Pekerjaan Online Menggerus Karyawan Offline? Ini Kata Dosen UMM

Semakin berkembangnya zaman menuju era society 5.0. banyak profesi online yang bertebaran di masyarakat. Hal ini membawa dampak positif yang cukup masif. Happy Febrina hariyani, SP., M.Si. selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Program Studi Ekonomi Pembangunan (EP) menegaskan, profesi online memang mendatangkan banyak hal baik. Yakni pekerjaan yang tidak selalu harus dikerjakan di kantor. “Profesi online ini dapat menjadi salah satu opsi pekerjaan bagi orang-orang yang memang menyukai work from home, jadi tidak perlu datang ke kantor,” ujarnya. Tak hanya menjadi pekerjaan sampingan, Happy bahkan menegaskan bahwa beberapa profesi online seperti menjadi influencer, content creator, content writer hingga host livestreaming dapat menjadi sumber pendapatan yang cukup menjanjikan. “Di Linkedin pun banyak perusahaan-perusahaan yang menawarkan profesi serupa yang dapat dikerjakan secara work form home. Ini membuka peluang bagi para tenaga kerja yang ingin bekerja namun membutuhkan fleksibilitas waktu,” ucapnya. Happy pun menyebutkan, seiring berjalannya waktu, keberadaan berbagai profesi online akan semakin menyebar. Bukan tidak mungkin, suatu saat besarannya akan melebihi jumlah profesi offline yang sudah ada. Karenanya, dibutuhkan kemampuan adaptasi dengan teknologi. “Jangan leha-leha. Kita tidak boleh berhenti untuk belajar, terutama para generasi terdahulu yang pada saat itu dunia teknologi masih belum berkembang pesat. Karenanya, perlu adanya pendampingan dari generasi muda ke generasi sebelumnya. Ini untuk membuktikan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya membawa dampak negatif saja dan meyakinkan bahwa profesi online juga dapat dinilai menjanjikan ketika memang ditekuni dengan serius,” tambahnya. Mengawal hal ini, ia menambahkan perlu adanya sosialisasi mengenai teknologi di semua kalangan masyarakat. Hal ini sebagai upaya penegasan bahwa teknologi bukan suatu hal yang patut ditakuti, namun sesuatu yang dapat dimanfaatkan. “Dulu banyak orang yang menganggap remeh orang-orang yang melakukan live di e-comerce, influencer dan profesi online lainnya. Padahal, jika kita berkaca pada kondisi hari ini, dapat dilihat bahwa profesi-profesi tersebutlah yang dapat menjadi salah satu jalan sukses seseorang,” tandasnya. Di akhir, Happy berpesan agar para pekerja offline saat ini tidak khawatir dengan menjamurnya berbagai profesi online. “Para tenaga kerja di masa sekarang tidak perlu takut dengan adanya profesi online. Mereka justru harus terus belajar mengikuti berbagai perkembangan teknologi agar mampu beradaptasi. Memanfaatkan teknologi dengan bijaksana dan tepat guna agar membawa dampak positif bagi kelangsungan karir di masa yang akan datang,” pungkasnya. (Fat/Wil)

Kuliah Tamu Kehutanan UMM Beri Solusi Restorasi Lahan

Degradasi lahan merupakan salag satu tantangan terbesar yang harus dihadapi manusia. Hal itu ditegaskan Dr. Himlal Baral selaku Senior Scientist di CIFOR-ICRAF dalam kuliah tamu garapan prodi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 27 November lalu. Agenda yang bertajuk ‘Restorasi sebagai Solusi Iklim Alami’ itu turut dihadiri Ir. Kunto Hirsilo, M.E. selaku kepala BPDAS RH Brantas Sampean. Lebih lanjut, Himlal menjelaskan bahwa banyak sekali lahan yang telah terdegradasi dan lahan yang dimiliki semakin terbatas secara global. Di Indonesia, Jawa Timur dan Jawa Tengah juga memiliki jumlah lahan yang terbatas. Bahkan kini pemerintah Indonesia memiliki target yang sangat jelas untuk merestorasi 14.000.000 hektar pada tahun 2030. “Jadi yang kami coba lakukan adalah bekerjasama dengan banyak pemerintah, petani, universitas, kelompok masyarakat, dan pengelola lahan petani. Restorasi tidaklah murah, dibutuhkan biaya, waktu, dan tenaga untuk memulihkan lahan,” ucapnya. Untuk merestorasi satu hektar lahan, dibutuhkan biaya sebesar $100 hingga $1000. Restorasi relatif bukan merupakan prioritas utama pemerintah. Tidak seperti pendidikan atau pembangunan infrastruktur kesehatan yang memiliki perhatian lebih. Maka dari itu, agar pengelolaan lahan menjadi lebih baik, ia menyarankan untuk mengurangi penggunaan pestisida, lebih sedikit pupuk atau memanfaatkan pupuk organik. Selain itu, harus ada cara pemulihan lahan dan menjadikannya menguntungkan. Dalam hal ini, Himlal menyebut Climate Smart Agroforestry adalah solusi yang paling menguntungkan untuk memulihkan lahan. Ini disebut sebagai jasa ekosistem dan bukan hal yang baru bagi masyarakat Jawa Timur. Contohnya seperti jasa penyediaan, jasa pengaturan, jasa kebudayaan, dan jasa penunjang mulai dari produksi pangan hingga mineral. “Di Jawa Timur sangat padat penduduknya sehingga anda tidak memiliki banyak lingkungan alam di sini. Jadi Agroforestri bisa menjadi alat yang sangat besar dan berpotensi untuk menyediakan berbagai barang dan jasa bagi Anda,” katanya. Di sisi lain, Kunto Hirsilo juga menyebutkan beberapa strategi dalam menanggulangi kelemahan ini. Di antaranya, keterlibatan sumber daya manusia (SDM) instansi maupun lembaga setempat, memanfaatkan dana APBD dan dana internasional dan bekerja sama dengan masyarakat, korporasi maupun instansi lain. Begitupun dengan peningkatan kapasitas SDM dalam forum dan lembaga yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. (Dev/Wil)