Dosen UMM: Buku Penugasan Ramadan Berperan Bentuk Karakter Anak

Bagi anak-anak, Ramadan identik dengan buku aktivitas Ramadan. Mulai dari untuk keperluan laporan salat hingga tarawih. Terkait ini, Dr. Erna Yayuk, S.Pd., M.Pd dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa penugasan buku Ramadan sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Ini menjadi alat self-asessment untuk memantau perkembangan kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan. “Melalui buku ini, guru, orang tua, atau wali dapat membimbing anak dalam mengikuti kegiatan Ramadan. Ini juga dapat meningkatkan kecerdasan spiritual anak, memperkuat rasa keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Puasa sebagai salah satu rukun Islam akan membentuk karakter tangguh, sabar, ikhlas dan solidaritas,” ujarnya. Tak hanya itu, Erna juga menuturkan bahwasanya buku aktivitas Ramadan dapat meningkatkan nilai-nilai karakter seperti jujur, tanggung jawab, toleransi dan empati. Anak juga akan mendapatkan pengetahuan agama yang meningkatkan kecerdasan intelektual melalui kajian-kajian pada bulan suci ini. “Buku penugasan Ramadan menjadi alat efektif karena terdapat jadwal puasa, salat lima waktu dan tarawih yang perlu ditandai dengan tanda centang jika telah dilaksanakan. Ada juga kolom ceramah setelah salat tarawih yang perlu diisi dengan tema ceramah, nama penceramah dan tanda tangan. Biasanya Buku kegiatan Ramadan juga berisi laporan pelaksanaan salat wajib dan salat sunah selama bulan Ramadan,” katanya. Ada juga tadarus Al-Quran dengan menuliskan nama surat dan ayat yang dibaca dan tanda tangan pembimbing. Dengan mengisi buku kegiatan Ramadan dengan baik, anak-anak akan terbiasa menjalankan ibadah dan kegiatan keagamaan secara teratur dan tertib. Tidak hanya itu, buku aktivitas Ramadan juga berisi tugas-tugas yang membantu anak-anak memahami dan mengembangkan disiplin diri serta pengendalian diri. Tugas-tugas ini termasuk menjalankan puasa untuk memahami kesabaran, membuat jadwal harian untuk menghargai waktu dan mengikuti aturan dalam keluarga atau sekolah untuk menghormati otoritas. “Buku Ramadan membantu meningkatkan karakter jujur dan tanggung jawab pada anak-anak. Mengajarkan mereka untuk mempraktikkan nilai-nilai seperti keteladanan dan pembiasaan sejak dini. Selain itu, buku ini juga memupuk sikap peduli melalui puasa, mengajarkan toleransi terhadap orang lain yang sedang berpuasa, serta meningkatkan rasa empati dan simpati terhadap sesama. Melalui pengalaman menahan haus dan lapar, anak-anak belajar menghargai nikmat yang dimiliki dan menjadi lebih peduli terhadap sesama yang kurang mampu, memperkuat sikap sosial dan kemanusiaan mereka,” tandas Erna. Di akhir, Erna mengajak para orang tua untuk turut aktif mendampingi anak-anak selama bulan Ramdan termasuk dalam mengisi buku aktivitas Ramadan anaknya. Buku itu menjadi media penting dalam mendidik individu tentang adat istiadat dan praktik terkait Ramadan serta nilai-nilai karakter dalam Islam. Buku ini juga menyoroti kemampuan anak dalam beradaptasi dengan Ramadan, perannya dalam perubahan sosial dan inovasi budaya, serta pentingnya promosi kepedulian sosial. “Dengan pendampingan orang tua, buku Ramadan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta mempromosikan keadilan sosial dan ekonomi dalam komunitas anak-anak muslim,” pungkasnya. (bal/wil)
Safari Ramadan UMM: Kolaborasi Jadi Kunci Cetak Generasi Unggul

Dalam kehidupan sosial, sering kali muncul perbedaan pendapat dan kesalahpahaman. Hal ini dapat dipicu lantaran adanya perbedaan tingkatan sosial atau perbedaan pemikiran antar satu sama lain. Contoh kecilnya seperti di lingkungan pendidikan, yakni ketika dosen memberikan tugas namun mahasiswa belum memahinya dengan baik. Dibalik hal ini, sebenarnya perbedaan dapat diatasi dengan adanya kolaborasi. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Drs. Joko Widodo, M.Si. selaku Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Safari Ramadan UMM 21 Maret lalu. Menurutnya, setiap generasi memiliki budaya dan cara bersosial yang berbeda. Namun, hal ini bukan malah menjadi ajang untuk saling menyalahkan dan membandingkan. Namun, perbedaan ini dapat dijadikan sebuah momen untuk membentuk sikap dan budaya baru yang dinamakan kolaborasi. “Ada yang bilang bahwa setiap generasi itu membawa zamannya sendiri-sendiri. Dengan adanya kolaborasi dan keteladanan, Insyaallah kita dapat bertransformasi ke arah yang lebih baik,” tambahnya. Lebih lanjut, setiap generasi memiliki tantangan model yang berbeda. Contohnya jika pada generasi junior atau gen Z saat ini banyak yang terbawa arus berlebihan, tidak hormat kedua orang tua, memiliki tingkat pengetahuan tinggi, dan mengikuti perkembangan teknologi. Lain halnya dengan generasi senior yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur namun kurang mengerti perkembangan teknologi. Artinya, bukan berarti salah satu generasi lebih unggul di antara lainnya, namun hal ini dapat digunakan sebagai ajang untuk menumbuhkan kultur baru. Terkadang, risiko dalam berkolaborasi ialah karakter setiap orang yang bermacam-macam. Maka sikap saling mengenal bisa meminimalisir gesekan antar orang. Ini menjadi kunci utama dalam membangun relasi. Untuk itu, generasi senior perlu mempersiapkan cara untuk menghadapi generasi muda sesuai zamannya. “Jangan sampai cara yang digunakan itu dapat membelenggu generasi junior untuk mengembangkan potensinya. Sebagai contoh, terkadang orang tua yang protektif dan tidak memperbolehkan anak mengejar impiannya. Jika hal ini diteruskan maka yang ada anak tersebut menjadi tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan dan hanya bergantung pada orang tuanya saja,” katanya. Selain itu, Joko mengatakan, jangan sampai generasi senior mendidik anak muda dengan prinsip transaksional. Maksudnya adalah dengan menerapkan prinsip perhitungan terhadap apa yang telah dilakukan. Sebagai contoh, ketika melakukan kebaikan, kita juga mengharapkan imbalan dari orang yang kita tolong tersebut. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si menyampaikan bahwa Safari Ramadan diharapkan mampu memperkuat tali silaturami antar anggota sivitas UMM. Menjalin silatrahmi demi mencetak generasi unggul berwawasan Islam kemuhammadiyahan. Hal ini akan membawa transformasi UMM yang mengedepankan nilai-nilai keislaman juga teknologi untuk membentuk karakter generasi muda yang unggul. “Terakhir, harapannya Safari Ramadhan ini dapat menjadi pegangan sivitas akademika UMM untuk melakukan transformasi sehingga mampu mencapai keberhasilan mengelola pendidikan perguruan tinggi,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)