Keren, Informatika UMM Raih Akreditasi Internasional

Kabar gembira kembali datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini Program studi Informatika UMM berhasil mendapatkan akreditasi internasional dari lembaga Akreditasi International Accreditation Board for Engineering Education (IABEE). Informatika UMM resmi mendapatkannya sejak 31 Maret 2024. Ini juga sejalan dengan milestone UMM yang menargetkan pada tahun 2026 setiap prodi mendapatkan rekognisi Internasional. Ir. Galih Wasis Wicaksono, M.Cs selaku ketua program Studi Informatika UMM mengatakan bahwa pihaknya memang telah mendapatkan banyak penghargaan sejak lama. Salah satunya Provisional Accreditation (PA) IABEE. “Keikutsertaan dalam PA ini juga menjadi upaya kami untuk mewujudkan rekognisi pemenuhan kriteria-kriteria General Accreditation (GA) dari IABEE. Berdasarkan hasil PA tersebut, kurang lebih satu tahun dari April 2023 hingga Maret 2024 kami mengikuti seleksinya,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa selama persiapan dan pelaksanaan penilaian akreditasi, ada taskforce khusus yang sudah disiapkan. Salah satunya terkait kurikulum yang berbasis luaran atau Outcome Based Education (OBE). “Selain itu, kami juga harus menyesuaikan dengan program pemerintah. Kami yakin, terdapat korelasi yang positif dengan misi kami untukmemajukan prodi Informatika UMM” katanya. Puncak pelaksanaan akreditasi GA IABEE trrlaksana saat visitas yang dilakukan untuk proses validasi dan verifikasi. Adapun kebethasilan meraih akreditasi internasional ini menjadikan Informatika UMM menjadi prodi informatika universitas Islam pertama di Indonesia yang terakreditasi IABEE. “Di wilayah Malang Raya, hanya prodi Informatika UMM yang telah terakreditasi Internasional GA IABEE. Hal ini menjadi rekognisi eksternal sekaligus afirmasi positif bagi tim yang telah menjadi bagian dalam menjaga komitmen peningkatan mutu dan kualitas pendidikan berorientasi internasional. Mendapatkan akreditasi internasional menjadi dorongan bagi prodi Informatika UMM untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agar melahirkan sarjana yang berkompeten. Selain itu juga menjadi inspirasi bagi seluruh institut pendidikan di seluruh Indonesia untuk mengejar standar internasional yang lebih tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan” pungkasnya. (*/ri/wil)

Pakar UMM: Perang Iran dan Israel Berdampak pada WNI di Timur Tengah

Ketegangan yang sedang terjadi di Timur Tengah antara Iran dan Israel masih menjadi perbincangan hangat. Meluncurkan serangan terbuka ke Israel adalah pertama kalinya Iran lakukan, walaupun harus melewati wilayah kedaulatan Irak, Suriah, dan Jordan. Menanggapi hal tersebut Prof. Gonda Yumitro ,SIP.,MA .,PhD, selaku dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa pengaruh Indonesia sebagai negara diplomatik tidak akan terkena masalah geopolitik selama peperangan tersebut tidak berlanjut. Ia mengajaka untuk melihat sejarah pada tahun 1979, yakni Revolusi Ruhullah Khomeini mengkudeta Shah dan mendirikan Republik Islam Iran. Salah satu identitas utama Khomeini adalah tidak menerima imperialisme Amerika Serikat dan Sekutunya Israel. Sejak saat itu, hubungan dengan Israel terputus. “Adanya perseteruan pada tahun tersebut, membuat hubungan Israel dan Iran yang pernah mesra menjadi terganggu. Serangan kemarin hanya sebagai pengingat bahwa Iran mempunyai power yang cukup,” katanya. Namun menurut Gonda, serangan yang dilakukan Iran kepada Israel bisa menjadi boomerang. Misalnya saja akan berdampak kepada masyarakat muslim yang ada di Palestina dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Timur Tengah. Saat ini, banyak negara yang mendukung Israel karena melihat kehancuran yang terjadi. Meskipun sasaran serangan yang dikirim Iran tidak membuat kerusakan pada organ inti Israel. “Jika serangan terus berlanjut, dampak perang akan semakin meluas. Maka dari itu, sekutu sangat mewanti-wanti Israel untuk tidak membalas serangan dari Iran. Banyak kerugian yang akan terjadi, tidak hanya negara tetangga Iran dan Israel saja, tetapi seluruh dunia akan terkena imbasnya,” ucapnya. Lebih lanjut Gonda mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh memihak siapapun dan perlu berhati-hati menyikapi dinamika yang berkembang. Banyaknya WNI yang tinggal di kawasan Timur Tengah membuat Indonesia harus lebih bijak dan tetap pada sikap konstitusi. Yakni mendukung perdamaian dunia dan menentang segala macam bentuk penjajahan. “Tentu, Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi perdamaian dunia. Menolak keras segala bentuk serangan yang dapat menimbulkan korban sipil. Maka menurut saya, Indonesia tetap pada posisi normatif, dan memikirkan kondisi WNI yang bisa terdampak di kawasan,” tambahnya. Di akhir, Gonda menyampaikan, perang yang berkelanjutan perlu dihindari. Segala upaya yang ada perlu ditingkatkan untuk mencegah perang yang lebih luas terjadi. Masyarakat Indonesia juga perlu memiliki pandangan yang lebih kritis supaya tidak merugikan kepentingan nasional di kawasan, mengingat banyaknya WNI yang tinggal di Timur Tengah. (ri/wil)