Banyak Kasus Bunuh Diri, Dosen Psikologi UMM Sebut Empat Alasannya

Belakangan, banyak kasus anak muda yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Banyak alasan mengapa mereka memilih untuk menyerah. Bisa saja menghadapi jalan buntu, kegagalan yang sudah tidak mungkin ditemukan jalan keluarnya, hingga hilangnya kepercayaan pada diri sendiri. Hal ini disebutkan oleh Hudaniah, S.Psi., M.Si selaku Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam diskusinya di UMMTalks, Oktober ini. Menurutnya, Permasalahan yang membuat seseorang memilih untuk bunuh diri itu sangat beragam dan tidak bisa ditebak. “Sejauh ini, tidak ada psikolog yang membocorkan permasalahan yang diceritakan kliennya. Tapi menurut penelitian, ada empat hal yang menjadi permasalahan utama,” sebutnya. Keempatnya mencakup permasalahan interpersonal, intrapersonal, keluarga, dan pendidikan. Permasalahan intrapersonal menjadi kasus yang paling banyak dialami oleh remaja. Menurut penelitian, sekitar 30% remaja mengalami permasalahan jenis ini. Intrapersonal berhubungan dengan jati dirinya sendiri, apa yang dipikirkan, nilai evaluasi diri, harga diri, dan bagaimana dia mengatasi konflik di dirinya. Sementara interpersonal berhubungan dengan penerimaan informasi antar dua orang atau lebih seperti hubungan pertemanan, keluarga, dan lain-lain. Media sosial menjadi salah satu hal yang dapat memperkeruh keadaan. Jika merujuk pada penelitian yang disebutkan oleh dosen psikologi itu, penggunaan media sosial memiliki dampak bagi kesehatan mental. “Seringnya, saat kita terpuruk, kita cenderung akan mencari informasi yang relevan dengan kondisi kita saat itu. Artinya saat sedang bersedih, kita mencari informasi yang sesuai dengan kesedihan atau biasa kita sebut dengan kegalauan,” jelasnya. Tak hanya itu, trauma masa lalu dan ketakutan akan masa depan juga dapat menjadi cikal bakal menyerahnya seseorang. Hudan menegaskan bahwa masa lalu tidak akan bisa diulangi kembali. Maka, manusia harus bisa memahaminya dan mencari cara untuk memperbaikinya di masa depan dengan evaluasi diri, melakukan pendekatan, dan berusaha agar hal tersbut tidak terulang kembali. Orang yang sedang dalam masalah tentunya membutuhkan kepekaan orang di sekitarnya. Dibutuhkan sensivitas tinggi dari orang-orang terdekatnya untuk mengetahui apa yang sedang ia alami. Karena bisa jadi, orang yang terlihat bahagia di depan itu tengah mengalami masalah besar. Hudan mengatakan, mereka yang mengalami masalah biasanya ada perubahan dari sikapnya. Bisa dilihat dari  cara berpakaian, produktivitas, atau yang lainnya. Maka, sebagai orang terdekat, salah satu pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang membutuhkan. Begitupun dengan memberikan dukungan, baik moral maupun materiil ke mereka. “Merasa capek itu boleh, tapi jangan berhenti di capeknya. Harus bisa  menjadi lebih kuat. Memberi kekuatan bagi mereka yang akan menyerah. Perlu ada peningkatan kepekaan sosial. Jika kita saling menguatkan, Insyaallah kita bisa saling bantu mengatasi masalah,” tandasnya. (Tri/Wil)

Kuliah Umum KLHK di UMM: Krisis Bumi hingga Pengelolaan Air

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah Kuliah Umum Forestry Update Course (FUCo) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerja sama dengan Forum Perguruan Tinggi Kehutanan Indonesia (FORETIKA). Kuliah Umum tersebut dilaksanakan di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM pad 28 Oktober 2023. Setidaknya ada ratusan peserta mulai dari yang hadir secara luring maupun daring via Zoom meeting dan Youtube. Pada kesempatan tersebut, materi menarik disampaikan Koordinator Kebijakan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia Martha Theresia J Siregar. Ia mengatakan bahwa saat ini dunia sedang menghadapi krisis yang mengancam masa depan bumi dan manusia. Setidaknya terdapat tiga indikator lingkaran yang saling berkaitan. Yakni perubahan iklim, polusi,dan kerusakan lingkungan. Ketiganya berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut. Mulai dari ikut serta dalam perumusan regulasi untuk mengawasi pengendalian pencemaran lingkungan hingga memaksimalkan pengolahan limbah industri agar mengurangi pencemaran. Begitupun dengan edukasi kepada publik mengenai pentingnya kesadaran untuk tetap peduli pada lingkungan sekaligus keanekaragaman hayati yang ada. “setidaknya ada lebih dari satu juta spesies hewan dan tumbuhan yang mengalami ancaman kepunahan. Diprediksi, luas habitat flora dan fauna tersebut mengalami penyusutan dan tersisa 49,7 %  saja pada tahun 2045. Ini menjadi kejadian yang perlu kita beri perhatian lebih,” ungkapnya. Di sisi lain, Dr. M. Saparis Soedarjonto, S.Si., M.T. selalu Direktur Direktur Perencanaan dan Pengawasan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai juga menyampaikan hal menarik. Menurutnya. manajemen air menjadi salah satu kunci untuk menciptakan hasil pertanian sekaligus salah satu indikator dalam menciptakan tata kelola alam yang baik. “Peran hutan untuk ketahanan air dan pangan itu sangat berkaitan. Ambil satu contoh di hutan nantu di Gorontalo. Hutan tersebut mensuplai air ke bendungan dan air tersebut dikelola dengan baik untuk mengairi sawah-sawah yang total luasnya 6.880 hektar dan menghasilakan produksi beras sebesar 619 miliar pertahun,” ungkapnya. Dengan data tersebut, dia l berpesan kepada seluruh pihak untuk saling menjaga ekosistem yang ada di hutan. Jangan sampai dirusak oleh tambang-tambang yang tidak bertanggung jawab. Mengingat bahwa pengolahan limbah tambang yang tidak baik pasti menyebabkan kerusakan pada alam dan menimbulkan ketidakseimbangan. (Faq/Wil)