Atasi Stunting, Mahasiswa UMM Ciptakan Biskuit Bayi dari Biji Nangka dan Kacang Tunggak

Berdasarkan hasil survei status gizi indonesia (SSGI) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stunting di Indonesia terus menurun di angka 21,6 persen di tahun 2022. Penurunan angka stunting di Indonesia adalah kabar baik, tapi belum berarti sudah bisa membuat tenang. Karena, bila merujuk pada standar WHO terkait prevalensi stunting harus di angka kurang dari 20%. Melihat hal tersebut, kelompok mahasiswa program studi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program kreativitas mahasiswa (PKM) membuat inovasi produk makanan bayi. Makanan tersebut berupa biskuit dari tepung biji nangka dan kacang tunggak. Fakhri Ahmad Wafi, salah satu anggota tim mengatakan masalah utama dari stunting ini adalah kekurangan asupan gizi, termasuk kekurangan protein dan kalori. “Dari banyaknya penelitian yang ada, biji nangka sendiri memang memiliki kandungan karbohidrat. Pun dengan kacang tunggak yang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu 24,4 gram. Kedua bahan itu disubstitusi menjadi tepung yang kemudian kami olah menjadi biskuit,” ungkap Fakhri. Fakhri menambahkan, pemilihan biji nangka ini bukan tanpa sebab. Ia bersama timnya melihat masih banyak limbah biji nangka yang terbuang sia-sia. Fakhri juga menyampaikan target stunting dari timnya merupakan bayi di Indonesia yang berumur 0-6 bulan dan 6-12 bulan yang memasuki MPASI (Makanan Pendamping ASI). “Karena memang fokusnya fokus kami ke bayi, jadi produk yang kami buat berupa biskuit sebagai makanan pendamping asi. Biskuit ini juga bisa diolah menjadi bubur. Selain itu, biskuit sendiri bisa menjadi makanan sekaligus sebagai mainan untuk merangsang motorik pada bayi atau anak-anak. Alhamdulillah PKM-RE yang sedang kami buat telah mendapat pendanaan dari Kemdikbud,” ungkap Fakhri. Lebih lanjut, Mahasiswa asal Surabaya itu menjelaskan tepung biji nangka dan kacang tunggak yang sudah diolah menjadi biskuit, kemudian akan diuji kadar proksimat untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Selain itu juga dilakukan pengujian organoleptik dan terakhir diujikan pada bayi dan ibu yang sedang hamil. “Semoga produk yang kami buat dari PKM-RE ini bisa membantu menurunkan prevalensi stunting di Indonesia, sehingga dapat menciptakan dan melahirkan generasi bangsa yang sehat dari bayi dan ibu yang sehat,” harap Fakhri. Pengembangan produk ini tak luput dari kerjasama anggota tim lainnya diantaranya adalah Herlina Diah ayu Rosita, Zurotun Nasifah, Audina Aura Sarie dan Wahyu Amalia. Selain itu, kelompok mahasiswa teknologi pangan juga mendapatakan dukungan dan bimbingan langsung dari dosen Ilmu Teknologi Pangang (ITP) UMM, Prof. Dr. Ir. Hj. Noor Harini, MS. (*zak/wil)
Larangan Memberi Pengemis Apakah Sudah Tepat? Begini Kata Dosen UMM

