FKIP UMM-Dinas Pendidikan se-Malang Raya Komitmen Wujudkan SDGs

Siap berkomitmen penuh mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) pada sektor pendidikan berkualitas, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siapkan 685 lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada tahun 2023. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Dekan FKIP UMM pada giat Ngobrol Bareng (Ngobar) bersama kepala dinas pendidikan se-Malang Raya pada 1 Agustus 2023 di The Sky Roofftop Rayz UMM Hotel. Lebih lanjut, Dr. Trisakti Handayani, MM. menyampaikan, lulusan PPG UMM tersebut telah dibekali banyak keterampilan dalam mengajar. Mulai dari model pembelajaran abad 21, pembelajaran inovatif, hingga pembelajaran dengan High Order Thinking Skill (HOTS). “Guru profesional lulusan PPG UMM ini kami bekali banyak sekali ilmu dan skill mengajar. Tidak hanya teori dalam pembelajaran, namun juga pengembangan media pembelajaran hingga bekal dalam implementasi kurikulum merdeka. Di samping itu juga penguatan pembelajaran berdiferensiasi hingga bagaimana menganalisa kemampuan siswa terkait dengan project yang nanti diberikan” tambahnya. Dalam acara yang bertajuk “Membincang Pendidikan Malang Raya Dalam Mendukung Tercapainya SDGs” itu, turut hadir Direktur Eksekutif APCE-UNESCO Prof. Dr. Ignasius D. A. Sutapa, M.Sc. Dia menegaskan, SDGs Indonesia mengalami cukup peningkatan. Hal itu menjadi salah satu prestasi, mengingat peningkatan ini terjadi pasca gejolak pandemi Covid-19. “Peringkat kita sekarang ada di 75 dalam SDGs, tahun lalu di angka 82. Ini perlu kita banggakan. Membuktikan bahwa recovery negara kita pasca pandemi sangat cepat,” jelasnya. Menurutnya, sektor pendidikan menjadi fokus yang harus diperhatikan lebih intens. Tidak bisa berjalan tanpa kolaborasi antara instansi penyelenggara pendidikan, pemerintah, para stakeholder. Begitupun dengan dunia usaha dunia industri (DUDI) yang menjadi wadah khusus untuk peningakatan skill dari Sumber Daya Manusia (SDM). Pun menjadi penerima produk-produk pendidikan kita kepada dunia kerja. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Drs. Suwarjono, M.Si menyampaikan apresiasi tinggi kepada FKIP UMM yang memberikan ruang diskusi kepada Dinas Pendidikan se-Malang Raya. Utamanya untuk menyampaikan ide serta gagasan yang berkaitan dengan dunia pendidikan. “Ini kali pertama kalinya, Dinas Pendidikan Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang diundang oleh universitas untuk duduk dalam acara ngobrol dan diskusi. Apalagi UMM memang dikenal sebagai pencetak guru-guru yang profesional,” tegasnya. Jono, begitu ia kerap disapa, berharap besar kepada seluruh elemen masyarakat untuk lebih fokus dalam membahas, merancang, serta mendesain rencana tindak lanjut dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. “Berbicara tentang pendidikan kita, memang ada sederet masalah yang muncul. Namun kita tka bisa tinggal diam, harus mampu menghasilkan inovasi baru untuk menyelesaikan problem-problem itu. Karena pada dasarnya, tanpa adanya pendidikan, kita bukanlah apa-apa,” tutupnya. (Faq/Wil)

Bantu Warga Binaan Lapas, Mahasiswa UMM Ajari Budidaya Ikan Lele berbasis RAS

Warga binaan yang berada di lembaga pemasyarakat (lapas) masih saja dicap negatif oleh sebagian orang. Stigma tersebut juga masih melekat sekalipun mereka bebas dari lapas. Hal tersebut membuat mantan warga binaan kesusahan untuk mendapat pekerjaan dan bertahan hidup. Hal itu mendorong inisiatif sederet mahasiswa PKM-PM prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka melakukan pendampingan di lapas kelas satu Malang dan mengajari cara budidaya ikan lele yang bisa menjadi alternatif pekerjaan saat warga binaan menyelesaikan masa hukumannya. Adapun tim ini terdiri dari Putri Ramadhani, Phobie Yolasica Irawan, Fathimatuz Zahroh, Moh. Ilham Wahyudi dan Maulana Zaky Ghifari. Salah satu anggota kelompok, Putri, mengatakan program tersebut berupa pembekalan usaha budidaya ikan lele dengan teknologi resirkulasi akuakultur sistem dan budidaya pakan alami. Harapannya, kegiatan ini bisa membantu perekonomian para narapidana nantinya. “Program ini sudah berjalan dari bulan Juni lalu dan akan berakhir di bulan September. Selain untuk menunjang perekonomian di lapas, besar harapan program ini bisa menjadi keterampilan baru dan bekal bagi mereka untuk membuat usaha ketika nantinya mereka bebas,” ungkap Putri. Budidaya ikan lele ini dipilih karena ikan lele merupakan jenis ikan konsumsi yang memiliki potensi budidaya yang tinggi dengan kandungan protein ikan lele yang tergolong bagus yaitu 19,09%. Selain itu, ikan lele  juga sangat mudah dibudidayakan dan ditemui di pasaran. “Faktor penentu keberhasilan utama dari budidaya ikan yaitu pakan. Maka, di program ini, kami juga melakukan pelatihan untuk memberikan pakan alami berupa kutu air (daphnia sp.) dan cacing sutera (tubifex sp.) yang memiliki nilai nutrisi yang tinggi. Dengan pemberian pakan alami, biayayang dikeluarkan juga dapat ditekan,” jelas Putri. Mereka menambahkan teknologi Resirkulasi Akuakultur Sistem (RAS) yang memiliki keunggulan untuk memanfaatkan sistem sirkulasi air kolam. Yakni dengan menggunakan kembali air sebagai budidaya habitat air, sehingga dapat mengurangi penggunaan air dari luar sistem. “Alhamdulillah, program kami juga mendapatkan pendanaan dari pemerintah. Kami juga menyediakan buku perikanan agar mereka bisa terus belajar,” tegasnya. Di sisi lain, petugas lapas maupun para warga binaan mengapresiasi dan bersemangat untuk mengikut serangkaian aktivitas yang ada. Mereka menilai, program seperti ini sangat bermanfaat untuk menambah skill dan alternatif pekerjaan saat nanti bebas. Jadi tidak hanya bergantung pada pekerjaan yang lain. (Zak/Wil)