Mengolah Daging Kurban yang Sehat Ala Dosen Fikes UMM

Idul adha merupakan momen yang banyak ditunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Pada momen itu, banyak muslim yang berkumpul dengan keluarga sembari menikmati olahan daging. Sayangnya, Sebagian masyarakat mengonsumsi daging berlebihan dan membahayakan Kesehatan. Terutama yang sudah berada pada usia rentan dan penyintas penyakit tertentu. Melihat fenomena tersebut Edi Purwanto, S.Kep., Ns. MNg. selaku Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) memberikan berbagai tips bagaimana membuat olahan daging yang sehat saat hari raya. Di Indonesia, hewan yang biasanya disembelih adalah sapi dan kambing. Keduanya memiliki nutrisi yang baik bagi tubuh. Banyak mitos yang beredar bahwa daging kambing jauh lebih tidak sehat dibandingkan daging sapi. Namun Edi membantah hal itu. Menurutnya, kedua daging tersebut sama sama memiliki kandungan nutrisi hewani yang baik dan dibutuhkan oleh tubuh. “Daging sapi dan kambing itu bagus untuk kesehatan, namun akan sangat berbahaya jika dikonsumsi berlebihan apalagi saat momen Idul Adha,” ujarnya mengawali pembicaraan. Kebanyakan masyarakat Indonesia mengolah daging kurban dengan disate. Selain rasanya yang enak, memasak sate juga menumbuhkan kedekatan antar keluarga. Edi menilai bahwa tidak ada batasan usia bagi yang ingin menikmati olahan sate tersebut. Namun yang perlu diperhatikan adalah riwayat penyakit yang diderita seseorang. Apalagi saat ini, penyakit penyakit seperti jantung, tekanan darah rendah bahkan hipertensi bisa menyerang siapa saja. Bukan hanya mereka yang berusia lanjut. “Di era sekarang, penyakit tidak lagi memandang usia tua atau muda. Namun berdasarkan pada kebiasaan dan pola hidup. Oleh karena itu, biasakan hidup sehat sedini mungkin,” pesannya. Menariknya, Edi juga memberikan beberapa tips memasak sate agar lebih sehat. Salah satunya yakni dengan memastikan potongan daging tidak terlalu tebal dan tipis, agar menjamin kematangan dalam dan luar daging. Daging yang belum matang akan menimbulkan efek buruk, karena mengandung bakteri. Daging yang terlalu gosong juga tidak baik bagi kesehatan karena zat karsinogenetik (zat yang dihasilkan dari arang) bisa menyebabkan penyakit kanker. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), angka maksimal konsumsi zat karsinogenetik yakni di angka 5mL/1 Kg daging. Jika ingin menambahkan penyedap rasa, ia menyarankan untuk menggunakan penyedap yang alami seperti bawang-bawangan. “Selain itu, jangan lupa mengombinasikan daging dengan memakan sayur dan buah. Terakhir, tetap memiliki kesadaran dan kontrol atas kesehatan diri sendiri, karena isu kesehatan ini banyak tidak dipedulikan. Padahal akan sangat berdampak bagi keberlangsungan hidup seseorang,” pungkasnya. (lib/wil)
Inovasi Brilian, Tim UMM Manfaatkan Limbah Udang Jadi Penyedap Rasa

Selama ini, limbah udang dibuang begitu saja oleh masyarakat. Bahkan malah mencemari lingkungan sekitar. Berangkat dari fenomena itu, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat terobosan dengan memanfaatkan limbah udang menjadi penyedap rasa. Menariknya, inovasi ini berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Diktiristek. Adapun tim tersebtu terdiri dari para mahasiswa Ekonomi Pembangunan UMM. Ketua tim Rezatullah menjelaskan bahwa inovasi in menjadi upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Tidak hanya itu, tapi juga menambah nilai limbah karena diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat. “Jadi limbahnya diubah menjadi shrimp flavour atau penyedap rasa. Limbah udang itu diperoleh dari proses industri udang. Meliputi bagian-bagian tubuh udang yang tak terpakai seperti kepala, kulit, dan ekor. Tiga bagian ini biasanya dibuang begitu saja oleh pihak industri,” tambahnya. Tidak jarang, limbah udang ini mencemari lingkungan, minimal polusi udara karena seringkali menimbulkan bau yang tidak sedap. Hal itu membuat Rezatullah dan tim semakin bersemangat menghasilkan solusi yang tepat dan akurat. Terkait proses pembuatan, tim Kampus Putih harus melakukan beberapa Langkah. Dimulai dengan mengumpulkan limbah udang terlebih dahulu. Kemudian limbah yang terdiri dari kulit, kepala, dan ekor udang itu dihaluskan dengan menggunakan mesin. Kemudian menghasilkan serbuk halus. “Setelah itu, serbuk tersebut dicampur dengan bumbu dapur dna rempah-rempah. Lalu campuran bahan tersebut dikeringkan dan pada akhirnya dikemas dalam bentuk yang kondisional dan siap digunakan. Kami saat in juga tengah merinstis usaha ini agar bisa digunakan masyarakat luas,” jelasnya lebih lanjut. Keberhasilan itu tidak Reza capaia sendiri. Melainkan berkat kolaborasi dan Kerjasama tim yang terdiri dari Mina Syalafi Mufah, Risda Yanti Fatikasari, Tutut Solikah. Selain itu juga mendapatkan bimbingan, dampingan, dan masukan dari salah satu dosen yakni Mereka dalam menjalankan program ini didampingi dosen pembimbing yakni Setyo Wahyu S, SE, ME. (wil)