Program UMM Pasti Beri Kepastian Wali Mahasiswa Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen penuh menciptakan sumber daya manusia (SDM) terbaik dan unggul. Salah satunya melalui Center for Future Works (CFW) dan Center of Excellent (CoE). Hal itu ditegaskan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. saat menyambut wali mahasiswa baru pada 22 Juli 2023 lalu di Dome. Fauzan, begitu ia kerap disapa, menegaskan, program itu juga menjadi upaya Kampus Putih untuk menyambut bonus demografi 2045. SDM yang unggul bisa dilahirkan jika ada fasilitas dan program yang diberikan. Saat ini, ada lebih dari 54 CoE yang sudah dijalankan oleh UMM dan jenisnya variatif. Menariknya, para mahasiswa juga bisa menyiapkan diri untuk lulus cepat sejak semester 2 melalui jalur bebas skripsi. Banyak mekanisme yang bisa diambil, mulai dari jalur penelitian, pengabdian masyarakat, publikasiartikel ilmiah, dan karya lainnya. Usaha itu juga menjadi salah satu manifesto dari slogan dari UMM. Yakni UMM Pasti, pasti lulus, pasti bekerja, dan pasti mandiri. “Kami tidak pernah membatasi minat dan bakat dari anak-anak bapak dan ibu. Kami berikan berbagai macam mekanisme untuk ekuivalensi tugas akhir skripsi. Jadi nantinya, putra putri bapak ibu sekalian bisa lulus dari UMM tanpa skripsi,” katanya. Adapun UMM sudah menyiapkan berbagai fasilitas dan unit usaha yang bisa dikunjungi oleh para orangtua saat singgah di Malang. Misalnya saja Rayz Hotel, Taman Rekreasi Sengkaling, hingga My Dormy Hostel yang akan selalu memberikan diskon khusus. Selain itu juga Medical Center (UMC) dan Rumah Sakit sebagai sebagai fasilitas kesehatan yang dapat digunakan oleh seluruh mahasiswa. Ada lebih dari 13 unit usaha yang bisa dikunjungi dan dimanfaatkan. Sementara itu, salah satu wali mahasiswa baru, Umi Kuslum mengaku, fasilitas yang disediakan membuatnya menyekolahkan anaknya di UMM. Apalagi semua ditunjang dengan sarana prasarana yang lengkap. Mulai dari laboratorium yang mumpuni, kelas yang nyaman, dan lainnya. Bahkan kalau merasa lelah, mahasiswa bisa menghibur diri dengan perahu bebek di danau atau juga berkunjung ke taman rekreasi sengkaling yang dimiliki kampus. “Harapan saya untuk anak muda cukup singkat namun berbobot. Jangan pernah meremehkan pendidikan. Maksimalkan segala peluang dan kesempaan yang ada” pungkas wali mahasiswa jurusan Keperawatan itu. (Faq/Wil)
Rakernah Tarjih Muhammadiyah di UMM: Susun Fikih Lansia dan Budaya Berkemajuan

Islam dalam Muhammadiyah bukan hanya berada pada tingkat ucapan saja, tapi juga perbuatan konkret. Hal itu ditegaskan oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. Hamim ilyas, M.Ag. dalam Pembukaan Rapat Kerja Tingkat Pusat dan Seminar Nasional. Agenda itu diselenggarakan pada 21 Juli 2023 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Lebih lanjut, Hamim berharap, rapat kerja ini tidak hanya menghasilkan daftar rencana saja, tapi betul-betul dapat mencetuskan program kerja yang dapat dilaksanakan .”Rapat kerja ini juga sebagai persiapan launching kalender Islam global di Pekalongan yang bertepatan dengan 100 tahun terbentuknya majelis tarjih. Pekalongan dipilih sebagai tempat peluncuran karena memiliki nilai sejarah kuat, yakni daerah di mana majelis tarjih dibentuk,” ungkapnya. Menurutnya, Muhammadiyah juga memiliki keinginan untuk mendirikan rumah bagi lansia. Di mana rumah tersebut akan menjadi amal bagi Muhammadiyah. Oleh karena itu, rapat kerja ini juga mengadakan seminar tentang gerontologi, yang akan membahas tentang penuaan dan orang tua. “Ini juga menjadi langkah baru bagi Majelis Tarjih dalam menyusun Fikih Lansia. Para ahli dan akademisi akan datang dan membahas berbagai aspek terkait penuaan, kesehatan lansia, peran sosial, dan kebutuhan khusus mereka,” jelas Hamim. Ia menegaskan, Islam adalah ucapan dan perbuatan, sehingga apa yang akan diseminarkan dan diskusikan harus diamalkan. “Pengamalannya disesuaikan dengan tradisi Muhammadiyah yaitu dalam bentuk lembaga. Sehingga bukan usaha perseorangan tapi milik bersama dari kerja bersama. Kita juga sedang menyusun Fikih Budaya Berkemajuan sebagai bentuk