Andai Aku Menteri Pendidikan jadi Tema Lomba Video Pendek RBC UMM

Untuk mendorong kreativitas dan aspirasi siswa dalma dunia pendidikan, Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan lomba video pendek. Agenda yang mengangkat tema “Andai Aku Menjadi Menteri Pendidikan ini dilaksanakans selama tiga bulan dan pemenangnya diumumkan pada pertengahan Januari ini. Turut hadir Hari Obbie, pemilik akun Youtube Kamujugabisa sebagai juri. Koodinator panitia, Manda Danastri menjelaskan, kompetisi video pendek itu berhasil menarik lebih dari 30 peserta dari SMA dan SMK di seluruh Indonesia. Para peserta diberikan kesempatan untuk menuangkan ide, gagasan, dan harapan mereka terhadap peran seorang Menteri Pendidikan yang ideal. “Kompetisi ini juga menjadi wadah bagi sisa-siswi Indonesia untuk menyuarakan aspirasi terkait dunia pendidikan di Indonesia,” tegasnya. Manda juga mengatakan bahwa ia dan tim sangat bangga dengan semangat dan dedikasi teman-teman SMA dan SMK. Apalagi mereka mampu menyampaikan pesan-pesan positif terkait pendidikan. Menurutnya, ini menjadi salah satu cara anak muda berkotribusi memberikan perubahan yang baik dan inovasi yang mumpuni. Lomba video RBC UMM ini juga diharapkan dapat menjadi  inspirasi bagi para pelajar untuk terus berpikir kreatif dan proaktif dalam menyuarakan ide-ide mereka. Dengan demikian, mereka turut berperan dalam membentuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Addapun pemenang utama Lomba Video Pendek ini berhasil diraih oleh Diva, siswi dari SMA Negeri 1 Polewali, dengan judul video kreatif ‘Generasi yang Berkualitas Butuh Pendidikan yang Berkualitas’. Dalam videonya, Diva mengangkat isu penting tentang kualitas pendidikan yang dibutuhkan oleh generasi masa depan. Keberhasilan suatu bangsa ditentukan oleh seberapa bagus pendidikan yang ada di negara tersebut. Sementara itu, posisi runner-up ditempati oleh Rayyan, siswa dari MBS Al-Amin Bojonegoro. Ia membuat video yang menginspirasi berjudul ‘Membingkai Pendidikan Indonesia Lebih Baik Lagi’. Rayyan berhasil menarik perhatian juri dengan visinya tentang upaya bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Selain kedua pemenang tersebut, terdapat juga tiga pemenang hiburan yaitu kategori favorit, kategori cinematic most Vviews, dan kategori terunik. Acara penutupan Lomba Video Pendek itu juga diselenggarakan dengan penuh semangat di RBC Institute Abdul Malik Fadjar dengan talkshow Bersama Hariobbie. Pemenang-pemenang diumumkan dan diberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan ketajaman pandangan mereka terhadap dunia pendidikan. (*wil)

Begini Penjelasan UMM tentang Matematika di Kurikulum Merdeka

Beberapa waktu lalu viral sebuah video yang memperlihatkan seorang ayah tengah kesulitan mengajarkan matematika dengan konsep kurikulum merdeka kepada anaknya. Benarkah kemampuanmatematika anak saat ini menurun? Melihat fenomena ini, Reni Dwi Susanti, M.Pd. Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan tentang konsep merdeka yang digunakan pada kurikulum di Indonesia saat ini. Dalam kurikulum matematika yang merdeka, siswa diberikan kebebasan untuk menemukan pola, merumuskan hipotesis, dan menyusun strategi penyelesaian masalah mereka sendiri. Dalam kurikulum merdeka, siswa menjadi subjek utama dalam pembelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping dalam proses belajar siswa. “Mereka diajarkan untuk berpikir kreatif dan logis serta melihat matematika sebagai sebuah proses eksplorasi dan eksperimen. Bukan hanya sebagai kumpulan rumus yang harus dihafalkan,” jelas Reni. Tujuan pendekatan ini ialah untuk menghasilkan siswa dengan pemahaman matematika yang kuat dan mampu menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, siswa dapat menjadi individu yang mandiri serta kritis, baik dalam memecahkan masalah matematika maupun non-matematika. Karena perubahan ini, beberapa siswa mungkin kesulitan dalam beradaptasi dengan metode pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya. Sementara guru juga mungkin memiliki kendala dalam merancang dan melaksanakan kurikulum merdeka dengan baik. “Kurangnya tenaga pengajar yang berkualitas dan berpengalaman juga menjadi masalah, sehingga dapat mempengaruhi pemahaman siswa terhadap matematika,” ucapnya. Orang tua pun mungkin merasa bingung, sebab mereka tidak tahu bagaimana mendukung anak-anaknya dalam belajar menggunakan metode baru ini. Seperti yang kita ketahui, tidak semua sekolah memberikan fasilitas lengkap dan tidak semua orang tua memiliki kemampuan lebih dalam memberikan fasilitas pendidikan untuk anaknya. Misalnya dalam hal teknologi. Maka, agar konsep ini berjalan dengan baik dan efektif, Reni berharap guru dapat merubah mindset untuk menjadi lebih inovatif dalam pendekatan pembelajaran. Guru atau pengelola pendidikan juga diharapkan dapat merancang dan melaksanakan sistem evaluasi yang memadai untuk mengukur pencapaian siswa sesuai dengan kurikulum. “Kurikulum merdeka ini kan lebih menekankan pada penilaian berbasis keterampilan dan proyek. Jadi ini mungkin akan menjadi tantangan bagi para guru atau pengelola pendidikan,” pungkasnya. (*dev/wil)