Jaga Lingkungan Tetap Aman, UMM Selenggarakan Kurban dengan Green dan Halal

Dalam rangka menjaga lingkungan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan kurban dengan konsep Green and Halal Kurban. Hal ini menjadi upaya Kampus Putih untuk tetap berbagi daging kurban dan tidak mengorbankan aspek kebersihan dan lingkungan. Misalnya saja dengan tidak menggunakan plastik untuk pengemasan, melainkan memakai daun jati, daun pisang dan besek. Adapun jumlah hewan ternak di UMM yang dikurbankan mencapai 59 ekor, terdiri dari 17 ekor sapi, 34 ekor kambing, dan 8 ekor domba. Sebagian dikirim ke titik-titik daerah di Malang Raya dan sebagian disembelih di Kampus pada 28-29 Juni. Dosen Peternakan UMM, Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt. menjelaskan bahwa green dan halal di sini tidak hanya dilaksanakan pada saat penyembelihan saja. Ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan jauh sebelum Idul Adha. Diawali dengan pemilihan tempat pembelian ternak yang sudah memenuhi standar kesejahteraan hewan atau animal welfare. “Dengan begitu, kita bisa mendapatkan hewan yang tidak stress. Sehingga tidak mudah memberontak dan lepas yang mana pada akhirnya memudahkan kami untuk menyembelih. Daging yang diperoleh juga minim memar, merah segar, dan lebih bagus,” katanya. Hal lain yang perlu diperhatikan dari Green dan Halal Kurban adalah pemilihan hewan ternak yang sudah divaksin, baik vaksin LSD maupun penyakit mulut dan kaki. Pun dengan pengecekan secara fisiologis yakni memilih yang berdaging, gemuk dan cukup umur. Semua proses tersebut dilakukan langsung oleh sederet dokter hewan yang dimiliki UMM, salah satunya Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, MS. Ali, begitu ia kerap disapa, juga menekankan terkait tempat pemotongan dan juga lubang untuk darah. Dalam pelaksanaan green kurban, darah dan kotoran harus dipendam ke dalam tanah dan tidak boleh dibuang melalui sungai karena akan mencemari. “Jika dibuang di sungai,  takutnya nanti ternyata ada histori penyakit dari sapi, kemudina menyebar ke tempat lain seperti kebun rumput. Pada akhirnya akan menulari dan menginfeksi hewna ternak lainnya. Selain itu juga dikhawatirkan air yang mengalir di sungai digunakan untuk mencuci maupun minum oleh masyarakat yang ada di hilir,” jelas Ali yang juga menjadi tim kurban UMM. Pengemasan daging dan alat pelindung diri (APD) juga menjadi pertimbangan dalam green kurban. Daging yang sudah dipilih dan dikuliti dikemas menggunakan bungkus ramah lingkungan. Tim kurban UMM menggunakan besek, daun jati, dan bahan alami lainnya. Bahkan kali ini, Kampus Putih tidak menggunakan plastik sama sekali sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan. Berbeda dengan bungkus bahan organik, jika plastik dibuang di tempat sampah, plastik cenderung mengeluarkan bau yang tidak sedap dan dikerubungi oleh lalat. Hingga pada akhirnya muncul belatung yang mengganggu lingkungan. “APD dan jenis pisau juga penting untuk melindungi diri. Di UMM, pisau yang digunakan berbeda-beda tergantung untuk apa. Ada pisau khusus untuk menyembelih hingga pisau untuk boning. Para pnyembelih juga sudah dilatih terlebih dahulu melalui pelatihan juru sembelih halal (Juleha) dari Halal Center UMM beberapa hari lalu,” terang Ali. Terakhir, Ketua Prodi Vokasi Agribisnis Unggas UMM itu berharap konsep green and halal kurban UMM ini bisa menjadi contoh bagi banyak pihak. Sehingga masyarakat ikut melakukan hal yang sama, berkurban dengan memperhatikan kelangsungan lingkungan. Dengan begitu, ibadah Idul Adha tetap jalan, lingkungan juga tetap aman dan nyaman. (Wil)

Ribuan Masyarakat Laksanakan Salat Idul Adha di UMM

Umat muslim harus memahami dengan mendalam nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Hal tersebut ditegaskan Dewan Syariah Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat (PP) Muhamadiyah Dr. H. Ari Anshori, M.Ag. dalam khutbah Idul Adha di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun salat tersebut dilaksanakan pada 28 Juni 2023 dan dihadiri oleh ribuan jamaah. Menurut Anshori, momentum Idul Adha harus dijadikan tempat untuk meningkatkan rasa keikhlasan, saling berbagi dan kebersamaan antar masyarakat. Banyak orang yang tidak sadar bahwa secara tidak langsung hal-hal itu hadir saat momen kurban. “Masyarakat yang sebelumnya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan pribadi seperti bekerja, kini bersatu padu, berkumpul, dan saling gotong royong saat salat id, penyembelihan, hingga proses distribusi daging. Nilai tersirat ini dampak yang besar bagi kondisi sosial masyarakat,” jelasnya. Ia melanjutkan, Idul Adha merupakan hari yang sangat monumental. Mengingatkan umat muslim tentang bagaimana kesediaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail demi ketaatanya akan perintah Allah. Beberapa poin-poin keteladanan yang bisa diambil adalah ketaatan kepada perintah Allah, tabah terhadap takdir Allah, tawakal serta yakin akan ketetapan Allah. Selain itu, sebagai khotib, ia berpesan kepada seluruh jamaah untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Saling merefleksikan diri berdasarkan surat Al-Asr yang menekankan pada pentingnya mengelola waktu. Hal tersebut berdampak kepada hasil yang terlihat, baik di dunia maupun di akhirat kelak. “Allah sudah bersumpah demi waktu dalam surat Al-Asr. Sumpah tersebut bukan hal yang remeh, waktu selalu berjalan dan tidak pernah akan beputar ke belakang. Waktu yang dimaksud juga bukan serta merta waktu di dunia saja, namun juga waktu kelak di akhirat. Mari mengoptimalkannya dengan beribadah kepada Allah,” pesannya. Atas nama pimpinan, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. juga memberikan pengantar. Ia menyampaikan bahwa UMM tidak hanya mengadakan penyembelihan hewan kurban di lingkungan kampus. Tapi juga mendistribusikannya kepada masyarakat luas. Misalnya saja dengan mengirim puluhan hewan ternak ke desa-desa di sekitar Malang Raya. Hal itu menjadi salah satu bentuk dari pengabdian langsung Kampung Putih kepada masyarakat. Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Panitia Idul Kurban UMM, Ary Bachtiar SP., M.Si. Ia menjelaskan bahwa sasaran distribusi hewan ternak tidak terbatas untuk kalangan Muhammadiyah saja, tapi juga masyarakat secara luas. Misalnya saja dengan mengirimkan masing-masing satu sapi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang dan Lapas Kelas I Malang. “Sambutan dari masyarakat juga baik dan mereka bersyukur mendapat perhatian lebih. Tentu salah satu tujuan kami adalah untuk membantu serta menjadi syiar dakwah kami ke masyarakat,” tegasnya mengakhiri. (Faq/Wil)