Gelandangan dan pengemis atau yang sering kita kenal dengan istilah “gepeng” adalah kelompok masyarakat yang melakukan aktivitas meminta-minta uang pada area umum secara terus menerus. Masyarakat yang menjumpai golongan ini biasanya akan iba dan memberikan uang kepada mereka. Secara sekilas hal ini tidak ada yang salah, namun apa efek jangka panjang bagi struktur sosial yang nantinya terbentuk di masyarakat? Berkaitan dengan hal ini, dosen Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra. Juli Astutik, M. Si memberikan penjelasannya. Menurutnya, pengemis adalah salah satu penyakit sosial dalam struktur masyarakat. Keberadaannya dapat mengganggu ketertiban dan berpotensi menimbulkan tindak kriminalitas. “Dalam perspektif ahli pekerjaan sosial, pengemis merupakan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang akut dan berakar dari persoalan kemiskinan, yaitu Kemiskinan kultural. Di mana kemiskinan ini disebabkan karena mentalitas atau budaya,” jelasnya. Lebih lanjut, Juli, sapaan akrabnya menguraikan bahwa di samping kurangnya akses pendidikan wajib, penyebab kemiskinan ini salah satunya bersumber dari mentalitas dan sikap hidup. Seperti misalnya malas bekerja, boros, dan suka meminta. Oleh karena itu, pengemis mengalami ketidakberfungsian sosial (social disfunction). Di lain sisi, jika dilihat peraturan pemerintah maupun daerah yang mengatur terkait pengemis ini, masih banyak celah yang seharusnya digali lebih dalam. Termasuk mengenai tingkat efektivitas peraturanya agar dapat menyelesaikan akar permasalahan. Contohnya saja, walaupun banyak kota sudah menerapkan larangan memberi uang kepada pengemis, tetapi pelaksanannya masih kurang maksimal. “Memberi pengemis sebenarnya sama saja dengan kita membiarkan mereka (para pengemis.red) terjerumus dan terlena dalam kemalasan dan kemiskinan terus menerus tanpa adanya keinginan untuk menjadi masyarakat yang mandiri dan produktif,” tegas Yuli. Namun, Juli menambahkan, jika dilihat dalam perspektif agama, memberi orang yang tidak mampu merupakan salah satu ibadah yang dinamakan sedekah. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran bersama oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari pemerintah hingga masyarakat untuk fokus memutus akar dari permasalahan. Yakni “ketergantungan” dan “mentalitas” pengemis untuk selalu meminta-minta dan tidak mengusahakan mata pencaharian yang lain. “Pemerintah secara khusus harus mengkaji kembali peraturan yang berfokus pada pengemis itu sendiri. Bukan malah memberikan sanksi denda mateeril kepada pemberi uang. Pemerintah juga harus membuat sistem pemberdayaan pengemis dengan menyediakan wadah yang luas, untuk pengembangan skill dan keahlian yang bisa menghasilkan,” kata Juli mengakhiri. (*lib/wil)
Pimpinan Cabang Aisyiyah UMM Langsungkan Musycab, Dorong Perempuan Jadi Berkemajuan

Di tengah kesibukan menjalankan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, Pimpinan Cabang Aisyiyah Universitas Muhammadiyah Malang (PCA-UMM), tetap melaksanakan sederet amanat organisasi. Salah satunya yakni Musyawarah Cabang Aisyiyah (Musycab) yang ke-4 pada akhir Juni lalu. Adapun PCA UMM merupakan PCA khusus yang dibentuk sejak 2007 lalu. Dr. Vina Salviana selaku ketua panitia penyelenggara, menjelaskan, keterbatasan waktu dan kesibukan sebagai akademisi tidak mengurangi semangat panitia untuk terus bekerja menyiapkan Musycab. Menurutnya, media Whatsapp dan Zoom sangat membantu dalam komunikasi dan koordinasi. Ditambah lagi dengan kegigihan serta kontribusi panitia penyelenggara. Tema menarik diusung pada agenda tersebut, yakni “Perempuan Berkemajuan Mencerahkan Peradaban Bangsa”. Sebagai PCA satu-satunya yang berada di lingkungan kampus, PCA UMM menambahkan sub tema yang diambil dari gabungan empat pilar masyarakat Islam yang unggul dan berkemajuan. Di antaranta beragama yang kuat dan kokoh, memiliki keilmuan yang tinggi, memiliki rasa kemanusiaan yang dalam, dan memiliki rasa spiritualitas yang positif. Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Daerah Kota Malang, Dra. Hj Sri Herawati, menilai, tidak mudah bergerak dan menggerakkan organisasi Aisyiyah ditengah kesibukan sebagai akademisi. Meski begitu, ber-Muhammadiyah dan ber-Aisyiyah harus menyenangkan, sehingga untuk wmemajukan Aisyiyah memang harus menyisihkan waktu bukan menyisakan waktu. Ia juga berharap PCA UMM yang terdiri dari para akademisi, mampu menjadi contoh organisasi yang terstruktur dan sistematis. Selain itu juga mampu menangkap dan mengembangkan program-program Aisyiyah berdasarkan keilmuan sehingga program-tersebut lebih mudah tercapai. Untuk menjadi organisasi PCA yang baik, ketua PDA menekankan pentingnya menanamkan ideologi terus menerus meskipun membutuhkan waktu yang lama. Hal serupa juga disampaikan Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. yang menekankan peran PCA UMM yan menjadi PCA khusus. Mereka harus memunculkan program-program yang jauh lebih baikdan extraordinary. Dengan begitu, PCA UMM bisamenjadi contoh bagi PCA lainnya. (wil)