Bikin Prototipe Alat Pendeteksi Pangan, Mahasiswa UMM Menangi Lomba Nasional

Banyak inovasi dan terobosan yang ditelurkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah malang (UMM). Salah satunya yang digagas Aulya Mauizzati, mahasiswa Program Studi Akuntasi UMM angkatan 2021. Ia bersama empat anggota kelompok lainnya membuat prototipealat portabel untuk pengamanan produk pangan olahan yang diber nama Portable Tool-Anti Food Fraud. Alat ini juga sukses membawa mereka meraih juara tiga pada Bidang Hukum, Sosial dan Ekonomi di Mandalika Essay Competition 3 di Universitas Gunung Rinjani, NTB. Aulya, sapaannya, menjelaskan bahwa gagasan ini muncul dari banyaknya kasus pemalsuan produk pangan di Indonesia. Salah satunya penggunaan ayam tiren yang digunakan sebagai bahan dasar bakso di Kabupaten Bantul, Yogjakarta pada 2022 lalu. Hal ini ditambah dengan terbatasnya indera manusia dalam mendeteksi pemalsuan produk pangan tersebut. “Pemalsuan yang dimaksud adalah, penggunaan bahan-bahan yang tidak sesuai dengan yang disampaikan kepada konsumen. Misalnya  produk yang seharusnya menggunakan daging ayam ternyata terbuat dari daging tikus. Alat ini diharapkan bisa mendeteksi bahan-bahan berbahaya yang tidak seharusnya ada pada makanan,” tambah Aulya. Cara  kerja alat ini adalah dengan memasukkan  sample makanan ke dalam tempat yang telah disediakan. Selanjutnya pada layar touchscreen, akan ditampil 3 menu atau ikon utama yaitu database, measure, dan setting.  Pada database, terdapat empat menu turunan, yaitu input yang berisi data real dari sampel yang diperiksa dan data referensi mengenai ciri umum kepalsuan pangan yang pernah terjadi di Indonesia. “Kemudian ada juga penyimpanan data, yang digunakan untuk menyimpan data asli dari sampel yang diperiksa sebelumnya beserta data referensi. Ada pula menu perbandingan, di mana akan dilakukan proses perbandingan dari database dan data referensi yang disimpan sebelumnya. Terakhir ada menu hasil dan laporan yang akan mengeluarkan hasil perbandingan yang dilakukan sebelumnya,” tambahnya. Pada menu measure, terdapat empat menu turunan juga. Pertama, pengukuran pemalsuan untuk mengukur tingkat pemalsuan pangan yang sedang di deteksi. Kedua, pengukuran kualitas hasil untuk mengukur keakuratan hasil pendeteksi pemalsuan pangan. Ketiga, Pelaporan hasil untuk mencentak hasil pendekti alat portabel ini. Keempat, pemberitahuan yang berisi pemberitahuan tingkat pemalsuan. Mulai  dari rendah, menengah atau tinggi yang ditandai dengan warna merah jika tinggi, warna kuning jika menengah warna hijau jika rendah. “Menu terakhir adalah setting. Pada menu ini tedapat 3 komponen, yaitu pengaturan alat pemindaian untuk mengatur sistem yang ingin digunakan untuk mendeteksi apakah inframerah, ultravuolet portabel, dan cahaya tampak. Lalu ada pengaturan data base untuk mengubah atau mengedit data yang terdapat pada database,” jelanya. Kemudian yang terakhiryakni keamanan dan pengaturan untuk melindungi akses dan mengontrol izin pengguna alat ini. Sehingga alat ini tidak dapat digunakan atau disalah gunakan oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung  jawab. Karena bentuknya baru prototipe, mereka baru mengkampanyekan alat tersebut. Harapannya bisa di realisasikan sebagai salah satu bentuk antisipasi dalam pemalsuan pangan berkelanjutan. Dalam pengembangannya, Aulya tidak sendiri. Ia ditemani Uni Fitratunnisa, Mohammad Mirzan Abdillah, Ivanya Anindhi dan Aida Aulia. (nov/wil)

Kukuhkan Internasionalisasi, UMM Tuan Rumah Pameran Pendidikan AS

Pameran pendidikan Education USA U.S. Graduate Fairs kembali digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 5 Oktober lalu. Para mahasiswa bisa langsung berinteraksi dengan 20 perwakilan dari sederet universitas di Amerika Serikat (AS) dan lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP), Komisi Fulbright (AMINEF), dan Kedutaan Besar AS. Pameran tersebut juga menampilkan sesi tips membuat lamaran dan penulisan esai, personal branding, dan peluang beasiswa. Meskipun sebagian besar perwakilan universitas akan merekrut mahasiswa untuk program magister dan doktor di Amerika Serikat, pameran ini juga akan menampilkan sesi informasi bagi mahasiswa yang mencari program pertukaran jangka pendek dan program S1. Konsul Jenderal AS, Jonathan Alan yang hadir menyampaikan, berbagai universitas yang ada di Amerika tentu akan memberikan pelayanan terbaik untuk mereka yang memiliki dedikasi tinggi kepada dunia pendidikan. Misalnya saja dengan mempertemukan mahasiswa dengan praktisi yang berkompeten untuk meningkatkan pengetahuan yang dibutuhkan. Selain itu, dia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta pameran atas antusias yang luar biasa dalam mengikuti agenda ini. Terhitung, ada ribuan peserta yang turut serta, mendapatkan banyak pengetahuan, dan beberapa bingkisan. Jonathan juga mengapresiasi UMM yang memiliki berbagai macam program unggulan, salah satunya Center of Excellence (CoE) yang juga memiliki tujuan untuk meningkatkan skill mahasiswa. Baik untuk keperluan dunia kerja industri maupun kemampuan riset. Menurutnya, hal itu juga bisa menjadi modal yang bagus bagi mahasiswa untuk melanjutkan studi yang lebih intensif. Dia juga menyampaikan kepada seluruh peserta untuk tidak ragu dalam mengorek informasi sedalam-dalamnya ke booth-booth yang telah disediakan. Apalagi event seperti ini sangatlah spesial dengan mendatangkan ihak dari berbagai universitas yang ada di AS. Seperti University of Michigan, Harvard University, New York University, dan lain sebagainya. Sementara itu, salah satu peserta pameran Tirtania Wijayanti mengaku sangat senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, event itu memudahkan mahasiswa yang ingin tahu lebih dalam terkait informasi melanjutkan pendidikan S2 ke AS serta berbagai beasiswa yang disediakan. Baik yang disediakan univesitas di AS atau juga pemerintah Indonesia. “Seru dan sangat bermanfaat. Kami bisa mendapatkan info detail dari masing-masing booth. Jadi, saat kami ingin mendaftar, kami tidak lagi bingung dan sudahtahu cara serta kiatnya. Bisa langsung mengobrol dan bertanya berbagai hal ke perwkailan universitas dan bahkan alumninya,” pungkas Wijayanti. (Faq/Wil)