Bedah Buku Tak Kenal Maka Taaruf di UMM: Mengkaji Perbedaan Sastra antar Zaman

Bedah buku salah satu karya menarik dari Mim Yudiarto dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 28 Februari 2024 lalu. Buku berjudul ‘Tak Kenal Maka Taaruf’ itu menarik banyak perhatian peserta yang turut hadir. Saat mulai bicara, Mim mengungkap rasa kagum karena giat goes to campus bukunya di UMM menjadi acara yang paling meriah di antara yang lain. “Saya sudah berkunjung ke ISI yogya, ISI Solo, IPB, dan lainnya. Alhamdulillah ini yang paling meriah dan ramai. Apalagi dengan konsep yang menarik seperti ini,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Mim sedikit membahas latar belakang penyusunan karya tersebut. Novel itu merupakan novel yang nantinya diproyeksikan menjadi sebuah film. Bermula dari tantangan untuk menciptakan sebuah novel yang bergenre sulit. Yakni cerita yang di dalamnya memuat nuansa religi, romansa, komedi, dan memiliki nilai edukasi. “Saya awalnya ditantang oleh mas Fajar Bustomi, seorang sutradara dari film dilan. Banyak sekali syarat yang diminta, utamanya terkait target pasarnya. Yaitu kalangan mahasiswa pra-nikah. Saya diberi waktu satu bulan untuk menyelesaikan project itu. Saya tertantang dan akhirnya selesai hanya dalam waktu delapan hari saja,” ceritanya. Pria asal Banyuwangi itu juga memberikan beberapa tips kepada penulis muda dan pemula dalam menulis sebuah buku. Ia menekankan, karya sastra itu tidak bisa langsung dinilai bagus atau tidaknya. Jangka waktu pengerjaan juga tidak dapat ditentukan dengan deadline tertentu, terlebih sastra adalah karya mengolah rasa dan imajinasi. “Penulis muda atau pemula itu kebanyakan berpikir tentang bagus tidaknya karya yang dibuat. Padahal sejatinya, karya sastra yang bagus adalah karya yang tuntas. Jangka waktu pengerjaan juga berbeda-beda tiap buku. Saya punya buku yang rampung dalma waktu yang cukup lama, yakni dua tahun,” kata Mim. Sementara itu, Prof. Dr. Setya Yuwana, M.A. selaku pembedah buku mengungkapkan, setiap masa pasti ada sastrawan yang menjadi sosok idola. Seperti dahulu di tahun 1976-1980 yang mana merupakan era dari Ashadi Siregar dengan karya Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, Ali Topan Anak Jalanan dan lainnya. Tentu zaman dahulu juga punya gaya penulisan dan bahasa yang memang relevan pada era itu. Saat ini pun juga demikian, bentuk karya sastra juga mengalami perkembangan gaya tata bahasa dan minatnya yang berbeda. “Sekarang ini eranya gen Z, ya tentu sudah berbeda dengan zaman dulu. Banyak inovasi dan nilai-nilai yang relevan dalam sebuah karya masa kini,” ungkapnya. Hal serupa juga disampaikan Guru Besar Bidang Bahasa dan Sastra Indonesia UMM Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si. yang juga turut membedah buku. Menurutnya, terdapat keunikan dalam karya sastra saat ini. Yakni adanya pembelokan diksi pepatah yang saat ini dapat diartikan menjadi hal yang baru. Menurutnya, itu juga bukan menjadi suatu masalah apabila diksi tersebut membangun. “Pepatah itu dibelokkan. Misalnya dari ‘tak kenal maka tak sayang’ menjadi ‘tak kenal maka taaruf’. Bisa juga menghasilkan tafsir yang berbeda. Misalnya ‘masih belum kenal, ya kenalan’. Ini menjadi segmen yang membedakan cara pandang generasi lama era 80-90an dengan era gen Z saat ini,” tuturnya mengakhiri. (Faq/Wil)

Ini Sosok Ike, Wisudawan Berprestasi UMM yang Lulus tanpa Skripsi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melaksanakan wisuda ke-112, Februari ini. Pada wisuda tersebut, lahir wisudawan yang memiliki segudang prestasi. Ia adalah Ike Trisdayanti, wisudawati Program Studi (Prodi) Akuakultur yang berhasil menyabet gelar wisudawan berprestasi. Tak dapat dipungkiri, semasa kuliah Ike berhasil berbagai penghargaan dan kejuaraan. Salah satunya medali emas kategori poster dan perunggu pada kategori presentasi di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2023 lalu. “Pada Pimnas 2023 lalu, dua judul saya lolos ke Pimnas dan menghasilkan medali. Kemenangan itu juga membuat saya bisa lulus tanpa skripsi dan akhirnya bisa wisuda dengan baik,” jelas wisudawan jurusan Akuakultur itu. Kedua PKM tersebut membahas aspek yang sama yakni mengenai pencegahan penyakit udang dengan bacteriofage. Yakni mencegah penyakit AHPND Acute Hepatopancreatic Necrosis Deasea. Penyakit tersebut menyerang udang, menyebabkan organ pencernaan seperti usus tengah, hepatopankreas, dan lambung berwarna pucat dan kosong. Adapun wisudawan asal Blitar tersebut lahir di keluarga sederhana. Ayahnya membuka warung kopi kecil-kecilan di kampung halaman. Sementara sang ibu adalah ibu rumah tangga. Meski begitu, ia memiliki tekad kuat untuk meraih sarjana dan berprestasi. Ia ingin membuktikan bahwa berangkat dari warung kopi, ia bisa menciptakan prestasi dan mampu mengharumkan nama Kampus Putih. Menurut Ike, berkuliah di UMM membuka banyak pintu. Ia bisa dengan mudah menyalurkan potensinya. Misalnya saja berorganisasi di berbaga wadah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), himpunan jurusan, dan lainnya. Saat mahasiswa, ia menjabat sebagai sekretaris umum himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) Akuakultur. Ia juga aktif melakukan penelitian dan membantu dosen dengan menjadi asisten laboratorium di beberapa mata kuliah serta bioteknologi. Wisudawan yang memiliki IPK 3,98 ini bercerita bahwa perjalanan kuliahnya tak begitu mudah. Banyak yang harus ia kejar dan korbankan pada waktu itu. Ia harus membagi waktu penelitian, asisten laboratorium serta berorganisasi. Ia mengatakan bahwa menentukan prioritas adalah hal yang utama. “Jadi, saat aktif kuliah, saya sampai bisa pulang malam demi melakukan penelitian. Semoga berbagai pengalaman dan ilmu dari UMM membuka banyak pintu bagi saya untuk berkembang. Terimakasih UMM sudah membantu saya meraih mimpi dan cita-cita,” tambah mengakhiri. (Tri/Wil)