Kampus Negeri Ini Belajar Jadi Lebih Kreatif ke UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima kunjungan Universitas Andalas (Unand), 24 Oktober lalu. Dalam lawatannya, Unand belajar dan mengajak diskusi Kampus Putih terkait banyak aspek. Termasuk inovasi pembelajaran dan program-program berorientasi mencetak generasi unggul. Guru besar Teknik Sipil Unand Prof. Ir. Abdul Hakam, M.T., Ph.D. mengatakan pihaknya ingin belajar banyak terkait bagaimana cara UMM yang mampu terus maju dan berkembang. “Seperti yang kita ketahui bersama, UMM punya kreativitas yang mumpuni serta mampu menjalankan Tridharma perguruan tinggi dengan baik. Mereka sudah jauh memikirkan tentang masa depan, misalnya saja Center for Future Work yang berorientasi masa depan. Ini sangat menarik,” tambahnya. Selain itu, Hakam juga tertarik dengan program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (PPPM). Bagaimana penelitian dan kolaborasi yang dilakukan mampu memberikan manfaat secara luas. Hal ini dijawab langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Ia menjelaskan bahwa PPPM ini bertugas untuk mengatasi problem yang ada d imasyarakat daerah. Semua langkah berangkat atas dasar kesadaran. Menurutnya, masalah masyarakat tidak bisa diselesaikan secara parsial, namun harus secara komprehensif. “Caranya yakni bekerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda). Salah satu yang kami lakukan adalah dengan menggaet Jember,” kata Fauzan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa agar bisa diperhatikan oleh orang lain, perlu adanya upaya mengambil jalan yang berbeda. Misalnya saja program UMM Pasti. Inovasi itu muncul dari kesadan bahwa orangtua ingin anaknya bisa lulus tepat waktu. Kemudian juga apakah anak-anaknya bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat setelah lulus. “Karena pertanyaan-pertanyaan tersebut, lahirlah UMM Pasti. Pasti lulus tepat waktu, pasti bekerja, dan pasti mandiri,” jelasnya. Langkah pertama yakni pasti lululs tepat waktu. Hal ini bisa dicapai dengan melakukan re-design, affirmation, dan recognition. UMM selalu berusaha mengapresiasi prestasi-prestasi yang diciptakan dan diraih oleh mahasiswa. Sehingga, saat ini mahasiswa bisa lulus tanpa skripsi selama bisa menciptakan karya. “Prestasi yang diraih serta mahakarya yang ciptakan oleh mahasiswa pun bisa menjadi pengganti skripsi atau tugas akhir,” ujarnya. Kedua, menjadikan mahasiswa yang lulus dapat mandiri dan bekerja. Di semester 6, mahasiswa dianjurkan untuk mengikuti Center of Excelent (CoE). Sehingga saat lulus, mahasiswa dapat dipastikan telah memiliki kompetensi yang bisa membantukan di dunia kerja. Fauzan mengatakan bahwa mendirikan CoE juga tidak boleh asal-asalan. Syaratnya adalah harus bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki reputasi nasional maupun internasional. “Dengan langkah ini, UMM bisa dikatakan menjadi perguruan tinggi semi ikatan dinas,” pungkas Fauzan. (*dev/wil)

Latih Para Guru, UMM-PWM-INOVASI Targetkan Peningkatan Kualitas SDM

Perubahan zaman identik dengan perubahan masyarakat. Jika dulu pendidikan dapat diperoleh mellaui perpusatakaan atau guru. Namun kini siswa bisa mengakses sendiri pendidikan yang diinginkan. Hal itulah yang mendasari gelaran acara Training of Trainers yang diadakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur berkolaborasi dengan Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) dan INOVASI Indonesia, akhir Oktober ini. Acara tersebut digelar tiga hari berturut-turut di Kapal Garden Hotel UMM. Ketua Majelis Dikdasmen PWM Dr. khozin, M.Si mengatakan bahwa acara ini dihadiri oleh 55 pengajar dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya tentu untuk menggaungkan gerakan literasi dan numerasi bagi SD kelas 1,2,3 dan dilakukan secara mandiri. “Acara ini bukan kali pertama dilakukan. Sampai saat ini kami sudah melaksanaknnya tiga kali dan saat ini UMM menjadi tuan rumahnya,” katanya. Sementara itu, menurut Ingga Danta Vistara selaku Sistem and Policy Advisor INOVASI, acara seperti ToT ini penting untuk dilakukan bagi pengajar. Apalagi literasi adalah kunci untuk membuka pintu belajar bagi anak-anak. Literasi bisa dijadikan pembelajaran dasar bagi anak-anak agar dapat lebih memahami suatu konteks yang diberikan. “Jika sedari kecil anak-anak tidak dibiaskan dengan literasi, maka bisa jadi ke depannya mereka hanya memiliki kemampuan penyerapan informasi yang terbatas,” imbuhnya. Adapun INOVASI adalah program kerjasama antara Australia dan Indonesia untuk penguatan literasi dan numerasi yang sudah berjalan tujuh tahun. Program ini memberikan pendidikan kepada guru agar siap menghadapi perubahan sistem pendidikan dan menyiapkan pendidikan yang berkualitas. Apalagi ada banyak sekali guru yang hanya menyelesaikan kewajibannya untuk mengajar tanpa melihat apakah murid-muridnya paham akan materi tersebut. “Maka dari itu, adanya ToT ini bisa menjadi bahan ajar bagi para guru untuk bisa menerapkan praktek literasi dan numerasi. Utamanya kepada anak-anak SD/MI sederajat,” tegas Ingga. Turut hadir dalam kesempatan itu, Rektor UMM Prof Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas siswa adalah dengan pendidikan karakter. Contoh penerapannya adalah dengan adanya organisasi. “Kita harus memberi kebebasan berorganisasi bagi siswa agar mereka dapat cepat dan tanggap dalam menanggapi perubahan dunia,” tambahnya. Ia memberi contoh UMM yang me-redesain kurikulum, rekognisi, dan ekuivalensi untuk memfasilitasi mahasiswa. Sehingga mereka tidak hanya memahami materi dari bangku kuliah, namun juga memiliki skill yang bermanfaat bagi dirinya di masa depan. Hal tersebut dikemas dalam program Center of Excellent (CoE). Mahasiswa juga disiapkan untuk pasti lulus 3,5 hingga 4 tahun dengan skill sesuai passion mereka. (*tri/wil)