Begini Pesan Director Human Capital Kapal Api pada Ribuan Mahasiswa UMM

Lebih dari 6000 Mahasiswa Baru (Maba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsung disambut dengan kuliah tamu oleh Pambudi Sunarsihanto, MBA., M.Sc. Director Human Capital Kapal Api Group. Acara tersebut dilaksanakan di Hall Dome UMM pada 19 September lalu dengan tajuk “You Are The Pilot of Your Career”. Dia membuka kuliah tamu tersebut dengan mengutip kata-kata dari Michelangelo yang menjadi motivasi bagi anak muda untuk merintis karir. “Saya kutipkan kata-kata dari Michelangelo, bahwa ancaman terbesar bagi keberhasilan hidup kita bukan berasal dari menggantungkan cita-cita setinggi langit hingga tak mampu mencapainya secara penuh. Namun berasal dari patokan cita-cita terlalu datar hingga mudah mencapainya,” tegas Pambudi. Dia juga membagikan tips dalam menyiapkan diri untuk menghadapi zaman yang sangat dinamis. Menurutnya, setiap personal harus memiliki keunikan dan pembeda diantara personal-personal yang lain. Apalagi mengingat saat ini sudah terlalu banyak lulusan sarjana di Indonesia tapi kualitasnya hanya biasa-biasa saja. “Setiap orang harus memiliki differentiator, baik dari segi skill, kemampuan berbahasa, prestasi, serta pengalaman yang telah dijalani. Itu semua menjadi modal yang harus dimiliki oleh anak muda. Jangan pernah meremehkan upaya meningkatkan kualitas diri,” tegasnya. Lebih lanjut, pria asal Magetan itu menjelaskan bahwa dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Tidak ada yang kekal dan abadi di dunia, termasuk inovasi-inovasi yang ada. Kebutuhan pasar sangat dinamis dan berkembang seiring perkembangan zaman. Sudah banyak perusahaan yang awalnya berhasil, namun pada akhirnya redup karena kurang menciptakan inovasi. Pambudi juga sempat menceritakan kisah para pengusaha dalam mengembangkan perusahaan besar. Mulai dari Kapal Api yang berawal dari penjual kopi biasa di pelabuhan tanjung priok dan Aqua yang berawal dari berjualan air mineral dari rumah ke rumah. Lambat laun mereka menciptakan inovasi dengan mempercantik kemasan, menaikkan kualitas, serta memperkuat branding. Dia juga menegaskan bahwa inovasi tidak hanya perihal bisnis, namun bisa fleksibel ke berbagai sektor termasuk dakwah. “Pesannya apa dari cerita itu? Mereka tidak stuck dalam menjalankan bisnis. Hal itu pula yang bisa dijalankan dalma hal dakwah. Sepertin misalnya Wali Songo dengan menciptakan inovasi dakwah melalui berbagai perantara seperti pewayangan. Jadi jangan harap keberhasilan itu diraih di awal merintis karir,” jelasnya. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh anak muda untuk tidak mudah overthinking dalam menjalani karir. Begitupun dengan sembrono dalam melangkah dan mengambil jalan karir yang ditekuni. Menurutnya, ada tiga aspek ideal dalam mengambil karir. Yakni karir itu ada pada bidang yang disukai, seseorang itu lebih jago dari yang lain, serta mampu menghasilkan profit. “Jangan kebanyakan mikir kalau mau menjalani karir. Kalian harus berani memiliki mimpi yang besar, mengawali dari hal yang sederhana, dan harus berani bertindak. Kalau hanya mikir saja, nanti yang di dapat cuman pikiran,” tutupnya. (Faq/Wil)
Bersama Kampus Singapura, Mahasiswa UMM Bikin Enam Prototipe Produksi Tempe

Menggaet Singapore Polytechnic (SP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melaksanakan Learning Express (Lex), September ini. Ada 30 mahasiswa asal Singapura yang berkolaborasi dengan mahasiswa UMM untuk menciptakan protoripe. Ada enam alat yang dipamerkan di aula BAU Kampus Putih pada 20 September lalu. Pada edisi ini, mereka berupaya membuat alat yang membantu sederet pengusaha tempe di Desa Beji, Kota Batu. Deputy Director SP Goh Say Sheng mengapresiasi segala kolaborasi yang sudah dilakukan bersama teman-teman UMM. Menurutnya, para mahasiswa SP tidak sekadar datang saja, tapi harus mampu mempelajari budaya Indonesia. Begitupun dengan proyek terkait tempe yang sudah ditekuni dalam beberapa hari. “Semoga memberikan pengetahuan baru dan menajamkan daya kritis para peserta. Lex bukan hanya mengenai ide, tapi juga harus bisa dikembangkan menjadi alat yang bermanfaat bagi sesama,” katanya di hadapan mahasiswa SP dan UMM. Sementara itu, salah satu pemilik usaha tempe Rizky Nurfikayati senang bisa berdiskusi dengan para mahasiswa Singapura maupun UMM. Ada banyak masalah yang pada akhirnya bisa diselesaikan oleh peserta Lex. Misalnya saja terkait air limbah pengasaman yang tidak baik untuk lingkungan. Limbah tersebut bisa diatasi dengan menggunakan abu pembakaran. Fika, begitu ia kerap disapa, menilai para peserta Lex tidak sekadar membuat alat. Namun, mereka juga memberikan masukan bagaimana cara memproduksi tempe dengan cara yang lebih higienis. Begitupun dengan sistem memotong yang lebih cepat. Para peserta juga bermalam di dekat lokasi rpoduksi selama tiga hari dua malam. “Saat menginap di daerah produksi, mereka juga aktif dan baik. Selalu bertanya banyak hal agar bisa memberikan masukan yang lebih baik. Semoga berbagai prototipe ini bisa benar-benar dijadikan alat dan membantu para produsen tempet. Khususnya di daerah Beji,” katanya. Salah satu alat yang dibikin adalah penyaring asap hasil pembakaran. Nantinya asap akan masuk ke pipa yang didalamnya ada dua buah filter. Salah satunya filter High Efficiency Particulate Air (HEPA) yang menyaring debu dan asap. Dengan begitu, harapannya asap yang sudah terfilter bisa lebih baik dan tidak membahayakan makhluk hidup lain. “Selain itu juga bisa memberikan dampak positif bagi udara di sekitar. Termasuk saat asapnya mengnai atsmosfer. Semoga filter ini bisa membantu para produsen tempe di Beji dan tempat-tempat lainnya,” kata Mathew, salah satu mahasiswa dari SP. (Wil)