UMM-SMAM 3 Bungah Ajak Siswa se-Kecamatan Ikuti Tiga Kelas Asyik

Puluhan siswa sekolah menengah pertama (SMP) se-Kecamatan Bungah, Gresik terlihat riuh dan aktif mengikuti tiga kelas coaching clinic. Aktivitas itu merupakan garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan SMA Muhammadiyah 3 Bungah Gresik. Ada tiga kelas yang disajikan pada 6 Oktober itu, yakni kelas menjadi jurnalis cilik, pengolahan teknologi kompos, dan fun akunistic. Salah satu kelas yang menarik adalah kelas pengolahan teknologi Kompos yang diisi oleh dosen peternakan UMM Ir. Ali Mahmud, M.Pt. Ia mengajak anak-anak untuk memanfaatkan kotoran kambing dan menjadikannya produk bermanfaat. Mereka yang awalnya ogah-ogahan memegang kotoran, malah asyik dan penasaran dengan prosesnya. Adapun beberapa langkah pembuatan pupuk tersebut yakni menghamparkan kotoran kambing setebal 20-30 cm. Kemudian ditaburkan dolomit, abu dan decomposer. Kemudian menyiramnya dengan biofarm yang sudah dicampur dengan air dan menutup timbunan dengan terpal. Setelah didiamkan selama satu minggu, baru bisa diaduk. Terakhir, tunggu hingga tiga minggu dan pupuk sudah bisa digunakan. “Anak-anak awalnya jijik dan tidak mau memegang kotoran. Tapi mereka cukup penasaran dan akhrinya mau mencoba. Semoga kelas ini bisa menginspirasi mereka dan mungkin bisa dicoba bersama teman atau keluarga di rumah,” kata Ali. Kelas menarik lain adalah jurnalis cilik yang diisi oleh Maharina Novia M. Ikom. Anak-anak SMP didorong menjadi pribadi yang kritis melalui latihan bertanya yang baik. Setelah itu juga diajari bagaimana menyampaikan sebuah info atau berita dengan maksimal. Baik secara tulisan maupun lisan layaknya reporter dalam sebuah program berita. “Kami membawa dan menggunakan prompter serta greenscreen agar teman-teman SMP benar-benar tahu serta merasakan bagaimana menjadi reporter. Membacakan berita, menghadap kamera, dan langsung melihat potret dirinya dengan teknologi greenscreen. Semoga bisa memotivasi anak-anak untul terus meraih mimpinya,” tegasnya. Di sisi lain, Kepala Sekolah SMAM 3 Bungah Mufrikha S.Pd., M.M. mengapresiasi program yang dilakukan UMM di sekolahnya. Apalagi ketiga kelasnya dibalut dengan asyik sehingga anak-anak tidak bosan dan ikut aktif. Siswa-siswi SMP yang datang juga beragam dari beberapa desa yang ada di kecamatan Bungah. “Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi banyak orang. Kami tentu akan melaksanakan program-program asyik lainnya. Bukan hanya menyasar anak-anak SMP maupun SMA, tapi juga untuk masyarakat luas,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)

ICEdu UMM Kaji Teknologi, Sebut AI Tidak Lebih Pintar dari Bayi

Perkembangan teknologi begitu menjamur di kalangan masyarakat. Mulai dari gawai, alat sehari-hari, hingga perkembangan alat bantu manusia seperti Artificial Intellegent (AI). Teknologi AI dapat dikatakan memiliki perkembangan yang sangat pesat. Tak jarang hal ini membuat masyarakat resah dan takut digantikan oleh kecerdasan buatan. Namun pernyataan ini dibantah oleh Prof. Stella Christie, Ph. D. dalam forum Internasional Conference on Education (ICEdu) kedua yang diadakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Oktober ini. Menurutnya, kecerdasan buatan tidak akan bisa menggantikan manusia. “Dari penelitian yang saya lakukan, kecerdasan buatan itu sebenarnya tidak lebih pintar dari bayi berusia dua tahun,” tegasnya. Stella mengatakan, kecerdasan buatan tak perlu ditakuti. Manusia tidak akan digantikan oleh kecerdasan buatan di bidang pendidikan, pekerjaan, maupun bidang lain. Karena kecerdasan buatan pasti memerlukan manusia untuk membantunya terus berkembang. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri AI juga harus diimplementasikan di dunia pendidikan. Utamanya dalam upaya membantu siswa untuk berkembang mengikuti zaman. Begitupun dengan meningkatkan kemampuan dan jiwa kompetitif siswa sehingga bisa berdaya di dunia yang sebenarnya. Maka, Stella menilai teknologi memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Adapun gelaran internasional yang menginjak tahun kedua itu membahas rinci mengenai pemberdayaan dan keunggulan pendidikan. Turut hadir para praktisi, dosen, hingga peneliti dari berbagai bidang di Indonesia. Di sisi lain, untuk menanggapi teknologi yang semakin mutakhir khususnya di dunia kerja, pemateri lain Associate Prof. Dr. Zulnaidi Yaacob memberikan buah pemikirannya. Menurutnya, ekosistem kewirausahaan juga harus ada di perguruan tinggi. Hal ini dapat melatih mahasiswa dan mengasah kemampuannya menghadapi dunia industri. Dunia industri, teknologi dan pendidikan harusnya bisa dikolaborasikan menjadi satuan struktur yang saling membangun satu sama lain. Misalnya dengan memasukkan nilai-nilai kewirausahaan ke kurikulum pembelajaran bagi setiap mahasiswa. Hal itu yang biasa disbeut dengan kurikulum katalis. Yaitu kurikulum yang diubah dari teori menjadi sistem yang lebih aplikatif. Mahasiswa diajari mengimplementasikan apa yang telah ia dapatkan di bangku kuliah agar semakin terasah dan siap terjun ke dunia kerja. “Hal ini juga bisa menjadi empowering education atau pemberdayaan pendidikan. Yaitu mampu meningkatkan taraf pendidikan siswa maupun mahasiswa serta mengurangi kesenjangan keterampilan pendidikan,” katanya menambahkan. Hal serupa juga sudah dilaksanakan oleh UMM, yaitu menjalankan pendidikan yang membekali mahasiswa dengan skill yang sesuai dengan kebutuhan industri. Proses itu terjadi melalui Center of Excellence (CoE). Tak hanya dibekali materi, mahasiswa juga dibekali dengan kemampuan spesifik untuk mendukungnya di dunia kerja. Dengan adanya teknologi, mahasiswa diharapakan lebih mengenal dunia dan siap bersaing serta berkolaborasi dengan teknologi. Karena, semakin maju teknologi akan mendorong masyarakat untuk terus berkembang mengikuti zaman. Jika tidak mengikuti zaman, masyarakat bisa tertinggal dan sulit memasuki dunia global. (tri/wil)