Banyak Kasus Bunuh Diri, Dosen UMM Sebut Nilai Pancasila Harus Dikuatkan

Baru-baru ini, banyak kasus bunuh diri muncul dengan alasan latar belakang ekonomi. Tak hanya membunuh diri sendiri, sejumlah kasus bahkan melibatkan beberapa anggota keluarga, seperi ayah, ibu dan anak. Dosen program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Prodi PPKn) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Moh. Wahyu Kurniawan, S.Pd., M.Pd. menyampaikan, kejadian ini seharusnya dapat dicegah. Utamanya dengan kepedulian antar tetangga dalam lingkungan sosial yang merupakan salah satu esensi dari Pancasila sila ke 2, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. “Jika kita ingin damai di masyarakat, maka kita harus memanusiakan manusia dengan hubungan yang harmonis antar tetangga, saling menghormati, memahami, dan toleransi,” ucap Wahyu. Jika tidak ada kepedulian di masaarakat, lanjut Wahyu, maka rasa persatuan dan kesatuan juga akan merenggang. Ini membuat terputusnya tali silaturahmi antar sesama, terutama warga di lingkup yang sama. Rasa damai tidak akan tercipta, hidup juga akan terasa lebih berat. “Maka dari itu sangat penting untuk mengimplementasikan nilai Pancasila di kehidupan bermasyarakat,” tuturnya. Untuk menghindari kejadian serupa di kemudian hari, Wahyu menuturkan pentingnya kedekatan dan keterbukaan. Jangan malu untuk menceritakan masalah yang sedang kita alami kepada orang terdekat serta jangan menganggap apa yang kita ceritakan adalah aib yang harus ditutupi. Aktif dalam kegiatan masyarakat juga dapat menjadi energi di dalam diri setiap individu, mendewasakan diri, dan membuka pola pikir yang luas dalam menghadapi suatu permasalahan. “Banyak bersosialisasi akan membuat kita mampu mengambil solusi yang tepat dalam sebuah masalah. Selain itu, memaksimalkan program kemasyarakatan baik secara formal maupun informal melalui civic engagement  dapat peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif di dalam diri. Termasuk juga ikut berpartisipasi dalam hal pembuatan kebijakan baik di lingkungan tetangga ataupun masyarakat,” tambahnya. Di akhir, Wahyu berpesan agar masyarakat tidak meniru kejadian yang sudah terjadi. Setiap individu perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, manusia harus hidup berdampingan. Peka pada lingkungan sekitar dan terus bersosialisasi, melakukan komunikasi serta interaksi. Dengan demikian  akan muncul values untuk saling peduli dan memahami. “Saling membangun diri untuk hidup bersama agar tidak mudah mencari solusi secara singkat dan menimbulkan dampak yang tidak baik bagi diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya.  (dit/wil)

Muji, Sosok Maba UMM Juara Tilawah Tingkat Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyumbangkan prestasi membanggakan di ajang nasional. Kali ini Mujahidin, mahasiswa baru prodi Pendidikan Agama Islam (PAI)  berhasil meraih juara 3 pada lomba tilawah nasional UNNES Islamic Fair 2023. Adapun kompetisi ini diselenggarakan pada tanggal pertengahan Desember ini. Muji, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa kemenangan itu tak lepas dari keaktifannya di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musabaqah Tilawah Al-Qur’an (MTQ). Apalagi ia memang percaya diri bahwa ia mempunyai bakat dan potensi yang besar. Tidak hanya itu, dengan menjadi bagian MTQ UMM, Muji banyak mendapatkan benefit yang besar. “Alhamdulillah para coachnya profesional dan punya relasi yang luas. Jadinya ada banyak kesempatan lomba yang bisa saya coba,” katanya. Dalam proses latihan sebelum lomba, Muji sering berlatih hingga malam. Bukannya merasakan rasa bosan dan capek, Muji malah sangat menikmatinya. Mulai dari mengecek intonasi nada, menjaga cara menyebut tajwid dan makhroj, serta melatih lagu adalah hal yang ia lakukan saat latihan. “Tiap mau lomba, saya selalu fokuskan ke intonasi suara karena intonasi merupakan poin utama dalam tilawah. Saya juga telah membuktikan bahwa latihan keras pasti akan membuahkan hasil,” tegasnya. Lebih lanjut, Muji juga menjelaskan pentingnya menjaga suara dengan rahin latihan dan pola hidup. Jika sakit atau pilek, ia mengaku akan kesusahan untuk mengaji dan menikmati hobinya. Setiap kali mengikuti lomba, ia juga selalu menjaga fokus dan tekniknya. Misalnya dengan melenturkan otot agar tubuhnya tidak tegang. Menariknya, cara itu merupakan trik turun temurun yang dilakukan oleh keluarga besarnya. Mahasiswa asal NTB itu memang sudah lama menekuni bidang tilawah. Lahir di keluarga qori, membuatnya terdorong untuk mengikuti jejak keluarga. Menurut Muji, ayahnya merupakan inspirasi paling besar untuk selalu cinta kepada tilawah Alquran. Ayahnya selalu meyakini bahwa Alquran adalah mukjizat dan buku paling ajaib. Terakhir, Muji juga bertekad untuk selalu menyumbangkan prestasi bagi Kampus Putih. Ia ingin menjadi mahasiswa yang selalu mengharumkan nama kampus di bdiang tilawah. “Meyakini diri mempunyai potensi adalah salah satu bentuk rasa syukur kita sebagai makhluk ciptaan Allah. Maka dari itu, teman-teman harus bersemangat mengasah potensi dan menjadi bintang di bidang yang ditekuni,” pungkasnya. (*ri/wil)