Pengemis Menjamur, Dosen UMM Sebut Pemberi Perlu Diberi Sanksi

Baru-baru ini, kembali viral di media sosial terkait konten pengemis yang pura-pura cacat. Hal ini menarik perhatian dosen program studi Kesejahteraan Sosial (Prodi Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW. Ia mengingatkan kepada masyarakat akan adanya aturan dari dinas-dinas terkait termasuk dinas sosial, bahwa masyarakat dilarang memberikan uang pada pengemis. Hal tersebut dapat membuat si pengemis menjadi ketergantungan. Ujungnya hal ini dapat dijadikan pekerjaan. Apalagi jika melihat hasil dari mengemis jumlah yang di dapat cukup banyak dan dapat melebihi UMR. “Jika kita ingin menyalurkan jiwa filantropi atau kedermawanan, tidak harus memberikan uang kepada pengemis,” ucap Eko. Ia pun menuturkan, memberikan sumbangan atau bantuan melalui lembaga atau yayasan resmi yang telah diakui pemerintah membuat penyaluran jiwa filantropi kita lebih tepat sasaran. Misalnya kepada lembaga Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS), panti-panti asuhan, tempat ibadah, dan lembaga sosial lainnya. Eko menjelaskan, fenomena pengemis menjadi permaslaahan sosial yang tidak mudah diselesaikan. Semua pihak memiliki tanggungjawab untuk hal tersebut. Pemerintah, menurutnya, kurang tegas melakukan penindakkan hukum pada pengemis dan pemberi. “Agar populasi pengemis bisa berkurang atau hilang, aturan yang dibuat seharusnya dijalankan dengan baik dan benar. Orang yang memberi uang kepada pengemis, harus diberikan sanksi tegas sesuai dengan aturan agar merasakan efek jera. Jika pemberi jera terhadap kelakuannya, maka hal ini akan mengurangi populasi dari pengemis yang ada, “ tegasnya menambahkan. Eko pun mmenguraikan, hadirnya pengemis merupakan dampak dari faktor kemiskinan. Kemiskinan sendiri disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya pendidikan. Maka dari itu pendidikan menjadi trisula untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan ini. Tidak mudah untuk mengurangi populasi pengemis di jalan. Walaupun dinas sosial telah melakukan rehabilitasi kepada para pegemis dan mencoba untuk mengurangai populasinya, akan tetap muncul orang-orang baru yang menggantikan. Menurut Eko, salah satu hal yang dapat memutus rantai tersebut adalah hadirnya lapangan pekerjaan untuk menggantikan aktivitas mengemis tersebut. “Jika memungkinkan, para pengemis ini diberikan lapangan pekerjaan oleh pemerintah yang sesuai dengan kemampuan mereka. Jadi mereka benar-benar bisa menghasilkan dari pekerjaan-pekerjaan itu. Sehingga oada akhirnya bisa mengurangi bahkan menghilangkan aktivitas mereka di jalanan,” harapnya mengakhiri. (Dev/Wil)
Wiwin, Mahasiswa UMM yang Kembangkan Hobi Merajut jadi Bisnis

Belakangan ini, skill merajut tengah digandrungi oleh masyarakat. Banyak dari mereka mencoba belajar merajut untuk sekadar mengisi waktu luang atau membuka bisnis. Hal sama dirasakan oleh Wient Ramadhani, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahkan kini ia menjalankan berbagai workshop menarik, termasuk workshop merajut. Wiwin, sapaan akrabnya, telah menekuni rajutan sejak adanya wabah Covid-19 di 2020 lalu. Mulanya, ia mengaku bosan dan bingung ingin melakukan apa karena adanya peraturan pembatasan jam keluar (PPKM) yang dikeluarkan oleh pemerintah. “Karena tidak bisa kemana-mana dan kelasnya online, jadi lambat laun merasa bosan dan ingin mencari hobi baru selain membaca,” ucapnya. Berbekal hal ini, ia mulai mencari hobi baru untuk mengisi waktu luang dengan merajut yang dipelajari secara otodidak dari internet. Dari situ, ia berhasil berkolaborasi dengan event organizer untuk membuka workshop bertajuk Spotted Chunky Knit bag yang banyak digandrungi masyarakat. Hingga kini, selain mendapat keuntungan, hobi barunya itu juga memberikan banyak manfaat khususnya bagi masyarakat umum yang ingin belajar merajut dengan dirinya. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah 12 kali menyelenggarakan lokakarya untuk merajut tas di berbagai daerah. Tak hanya Malang Raya, lokakarya yang ia tekuni juga sudah berkeliling hingga Surabaya. Tak hanya merajut tas, ia juga gemar merajut pernak pernik seperti gantungan kunci, boneka dan lain sebagainya. “Saat pertama kali memberikan materi dan praktek, saya merasa agak takut. Apalagi belajar merajut cukup sulit dan tidak bisa diajarkan dalam waktu dua jam saja. Maka dari itu, saya membatasi jumlah peserta hanya 10 sampai 15 peserta saja tiap workshopnya,” tambahnya. Bisa dibilang, dengan adanya lokakarya yang ia lakukan memunculkan banyak peluang yang bisa didapatkan. Mulai dari peluang menambah uang saku, rasa percaya diri, hingga membangun relasi antar sesama. Berkat hobinya merajut ini, ia berhasil membuka produksi rajutan homemade yang tersedia di platform komersil. Tak hanya baginya, adanya lokakarya ini juga bisa membangun peluang bagi para peserta. Mereka bisa membuka lapangan pekerjaan baru. Maka dari itu, ia terus berinovasi agar lokakarya yang ia laksanakan dapat berkembang secara nasional. Ia juga memiliki rencana untuk mengembangkan lokakarya lain selain merajut tas yang ia jalani saat ini. Tapi tentu hal ini tidak akan mudah, karena ia harus beberapa kali belajar dan mencoba sebelum berani membuka kelas lokakarya baru. Apalagi, ia juga harus memperhatikan antusias peserta. Pemilik akun instragram @ini.rajutanku berpesan kepada anak muda untuk terus berani mencoba dan jangan takut gagal. “Tidak ada salahnya untuk mencoba walaupun progresnya perlahan-lahan. Meski kita masih muda dan mahasiswa, bukan berarti kita tidak bisa berinovasi. Jangan lupa juga mengejar pendidikan. Harus ada pembatas antara hobi, pekerjaan, dan perkuliahan. Semoga apa yang kita usahakan bisa memberikan banyak manfaat, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga masyarakat,” ucapnya mengakhiri. (Tri/Wil)