Kurangi Limbah, Tim UMM Kembangkan Sedotan Berbahan Umbi Porang

Melansir data dari Divers Clean Action, di Indonesia, penggunaan sedotan sekali pakai diperkirakan mencapai lebih dari 93 juta buah setiap harinya. Melihat fenomena tersebut, Tim Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan inovasi sedotan dengan bahan dasar umbi porang yang lebih ramah lingkungan. Ketua tim Almi Sayyidatul Qo’idah mengatakan, tingginya kadar glukomanan pada porang membuatnya mudah larut dalam air. Hal inilah yang membuat mereka memilih umbi praong sebagai bahan utama. “Porang ini unik, dia mudah larut dengan air dan setidaknya membutuhkan 2-3 jam untuk benar-benar larut dengan air, jadi sangat cocok jika digunakan sebagai sedotan sekali pakai,” kata mahasiswi jurusan Psikologi itu. Menariknya, pengembangan sedotan itu tidak serta merta menghilangkan nutrisi yang terkandung pada porang. Namun bisa dikonsumsi usai digunakan sebagai sedotan. Beberapa nutrisi tersebut dapat menstabilkan gula darah, menjaga kestabilan pencernaan, hingga mencegah penyakit kanker. “Pembuatan sedotan ini tidak menghilangkan kandungan yang ada di umbi porang. Jadi masih memiliki efek. Sedotan ini nantinya juga tidak meninggalkan bekas karena mudah larut dalma air serta bisa dikonsumsi,” jelasnya. Adapun proyek dengan tajuk “Softless Edible Straw Multifungsi Berbahan Dasar Umbi Porang (Amorphophallus Muelleri) yang Rendah Glikemik Sebagai Upaya Mengurangi Sampah Plastik” ini berhasil pendanaan program kreativitas mahasiswa (PKM) Kemdikbud-Ristek 2023. Tujuannya adalah untuk meningkatkan komoditas porang di Indonesia. Mengingat Indonesia mampu menghasilkan umbi porang lebih dari 146 ribu ton per tahun. “Adanya inovasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan nilai jual dari umbi porang, banyak petani porang yang mengeluhkan anjloknya harga pada saat musim panen raya,” kata Almi. Adapun saat ini, inovasi sedotan dari umbi porang masih pada proses pengembangan dan trial error. Beberapa langkah yang dilakukan Almi dan tim adalah dengan mengolah umbi porang menjadi tepung terlebih dahulu. Dilanjutkan dengan memberikan pewarna alami dari bahan alam dan mencetaknya menjadi bentuk sedotan dan melakukan pengeringan untuk menghilangkan kadar air pada saat proses pencetakan. Terakhir, Almi mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik. Hal itu akan berdampak buruh pada lingkungan dan menyulitkan kehidupan manusia. Ia ingin agar masyarakat bisa menggunakan bahan-bahan alami sebagai pengganti plastik. (Faq/Wil)

Abdur di Mata Najwa On Stage UMM: Ubah Galaumu Jadi Prestasi

Mengubah rasa galau menjadi semangat untuk berprestasi adalah opsi paling optimal dalam mengisi kesibukan saat galau. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Abdur Arsyad, Komika asal NTT pada Mata Najwa on Stage yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 12 Juli lalu. Abdur mengaku, hal itu juga ia lakukan saat mengalami kegalauan usai menyelesaikan pendidikan sarjana dan menempuh studi magister. “Saya dulu sangat suntuk saat jadi mahasiswa S2. Tidak ada aktivitas menarik dan malah galau. Beruntung, rasa galau itu mendorong saya untuk mencoba hal baru. Turut serta komunitas dan memulai karir menjadi komika. Menampilkan stand comedy di café-café dan dihadapan banyak orang,” tuturnya. Pria lulusan S1 Program Studi (Prodi) Matematika UMM tersebut melanjutkan, sejatinya anak muda memiliki potensi besar untuk meningkatkan minat dan bakat yang dimiliki. Konsistensi harus dipegang teguh dalam mnejalani proses. Apalagi melihat bahwa pemuda punya power yang melimpah, utamanya untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Pada kesempatan itu, Abdur juga menceritakan kesehariannya saat duduk di bangku sarjana. Ia pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan di UMM, tepatnya menjadi sekretaris di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matriks yang berada di Prodi Matematika periode 2007-2008. Maka dari itu, ia juga mendorong anak-anak muda untuk aktif mengikuti berbagai organisasi. Menurutnya, hal itu akan meningkatkan banyak skill, termasuk public speaking. “Kalian sebagai anak ini harus aktif berorganisasi. Walau mungkin motivasinya hanya untuk dapat nasi kotak, tapi skill kalian akan benar-benar terasah,” kelakarnya. Terkait keahliannya menjadi komika, Abdur menilai bahwa semua yang ia kuasai bukan perkara bakat. Namun yang lebih penting adalah kerja keras dan latihan secara konsisten meski pada awalnya beberapa orang meragukan. “Untuk para anak muda, jangan pernah berkecil hati jika merasa atau tidak disupport oleh kerabat atau bahkan orangtua. Buktikan bahwa kamu berhasil lewat prestasi,” tegasnya. Terakhir dia berpesan untuk anak-anak muda untuk terus berkarya dan jangan pernah takut untuk melangkah menggapai impian. Tidak pernah membanding-bandingkan setiap kesuksesan dan proses yang dijalani karena tiap manusia berada pada garis takdirya masing-masing. Menurutnya, Tuhan akan memberikan jalan terbaik bagi tiap hambanya. (Faq/Wil)