Afdhil, Mahasiswa UMM yang Bawa Pulang Juara di Ajang Tarik Suara

Adalah Afdhil, Mahasiswa Fakultas Psikologi (Fapsi) Angkatan 2021 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih terbaik 3 dalam kejuaraan Bintang Radio Malang yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. Ia menyabet juara tersebut pada 15 November lalu mengalahkan lebih dari 30 peserta lain. Pria yang memiliki hobi bermain basket tersebut mengaku bahwa persiapan yang dilakukannya hanya tiga hari menjelang kejuaraan. Ia mau tidak mau harus mengoptimalkan waktu tersebut untuk melatih dan menciptakan ciri khas sendiri dalam membawakan lagu. Begitupun dengan penguasaan panggung agar tidak grogi. “Dalam kejuaraan tersebut, saya membawakan lagu dari Fabio Asher dengan judul Bertahan Terluka. Untuk bisa menciptakan keuninkan dan karakter saya dalam bernyanyi, saya optimalkan tiga hari untuk menciptakan dan karakter suara itu untuk diri saya sendiri. Selain itu mengaransemen lagunya agar terdengar berbeda. Jadi tidak sama persis nada dan intonasi dari lagu originalnya,” ungkapnya. Dia merasa senang dan bahagia saat meraih penghargaan terbaik 3 tersebut. Terlebih lagi dia berkesempatan untuk lanjut mengikuti kejuaraan Bintang Radio di tingkat Nasional. Tentu, dalam setiap perlombaan pasti ada halangan, termasuk lomba yang diikuti Afdhil. Gugup merupakan salah satunya. Meski ia sering tampil dalam acara besar dan ebrgengsi di UMM, namun beberapa detik di panggung ia merasa grogi. “Saya kan tahu info lombanya cukup mepet dengan waktu pelaksanaan, jadi persiapan juga mendadak. Rasa gugup pasti ada, namun saya membayangkan menyanyi di event-event kampus yang biasa saya isi,” kata Afdhil. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh mahasiwa UMM untuk percaya diri untuk unjuk gigi kemampuan serta bakat dengan mengikuti berbagai kejuaraan. Menurutnya, kompetisi menjadi wadah untuk mengukur kemampuan diri dan melatih mental dalam berkontestasi. “Setiap bakat akan tumpul bahkan hilang jika kita tidak melatih dna mengembangkannya. Harus percaya diri dan berani mencoba hal baru. Apalagi di UMM ada banyak wadah yang bisa diikuti sesuai dengan minat, bakat, serta potensi yang kita miliki masing-masing,” pungkasnya. (*faq/wil)
SIBI UMM, Seminar Internasional Berbahasa Indonesia yang Kaji Lingkungan dan Sosial

Evolusi dunia industri menjadi post-industrial membawa tantangan baru bagi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi dan informasi pada era post-industrial tak dapat dihindari lagi dan menciptakan beberapa tantangan serius. Seperti perubahan sosial, perubahan pendidikan, dan yang paling krusial yaitu adanya perubahan pada alam. Sejalan dengan hal ini, Dr. Gautam Khumar Jha Ph.D. dari Jawaharlal Nehru University, India mengatakan bahwa revolusi ini melahirkan perubahan pola sosial bermasyarakat. Contohnya yaitu perubahan globalisasi yang melahirkan pola konsumsi di mana menunjukkan status sosial atau kekayaan seseorang. “Hal ini disebut dengan pola konsumsi yang mencolok, yakni tiap individu berlomba-lomba untuk membeli barang mewah demi status sosial di masyarakat,” ucapnya di Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 21 November ini. Agenda dengan tajuk ‘Efek Post Industrial dalam Krisis Perubahan Iklim’ itu diikuti ratusan sivitas akademika dari berbagai belahan dunia. Ada yang berasal dari Australia, Hawai, India, Thailand, Vietnam, dan lainnya. Para pakar yang dihadirkan juga dari banyak negara dengan beragam topik menarik yang disajikan. Lebih lanjut, Khumar menyampaikan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat yang berubah dapat menyebabkan beban berat terhadap lingkungan. Pola konsumtif masyarakat ini adalah hasil dari percepatan persebaran informasi dan komunikasi pada lini masyarakat global. Sebagai dampaknya, muncul kebutuhan-kebutuhan palsu dari masyarakat untuk memenuhi hasrat sosialnya. “Karenanya, industri perlu menciptakan produk-produk berkelanjutan untuk keberlangsungan dunia industri. Bukan hanya produk-produk yang cepat usang dan akhirnya mencemari lingkungan,” tambahnya. Salah satu solusi yang ia berikan adalah menerapkan kearifan lokal pada lini masyarakat global untuk menciptakan kearifan yang berkelanjutan. Sehingga mampu menyelesaikan masalah prebuahan iklim. “Misalnya saja seperti pengobatan tradisional di Indonesia dan India yang mencerminkan warisan budaya dan pemahaman lingkungan,” tambahnya. Sementara itu, Islahuddin, M.A. dari Fatoni University, Thailand membenarkan bahwa pendidikan dapat menjadi solusi pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan sosial. Pendidikan mengubah pemahaman masyarakat mengenai keberlanjutan lingkungan. Salah satu penerapannya adalah pendidikan Islam yang dapat menciptakan persaudaraan dan keadilan antar umat beragama. “Hal ini tentu menarik apabila dibawa ke perspektif agama dalam menciptakan sistem keberlanjutan lingkungan,” tambah Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si Wakil Rektor I UMM. Syamsul berharap, pendidikan agama tidak hanya menambah pemahaman mengenai lingkungan saja, tapi juga mengubah perilaku dan pola pikir dari masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah melalui Milad ke-111 kemarin. Memiliki tujuan dan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan hidup yang aman dan damai. Ia juga mengatakan bahwa seminar internasonal itu menjadi wadah yang tepat bagi para praktisi dan sivitas akademika untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Utamanya terkait lingkungan dan perubahan iklim. Selain itu juga menjadi tempat yang bagus untuk mempraktekkan bahas Indonesia, mengingat seminar ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. (*tri/wil)