komplementasi terhadap pembangunan ekonomi yang telah dilakukan oleh negara,” tegasnya. Di sisi lain, Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Saad Ibrahim, M.A. menyampaikan mengenai hikmat utama dari assabiqunal awwalun. Yaitu bagaimana kemudian manusia memahami dengan sebaik-sebaiknya mengenai falsafah dan ilmu pengetahuan. “Menurut saya, jika hikmat itu ditujukan kepada konteks yang lebih pragmatis dan berkaitan dengan dengan kehidupan, maka puncak dari hikmat itu bisa kita personifikasi pada ilmu fiqih yang telah dilahirkan oleh para imam. Salah satunya Imam Syafi’i yang dikenal dengan syarhus sunnah,” ungkap Saad. Menurutnya, perlu digarisbawahi bahwa ilmu fiqih yang dilahirkan oleh para imam sudah ditetapkan dengan matang. Sehingga menurutnya, kedua hal tersebut menjadi penting untuk membawa kembali kemajuan islam dalam konteks keindonesiaan dan universal. Maka karena itu, majelis tarjih dan tajdid memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Apalagi majelis ini akan menjadi basis untuk semua pengetahuan lain seperti ilmu astronomi, fisika, dan ilmu lainnya. (Zak/Wil)
Ingin Menyekolahkan Anak ke Pesantren? Ini Tips Dosen UMM

Belakangan ini, banyak masyarakat yang berbondong-bondong memilih pesantren sebagai tempat menimbu bagi anaknya. Pesantren dianggap mampu memberikan pendidikan yang holistic, mulai dari sisi keilmuan, agama, hingga adab dan etika. Terpaan era digital juga menjadi alasan para orangtua was-was dengan masa depan anaknya. Fenomena itu menarik perhatian Dosen Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag. Menurutnya, pesantren adalah lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Keterikatannya juga sangat kuat karena memiliki kotribusi bagi sumber daya manusia di Indonesia. Utamanya, dari segi akidah maupun akhlak. “Di Kementerian Agama sendiri tercatat ada lebih dari lima ribu pesantren yang berada di Jawa Timur. Belum lagi di daerah lain, ,” tandasnya. Menurut Fatoni, ada tiga pertimbangan yang dapat digunakan orangtua maupun calon santri saat memilih pesantren. Pertama, menetapkan tujuan anak atau calon santri. Jika ingin menjadi penghafal Alquran maka carilah pesantren yang memiliki program hafalan di dalamnya. Kemudian jika bertujuan menjadi pakar ilmu agama, misalnya literatur keislaman klasih, maka bisa mencari pesantren yang menyediakan sistem pembelajaran berdasarkan kitab kuning atau gundul. “Jika tujuannya adalah ingin anak menjadi calon intektual ulama, maka carilah pesantren yang memadukan antara pendidikan kepesantrenan dengan pendidikan formal. Biasanya pesantren terkait mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dengan ilmu agama khas pesantren,” tambahnya. Pertimbangan selanjutnya saat menentukan pesantren adalah menentukan model yang diinginkan. Secara umum, pesantren dibagi menjadi dua, yakni tradisional dan modern. Tradisional atau salafi biasanya menekankan pada kitab-kitab kuning atau kitab gundul. Bahkan model pesantren ini melarang santrinya untuk mengenyam pendidikan formal supaya lebih fokus menguasai kitab-kitab. Jika santri ingin mendapatkan pendidikan formal, biasanya santri diminta mencari di luar pesantren. Model lainnya adalah model modern. Di sini santri tidak hanya belajar ilmu keislaman saja namun juga diajarkan ilmu-ilmu umum tentang teknologi maupun bahasa. Dalam kata lain, model modern ini tidak hanya menitikberatkan untuk belajar kitab-kitab kuning saja. “Setelah menetapkan tujuan dan model pesantren orangtua atau calon santri harus melihat rekam jejak dari pesantren yang akan dipilih. Misalnya dengan melihat alumni yang ada. Apakah banyak yang berhasil atau sukses dan mampu bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Terakhir Fatoni mengingatkan, menurutnya kunci sukses sebuah pesantren adalah sistem belajarnya. Kemudian juga kualitas alumni, kiprah pimpinan pondok serta jasanya di masyarakat. Jika pesantren itu baru dan belum memiliki alumni, orang tua bisa datang langsung ke lokasi untuk mengecek dan observasi. Melihat secara langsung, apakah pesantren tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan. (Nov/Wil)