Dosen UMM Bagi Tips Rawat Kendaraan Jelang Musim Hujan

Musim hujan seringkali membawa tantangan tersendiri bagi para pengendara. Jalan yang basah dan licin, serta hujan deras dapat mempengaruhi kinerja kendaraan dan keamanan berkendara. Oleh karena itu, perawatan mesin kendaraan saat musim hujan menjadi sangat penting. Maka dari itu, Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ir. Achmad Fauzan Hery Soegiharto, M.T. berbagai tips perawatan kendaraan. Khususnya di musim penghujan. Fauzan, panggilan akrabnya menyampaikan, penting untuk pengendara mengecek semua bagian-bagian kendaraan sebelum memasuki musim penghujan. Mulai dari bagian luar hingga dalam kendaraan. “Pastikan ban dalam kondisi baik, karena butuh cengkraman yang lebih kuat. Pengendara harus memperhatikan garis-garis dari bannya agar jangan sampai halus. Ini untuk meminimalisir hidroplating atau terpeleset ketika jalan basah dan licin. Selain itu remnya juga harus dicek kanvasnya,” katanya. Selain itu ia juga menyarankan untuk memperhatikan sistem kelistrikan pada kendaraan. Air dan kelistrikan tidak selalu berjalan baik bersama. Maka dari itu,pastikan sistem listrik kendaraan terlindungi dari kelembaban dan air hujan, terutama jika ada bagian-bagian yang terletak di bawah kendaraan. Pastikan juga sistem pelumasan kendaraan terjaga dengan baik. Ini akan membantu mencegah kerusakan yang disebabkan oleh air. “Khusus untuk mobil, ada tambahan untuk cek segel kabin dan memastikan tidak ada kebocoran yang menyebabkan masalah selama hujan. Ini juga melibatkan pemeriksaan AC yang penting untuk mencegah embun di dalam kabin. Untuk bagian luar, wiper harus dicek airnya karena itu salah satu komponen kunci untuk menjaga stabilitas selama hujan,” tambahnya. Di akhir, hal penting yang harus diperhatikan adalah bagian-bagian kaki dan cat kendaraan. Meskipun bukan komponen teknis, bagian itu bisa lebih rentan terhadap korosi dan kerusakan selama musim hujan. Persiapan dan perawatan kendaraan dapat berimbas besar dalam hal keselamatan dan kenyamanan. Maka dari itu Fauzan mengingatkan bahwa semuanya harus dalam kondisi optimal. “Ingatlah bahwa perawatan yang rutin adalah langkah penting. Jadwalkan perawatan berkala kendaraan bermesin untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik sepanjang tahun, baik pada musim kemarau maupun musim penghujan,” pesannya mengakhiri. (Nel/Wil)
UMM Kaji Agroteknologi, Beri Solusi untuk Peningkatan Pangan

Saat ini, peminat di bidang pertanian kian merosot. Anak muda semakin ogah untuk menekuni bidang pertanian karena dirasa kurang menjanjikan. Menurut data BBSDMP Kementan pada Tahun 2020, petani usia 20-39 tahun hanya sebesar 2,7 juta dari total petani 33,4 juta. Sebanyak 61% petani di Indonesia berusia diatas 45 Tahun. Dr. Ir. Nurdiah Husnah M.Si selaku Kementerian Pertanian Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BSIP Jestro) mengatakan bahwa banyak anak muda beranggapan profesi sebagai petani itu tidak “keren”. Perihal ini ia sampaikan pada acara Kuliah Tamu Mahasiswa Baru Program Studi (Prodi) Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan tajuk Menjawab Peluang dan tantangan Transformasi Pertanian berkelanjutan di Era 5.0. Selain kuliah tamu, acara ini juga merupakan bentuk revitalisasi program Center of Excellent (CoE) dengan pihak Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Menurutnya, ada beberapa masalah yang menjadi kunci pokok sehingga anak muda enggan untuk terjun ke dunia pertanian. Misalnya saja adanya alih fungsi lahan, modal pertanian yang sedikit, hingga teknik budidaya yang kurang presisi. Penurunan SDM pertanian ini tak sebanding dengan permintaan masyarakat akan bahan pangan. Maka dari itu, diperlukan kolaborasi antara teknologi dan manusia agar dapat menciptakan pertanian yang selaras dengan era 5.0. Penerapan teknologi di bidang pertanian bertujuan untuk menggabungkan kecerdasan buatan (AI) dengan kecerdasan manusia untuk memajukan pertanian Indonesia. Karena, pertanian saat ini masih menerapkan pertanian konvensional yang membutuhkan tenaga dan biaya yang tak sedikit. Maka perlu adanya kerjasama pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat untuk mengembangkan pertanian di era 5.0. Jawabannya adalah dengan mekanisasi pertanian. Hal itu disebutkan oleh Arif Wibowo selaku direktur PT. Sumber Alam Unggul. Mekanisasi pertanian merupakan bentuk kolaborasi antara AI dan manusia untuk memanfaatkan penggunaan lahan yang sedikit namun dapat memaksimalkan hasil pertanian. “Seperti contoh penggunaan pertanian dengan sistem aeroponik yang dirancang khusus dengan sistem otomatisasi penyiraman tanaman. Juga penggunaan drone sebagai alat penyemprotan pupuk dan mesin panen pertanian,” tegasnya Arif. Sementara itu, salah satu DUDI Direktur PT. Syngenta Seed Indonesia Ir. Suwarno, MM. menilai, penerapan teknologi di bidang pertanian tak hanya terbatas pada pembuatan mesin-mesin canggih. Lebih dari itu, perkembangannya dapat berupa pembuatan pupuk, teknologi pembenihan untuk menciptakan benih unggul, hingga pembuatan pestisida organik untuk melawan hama. “Mahasiswa memang harus disiapkan untuk menjadi pelopor dalam menciptakan ekosistem pertanian yang sesuai dengan industri 5.0.,” tambahnya. Hal itu selaras dengan apa yang dilakukan oleh UMM. Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa pihaknya saat ini sudah mempersiapkan mahasiswanya untuk dapat terjun langsung ke dunia industri. Mahasiswa dibekali dengan skill teknis agar saat memasuki dunia industri, mereka tidak bingung harus melakukan apa. Semua itu dikemas dalam bentuk kelas unggulan atau CoE yang sudah berdiri sejak 2018 lalu. “Harapannya, melalui adanya program ini dapat memastikan mahasiswa untuk bisa bekerja di dunia industri dan memiliki sikap mandiri,” tandasnya. (Tri/Wil)