Begini Menariknya Buku Diplomasi Tiga Zaman, Hasil 36 Karir Stafsus UMM

Menjadi seorang Diplomat adalah impian bagi beberapa kalangan muda, namun sayangnya saat ini banyak anak muda yang bercita-cita tinggi tetapi tidak mengetahui cara untuk mendapatkan dan proses yang akan dialami selama menjadi Diplomat. Hal itu ditegaskan Dubes Republik Indonesia Negara Tunisia tahun 2017-2021, Prof. (Ris) Ikrar Nusa Bhakti, Ph.D dalam bedah buku yang berjudul “Diplomasi Tiga Zaman”. Adapun buku itu ditulis oleh Staf Khusus Rektor Bidang Kerjasama Internasional Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Dr. Hc. Drs. Priyo Iswanto, S.Hum., M.H. Sebelumnya, Priyo merupakan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia. Kiprahnya juga sangat cemerlang dengan menadapat berbagai penghargaan, salah satunya mendapatkan penghargaan Carlos Lemos Simmonds. Baca juga : APTIKOM di UMM: Sertifikasi Profesi untuk Memajukan Bangsa Dalam bedah buku yang diselenggarakan pada 9 Desember lalu itu, Ikrar mengatakan bahwa buku yang ditulis Priyo sudah tersusun secara sistematis dan mengarahkan kalangan muda untuk beradaptasi pada pekerjaaan di era tiga zaman ini. Menurutnya, lahirnya buku ini memberikan manfaat yang menarik, utamanya dalam membantu setiap generasi untuk melek dalam berbagai permasalahan serta menemukan cara mengatasi masalah dengan kerangka berpikir yang cerdas. “Dari buku ini, bisa dilihat bahwa proses berdiplomasi bukanlah hal yang instan. Menjadi Dubes mempunyai tanggung jawab yang besar. Ada 18 topik menarik, salah satunya Perestroika dan Gasnus merupakan salah satu pergerakan yang menarik dalam pembahasan buku ini yang terinspirasi dari Presiden Soeharto. Dibahas melalui kisah nyata seorang Priyo dalam buku ini,” ujarnya. Menurutnya, buku ini mempunyai keunggulan dan karakteristik yang menarik karena up to date dan dibahasakan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Sehingga pembaca dapat dengan mudah mengerti isi pembahasannya dan mengajak berpikir lebih kreatif. “Mengajak pembaca untuk bisa merasakan apa yang mereka baca adalah sebuah kata yang cocok untuk buku ini. Ditulis berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi kehidupan bersama orang-orang hebat menjadikan isi buku ini sangat kaya akan pengalaman mahal. Priyo banyak menceritakan pahit manis kehidupan menjadi Dubes dan Diplomat, salah satunya ketika ia di culik supir taksi yang iseng,” katanya. Sementara itu, Priyo menjelaskan bahwa ia membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk merampungkan buku tersebut. Ada alasan mengapa buku itu diberi judul Diplomasi Tiga Zaman yakni isinya yang membahas mengenai pengalaman Priyo dalam tiga zaman besar. Dimulai dengan era bipolar di mana terjadi eprang dingin antara timur dan barat. Kemudian era kedua, yakni unipolar yang menurutnya mengarahkan pada globalisasi. Terakhir, pada era ketiga yakni era multipolar di mana Amerika Serikat mulai mengendur dan memunculkan peran Cina, Brazil, Indonesia, dan lain-lain. “Selama 36 tahun menjalani karir menjadi diplomat, ada berbaai pengalaman unik yang saya alami. Semoga buku ini bisa memberikan definisi diplomasi baru yang mungkin menarik bagi masyarakat, mahasiswa, atau akademisi hubungan internasional,” pungkasnya. (ri/wil)
Atlet Futsal Cantik UMM Menang di POMNAS

Adalah Mellenia Dinda Saputri, mahasiswi Magister Psikologi Angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih prestasi di tingkat Nasional. Dia terpilih menjadi perwakilan UMM untuk kontingen Jawa Timur dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XVIII di Kalimantan Selatan, akhir November lalu. Bahkan ia dan timnya berhasil menyabet medali perunggu di cabang olahraga futsal. Dinda, sapaan akrabnya, mengaku bahwa dulu ia merupakan seorang atlet voli. Sayangnya ia mengalami cedera dan harus beristirahat total. Meski begitu, hasrat unutk berprestasi terus menyala, utamanya di dunia olahraga. “Dulu sebenarnya atlet voli sempat cedera di bagian lengan, terus harus istirahat total. Kemudian pada 2018, saya diajak teman-teman untuk beralih ke dunia futsal. Ternyata setelan lama ikut latihan, banyak tim yang mengajak bergabung baik dari futsal maupun sepakbola,” kisahnya. Terlepas dari skill dan fisik yang bagus, keikutsertaannya dalam ajang POMNAS XVIII tidak lepas dari jaringan Dosen UMM yang luas. Ia mendapat dukungan penuh dari Ketua Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI). Mahasiswi asli Malang itu mengaku telah melakukan persiapan yang cukup ketat, mulai dari program Training Center (TC) hingga mengikuti Pra-PON. Ia bahkan baru saja menyelesaikan turnamen Pra-PON di Sulawesi Selatan pada Oktober, kemudian dilanjut dengan TC selama sepuluh harian, hingga akhirnya terjun dalam ajang POMNAS. Dia mengaku sangat senang serta bahagia dapat mengikuti POMNAS tersebut, terlebih lagi kampus putih memberikan dukungan penuh kepadanya. Baik itu dari aspek transportasi, akomodasi, hingga segala kebutuhan saat mengikuti kejuaraan tersebut. “Tentu hasilnya terbayar lunas. Segala rangkaian kegiatan mulai dari latihan yang padat, ikut Pra-PON, dan akhirnya ikut POMNAS dan pulang membawa medali. Terlebih, banyak sekali dukungan dair teman-teman dan keluarga,” ungkapnya. Terakhir, dia berpesan pada para atlet wanita agar tidak ragu untuk unjuk skill dan kemampuan. Menurtnya, prestasi itu tidak hanya terkait hal-hal akademik saja. Namun juga bisa melalui sektor-sektor non akademik, termasuk olahraga. “Sebagai atlet perempuan, kita bisa kok membanggakan dan menorehkan prestasi. Sekalipun di olahraga-olahraga yang didominasi kaum laki-laki. Jangan sungkan-sungkan menunjukkan bakat dan skill,” pungkasnya. (faq/wil)