FKIP UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar, Kajiannya dari Debu hingga Aliran Sungai

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besar baru pada 20 Desember 2023. Kali ini ada tiga profesor yang datang dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP). Mereka adalah Prof. Dr. Ainur Rofieq, M.Kes., Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., dan Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd. Ketiganya memiliki fokus penelitian berbeda-beda dan memberikan warna baru untuk dunia pendidikan. Misalnya saya Rofieq yang mengkaji terkait hidup berbahagia bersama debu, yakni strategi pengelolaan debu rumah berkelanjutan menuju pencapaian tujuan SDGs. Ia sudah menekuni tema debu sejak 1989 dan menemukan berbagai hal menarik. Menurutnya, pengelolaan debu rumah dan tungau debu penting untuk mencapai berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). “Debu memiliki potensi alergi yang tinggi dan menyebabkan sensitisasi. Padahal, untuk mencapai SDGs membutuhkan lingkungan yang sehat, dan mengendalikan faktor lingkungan seperti debu dan alergen sangat penting untuk memastikan kualitas hidup yang lebih baik,” katanya. Menurutnya, perlu adanya pengembangan praktik pembersihan spesifik konteks untuk mengurangi dampak paparan patogen dan resistensi antimikroba. Menciptakan lingkungan yang bersih dengan desain bangunan berkelanjutan dapat membantu mengurangi beban penyakit. Integrasi keberlanjutan ke dalam pengelolaan debu rumah sejalan dengan tujuan SDG untuk mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan yang baik (tujuan 3), kota dan masyarakat yang berkelanjutan (tujuan 11), dan konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Tujuan 12). Adapula Abdulkadir yang meneliti terkait kebersamaan masyarakat untuk konservasi daerah aliran sungai (DAS) berkelanjutan. Ia mengatakan, DAS menjadi ekosistem terbuka dengan pasokan energi yang berkesinambungan. Segala sesuatu yang terjadi pada ekosistem hulu akan berpengaruh pada ekosistem di hilir. Ia menjelaskan, pemahaman masyarakat pada sub sistem di DAS seperti pemahaman terhadap capung, vegetasi riparian, dan makroinvertebrata sungai dapat membangkitkan motivasi, niat, dan rasa memiliki di kalangan anggota masyarakat. Apabila masyarakat DAS mamahaminya dengan baik, pada akhirnya mereka bersama-sama menjaga menjaga lingkungan tersebut demi kelangsungan hidup,” katanya. Penelitiannya membuktikan, partisipasi masyarakat akan tumbuh dengan baik jika mereka mengetahui gejala alam dan respons organisme. Pada konteks SDGs, partisipasi masyarakat (SDG 17) pada konservasi DAS mencerminkan integrasi dan interdependensi pada semua sektor pelestarian alam dan Pembangunan. Kontribusi yang telah dibangun akan berpengaruh pada lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Serta sesuai dengan firman Allah SWT pada surah Ali Imran (3:104). Terakhir, ada Yuni yang dalam orasi ilmiahnya membahas asesmen autentik dan literasi sains untuk meningkatkan kemampuan berpikir dalam pendidikan biologi dan IPA. Menurutnya, dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan penilaian yang tepat mampu memperbaiki kualitas pembelajaran. Dalam konteks pendidikan biologi atau IPA, penilaian autentik dirancang untuk membantu peserta didik belajar bagaimana belajar. Sedangkan bagi pendidik, asesmen autentik membantu untuk melakukan penilailan secara holistik meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor. Penilaian autentik merupakan penilaian yang berhubungan dengan desain penilaian dengan konteks dunia nyata. Peserta didik didorong untuk berpikir dan bertindak kreatif dan kritis, terlibat dalam proses eksplorasi, mempertimbangkan dan menyikapi suatu permasalahan secara kritis, serta memecahkan masalah secara realistis. “Prinsip asesmen ini sangat tepat digunakan dalam pembelajaraan yang menuntut peserta didik tidak sekadar memahai pengetahuan, tetapi juga diharapkan dapat memecahkan masalah kehidupan sepertinya hal tujuan pendidikan biologi dan IPA,” pungkasnya. (*wil)
Begini Pesan Direktur Garuda Indonesia untuk Wisudawan UMM

Nilai rata-rata di bangku kuliah tidak selalu menentukan kesuksesan. Hal itu disampaikan Direktur Utama PT. Garuda Indonesia (Persero) Irfan Setiaputra di hadapan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 19 Desember lalu. Dalam proses wisuda itu pula, turut hadir Rektor Universidade Dili Timor Leste Prof. Dr. Jose Agostinho da Costa Belo P. yang menandatangani kerjasama kolaboratif dengan Kampus Putih di berbagai bidang. Lebih lanjut, Irfan bercerita bahwa ia memerlkan 13 semester untuk bisa menyelesaikan dan meraih predikat sarjana informatika. Nilai yang ia peroleh juga hanya mencapai rata-rata. “Jenjang kuliah yang lama dan nilai selalu stuck rata-rata, membuat saya mendapatkan stigma bahwa saya tidak akan bisa menjadi orang besar. Namun saya bisa membuktikannya dan mematahkannya dengan menjadi CEO di PT. Garuda Indonesia,” katanya bercerita. Ia mengaku tidak pernah malu untuk selalu bermimpi tinggi. Diremehkan dan selalu dipatahkan oleh lingkungannya, tidak menghalangi dirinya untuk mewujudkan mimpi yang ia punya. Menurutnya, proses yang lama perlu disyukuri karena dari hal itu, dirinya bisa merasakan arti dari proses yang alami. Tidak hanya itu, berawal dari mimpi yang ia punya, ia memberanikan diri untuk mengambil tantangan yang menguji diri. Salah satunya saat pandemi Covid-19 lalu. ia mengambil berbagai keputusan berisiko bagi maskapai Garuda, hingga akhirnya bisa melewati masa krisis dengan baik. “Walaupun saya merasakan burn out dan stres yang luar biasa, namun saya berusaha berpikir positif sembari mencari jalan keluar. Saya selalu yakin masalah bisa terselesaikan meski membutuhkan waktu yang lebih lama. Saat itu saya mengambil keputusan restrukturisasi berdasarkan banyak hal. Berkat dukungan keluarga, saya bisa membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan saya, Garuda Indonesia bisa terselamatkan,” ungkapnya dengan bangga. Ia menilai, semua impian bisa ia wujudkan karena selama proses, ia selalu fokus dan bahagia dalam menjalaninya. Sehingga lingkungan sekitar bisa merasakan hal yang sama dan meningkatkan produktivitas mereka. Selain itu, kunci kesuksesan yang unik adalah dengan menikmati berbagai proses dan tidak mengeluh. Senantiasa menghargai dan berbuat baik pada semua orang akan mempengaruhi jalan yang ditempuh. “Kalina harus berani keluar dari zona nyaman dan memaknai setiap proses kehidupan. Dengan begitu, kalian bisa membentuk diri menjadi orang yang hebat. Mengemban gelar merupakan tanggung jawab yang besar bagi diri sendiri, maka dari itu mari bangkitkan semangat dan jadilan generasi yang lebih hebat dari orang-orang hebat yang kalian lihat sekarang. Saya sudah berhasil membuktikannya, sekarang giliran anda,” pungkasnya. (*ri/wil)