pelopor bidang halal. kali ini Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM (PSP3-Halal) mengadakan Pelatihan dan Sertifikasi Juru Sembelih Halal (Juleha). Setidaknya acara ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pelatihan ini juga menyediakan praktik langsung menyembelih tiga ekor kambing, lima ekor Ayam, serta lima ekor bebek secara syar’i. Kegiatan ini juga dilakukan mengingat momen Idhul Adha yang akan segera datang. Pun sebagai langkah PSP3-Halal UMM dalam mendukung pemerintah Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Sistem Jaminan Halal. oleh Ketua PSP3 Halal UMM, Prof Dr. Elfi Anis Sa’ati, M.P. mengatakan, perlu adanya penekanan betapa pentingnya Juleha. Utamanya yang telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai syarat sebuah Rumah Potong Hewan (RPH). “Kita harus ingat, sesuai arahan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa pada oktober 2024, semua produk makanan yang beredar di pasar harus sudah tersertifikasi halal. Namun kenyataannya masih banyak UMKM yang mengolah daging ayam seperti nugget, sosis, sempol dan lainnya masih belum tersertikiasi halal. Baik di aspek RPH-nya maupun proses produksi di UMKM itu sendiri. Maka Juleha juga menjadi aspek penting yang harus dipenuhi,” katanya. Menariknya, pelatihan Juleha ini bersetifikat dari BNSP. Tujuannya adalah untuk memberikan kompetensi Juru Sembelih Halal guna mendorong naiknya produk halal di Indonesia. Data tahun 2022 menunjukkan, RPH yang memiliki Sertifikat Halal hanya berjumlah 2% dari total seluruh RPH di Indonesia. Hal ini menunjukkan masih minimnya kesadaran halal pada RPH. Hadir pula dalam kesmepatan itu Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Ia bercerita perjalanannya ke berbagai negara. Ia menemukan bahwa banyak negara yang sudah memberi fasilitas bagi umat muslim berupa ketersediaan sertifikasi halal untuk makanan dan restoran. Sehingga, para muslim yang berkunjung merasa aman, nyaman, dan tidak khawatir akan kehalalan suatu produk. “Industri halal telah meengglobal di seluruh dunia. Bukan hanya terbatas di negara-negara Islam, namun juga di berbagai negara islam minoritas. Sebut saja Jepang dan Korea yang sudah mulai menerapkan sertifikasi halal,” ungkapnya. Syamsul juga berpesan kepada seluruh epserta Juleha untuk benar-benar memperhatikan berbagai langkah yang diajarkan. Utamanya terkait dengan alur penyembelihan hewan. “Outputnya tentu agar bisa memberikan perhatian lebih pada kualitas kehalalan makanan. Khususnya pada aspek cara menyembelih hewan yang syar’i,” pesannya. (Faq/Wil)