Dosen UMM Beri Tips Hindari Sengatan Listrik saat Banjir

Sebagian besar wilayah Indonesia tengah menghadapi musim penghujan. Saat curah hujan tinggi, beberapa daerah bahkan terendam banjir.  Pada kondisi ini beberapa hal berbahaya turut mengancam. Salah satunya adalah sengatan listrik yang tak jarang menyebabkan korban jiwa. Ir. Diding Suhardi, MT.,IPM., ASEAN Eng dosen Program Studi Teknologi Elektronika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, kondisi banjir memang menimbulkan resiko tersengat arus listrik. Maka dari itu, masyarakat perlu melakukan beberapa langkah guna melindungi keselamatan jiwa sekitarnya. “Pertama, saat banjir masyarakat dianjurkan untuk mematikan listrik dari Meter Circuit Breaker (MCB) di kWh meter agar terhindar dari bahaya sengatan aliran listrik. Kedua, cabut seluruh peralatan listrik yang masih terhubung dan naikkan semua peralatan elektronik ke tempat yang lebih aman,” kata Diding. Selain itu, menurut Diding yang tak kalah penting adalah memastikan aliran listrik telah dimatikan oleh PLN.  Masyarakat harus berinisiatif untuk segera menghubungi Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hal ini penting untuk menghindari jatuhnya korban. “Apabila terjadi banjir dan listrik belum dipadamkan oleh PLN, segera laporkan melalui call center atau hubungi kantor PLN terdekat,” tambahnya. Ketiga, segera amankan peralatan elektronik yang masih bisa ditolong untuk dipindahkan ke tempat yang tinggi atau tempat yang sekiranya tidak terjangkau oleh banjir. Namun, jika sudah terlanjur mengenai air banjir maka tunggulah sampai banjir benar-benar surut. Diding mengatakan, sebelum peralatan elektronik digunakan kembali, masyarakat bisa menjemurnya terlebih dahulu. Lalu pastikan semua alat elektronik dan instalasi listrik dalam keadaan kering untuk kemudian digunakan kembali. “Penormalan listrik oleh PLN biasanya akan dilakukan apabila instalasi PLN maupun warga sudah dapat dipastikan dalam kondisi kering dan siap dialiri listrik kembali,” jelasnya. Selain hal-hal di atas, saat membangun rumah juga penting mengantisipasi kondisi banjir dari sungai atau saluran air terdekat dari rumah tersebut. Sebaiknya membangun rumah yang lebih tinggi dari jalan dan saluran air sekitar. Memasang instalasi listrik rumah juga hendaknya dengan ketinggian standar. Minimal harus setinggi 120 cm dari permukaan lantai di rumah. Terakhir, gunakan komponen listrik yang sesuai dengan Standar PT PLN (SPLN). Masyarakat  juga diharapkan mempunyai peralatan pemutus dan penyambung daya listrik yang sesuai standar SPLN juga memasang Earth-Leakage Circuit Breaker (ELCB) pada induk jaringan (dekat MCB) agar tidak terjadi hubung singkat ke manusia. “Saya harap masyarakat bisa lebih aware dengan memasang ELCB. Karena hingga saat ini, masih banyak rumah tinggal yang tidak dilengkapi dengan ELCB yang menyebabkan masih banyaknya korban manusia tersengat listrik,” pungkasnya. (*dev/wil)

Daur Ulang Daun Sereh, Mahasiswa CoE Essential Oil UMM Ciptakan Pembersih Lantai Alami

Salah satu upaya untuk mengurangi limbah organik adalah dengan menggunakan hal yang dianggap tidak berguna menjadi produk yang bermanfaat. Hal itu pula yang dilakukan oleh mahasiswa Center of Excellence (CoE) Essential Oil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka memanfaatkan daun sereh untuk dijadikan sebuah produk pembersih lantai. “Biasanya kita kan hanya memanfaatkan bagian batangnya saja untuk diolah menjadi bumbu dapur atau obat. Sementara daunnya dibuang begitu saja. Kali ini, mahasiswa CoE dari prodi kehutanan sukses membuatnya menjadi pembersih lantai,” kata Galit Gatut Prakosa, S.Hut., M.Sc. Selaku Kepala Program Studi Kehutanan UMM. Baca juga : Empathy Circle Bawa Mahasiswa UMM Ini Songsong Final Duta Kampus Jatim Galit, panggilan akrabnya, mengatakan, produk ini berawal dari proses magang profesional CoE. Mereka memang diharuskan ikut magang di sederet perusahaan penyedia bibit dan pembeli hasil panen. Misalnya yang perusahaan penyedia sereh ada di Blora dan juga mesin pnyulingan di Yogyakarta. Mereka tergerak ketika melihat banyaknya daun sereh yang dibuang begitu saja padahal bisa dimanfaatkan menjadi sebuah produk menarik. Ada beberapa tahap proses pembuatannya. Daun sereh diproses melalui penyulingan, diberi campuran zat lain seperti. Beberapa zat yang ditambahkan yakni biosoft 0,5%, EDTA, Citronella Oil, NP10 0,8%, BKC 0,5%, Aquadest. Kemudian didihkan hingga terjadi penguapan. Uap inilah yang didinginkan dan menghasilkan cairan. “Pembuatan karbol daun sereh ini telah mendapatkan izin dari Perbekalan Kesehatan Dalam Negeri (PKD)  yang telah diproses bersamaan dengan pembuatan produk itu sendiri. Proses izinnya sekitar bulan Maret tahun lalu, dan saat ini telah resmi dinyatakan aman,” katanya. Baca juga : MSG Mengandung Racun, Begini Kata Dosen UMM Galit juga mengatakan, produk karbol itu tentu aman untuk keluarga yang mempunyai balita. Apalagi melihat bahan bakunya yang alami yakni daun sereh. Selain itu, baunya yang alami juga menjadi kelebihan tersendiri. “Karena telah mendapatkan izin dari PKD, kami sudah memasarkannya ke beberapa tempat. Diawali dengan wilayah dekat kampus dan mengenakannya pada masyarakat,” jelasnya. Pihaknya memang sangat aktif dalam menelurkan inovasi. Utamanya dengan mendorong mahasiswa untuk mencoba berbagai hal dan mmenciptakan produk bermanfaat. Bahkan sebelumnya, ada beberapa mahasiswa yang sukses membuat minyak alami untuk relaksasi. (*ri/wil)