Dosen UMM: Gen Z Sering Gunakan Bahasa Inggris, Bahasa Daerah Terancam Punah

Di era digital yang semakin berkembang, Generasi Z Indonesia lahir sebagai ujung tombak inovasi linguistik. Generasi ini semakin terhubung dengan Bahasa Inggris yang mudah dipelajari melalui media sosial. Bahkan, istilah-istilah seperti Laugh Out Loud (LOL) dan For Your Information (FYI) yang dulunya khas dalam Bahasa Inggris, kini telah diadopsi dalam percakapan sehari-hari. Menurut Masyhud, M.Pd. selaku dosen Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ada pergeseran preferensi dalam penggunaan Bahasa Inggris saat ini dengan masa lampau. “Contohnya, dulu Bahasa Inggris masih tekstual (baku) dan dipelajari melalui buku-buku pembelajaran. Namun, sekarang apapun yang ada di media sosial, itulah yang diserap,” jelasnya. Selain itu, ia beranggapan bahwa perubahan ini tidak hanya mencakup penggunaan kata-kata, tetapi juga pada pola komunikasi secara keseluruhan. Terlebih, generasi Z kini lebih memilih Bahasa Inggris untuk mengekspresikan dirinya, baik lisan maupun tulisan. “Kecanggihan teknologi juga mengakibatkan tidak adanya batasan dalam berkomunikasi baik dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, Gen Z juga lebih sering menuliskan sesuatu melalui media sosial,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa masifnya penggunaan Bahasa Inggris ini memberikan dampak positif bagi Gen Z. Contohnya saja, kian maraknya pekerjaan baru menjadi copywriting, content writer dan sebagainya. Sehingga, penggunaan Bahasa Inggris tidak hanya terpaku pada komunikasi verbal, tetapi juga secara tertulis. Saat Gen Z semakin nyaman menggunakan bahasa Inggris, muncul konsekuensi terhadap keberadaan bahasa lokal. Masyhud menyampaikan bahwa bisa saja bahasa yang semula dianggap asing ini menjadi bahasa kedua. “Peningkatan penggunaan Bahasa Inggris dapat mengancam keberlangsungan bahasa daerah, karena pemahaman dan penggunaannya menurun di kalangan generasi muda. Cepat atau lambat akan mempengaruhi punahnya bahasa lokal,” tegasnya. Meskipun demikian, penggunaan Bahasa Inggris oleh Gen Z terkadang juga dapat dilihat sebagai upaya untuk terlihat ‘keren’ di media sosial. Dalam konteks ini, juga sebagai simbol identitas digital yang lebih modern dan modis. Namun, ada kemungkinan bahwa kecanggungan masih dirasakan ketika menggunakan Bahasa Inggris di lingkungan masyarakat yang lebih tradisional. Masyhud pun menegaskan bahwa adaptasi terhadap bahasa Inggris adalah sebuah keharusan di dunia yang semakin terkoneksi. “Gen Z harus siap untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, karena tantangan global tidak mengenal batas. Dengan demikian, pergeseran dalam penggunaan bahasa menjadi cerminan dari perubahan yang lebih besar dalam cara Gen Z berinteraksi dan beradaptasi dengan dunia yang semakin terhubung melalui media sosial,” pungkasnya.(lai/wil)
Angkat Isu Pendidikan Anak, Mahasiswa UMM Menangi Lomba Essay Nasional

Mengangkat isu kesejahteraan pendidikan anak, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jadi juara satu lomba esai tingkat nasional mengalahkan kampus ternama lainnya. Adalah Qurrota A’yun, mahasiswi semester enam Fakultas Hukum yang berhasil menyabet juara pertama pada perlombaan esai tingkat nasional yang diadakan oleh Perpustakaan Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, 23 April 2024 lalu. Nuya, sapaan akrabnya, memang merupakan mahasiswi yang menyukai bidang kepenulisan. Ia membuat karya esai dengan mengangkat isu Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) yang masih belum memiliki fasilitas perpustakaan. “Kalau saya fokusnya di daerah Blitar. Karena sepengetahuan saya, di LPKA sana masih belum terdapat fasilitas perpustakaan yang mumpuni,” tambahnya. Apalagi mengingat pendidikan merupakan hal vital bagi seluruh anak, tak terkecuali bagi anak yang sedang di bina di LPKA. Anak usia dini cenderung memiliki mentalitas yang belum stabil, sehingga jika tidak ada fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, dikhawatirkan ketika sudah keluar dari LPKA akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagai informasi, LPKA merupakan lembaga pembinaan bagi anak-anak yang sedang menjalani masa pidana. Hal ini juga diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2021 tentang Sistem Peradilan Anak. Tak hanya dibina, anak-anak yang menjalani masa pidana di LPKA wajib mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak pada umumnya. Di balik itu, keahliannya dalam menulis sudah ia pupuk sejak kecil. Sejak SMP ia mulai aktif membuat cerita pendek dan mengikuti beberapa lomba kepenulisan. Saat SMA, ia juga aktif mengikuti lomba karya tulis ilmiah dan esai. Walaupun belum mendapat juara, namun keahliannya dalam menulis tak terhenti begitu saja. Bahkan ia sudah menggarap jurnal yang akan segera ia submit. “Memang, target saya itu lulus dengan jalur terbit jurnal dan tanpa skripsi. Maka dari itu, sejak semester tiga saya sudah mulai menulis jurnal kolaborasi bersama dosen,” ujarnya. Salah satu jurnal yang ia tulis mengenai hak masyarakat terhadap partisipasi politik yang saat ini masih di tahap editing. Pun jurnal yang mengangkat isu implementasi blue economy pada peraturan kelautan yang juga masih dalam tahap review. Tak hanya aktif di bidang akademik, Nuya juga aktif dalam beberapa organisasi seperti organisasi Badan Eksekutif mahasiswa (BEM) UMM sebagai staf kemendikbud dan UKM Atletik sebagai staf dokumentasi. Terakhir, ia sangat berterima kasih kepada orang tua dan pihak UMM yang telah memberikan dukungan penuh. Ia menceritakan, bahwa banyak sekali bantuan yang UMM berikan seperti bantuan akomodasi dan bimbingan dosen. Ke depannya, ia juga ingin tetap aktif untuk mengikuti perlombaan dan menulis jurnal. Karena ia memiliki cita-cita menjadi tim riset analisis dampak lingkungan dan dosen. “Untuk itu, pesan saya buat anak-anak muda agar aktif pada apa yang kamu sukai. Bisa saja, apa yang kamu sukai menjadi hal yang membawamu ke kesuksesan,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)
Baitul Arqam PCA UMM, Membumi Lewat Peran Wanita Aisyiyah

Untuk memupuk jiwa kepemimpinan dan menjadi bukti nyata pengabdian masyarakat, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Baitul Arqam yang ditujukan bagi kepengurusan baru 2023-2027. Kegiatan tersebut dilaksanakan dua hari, dimulai sejak 9 Mei lalu. Masiyah Kholmi, MM. Ak. CA selaku Ketua PCA UMM mengatakan, tujuan Baitul Arqom Pimpinan Cabang Aisyiyah UMM adalah untuk mewujudkan dan meningkatkan kualitas pimpinan yang memiliki integritas, komitmen, militasi, ghirah, memiliki daya juang yang tinggi, serta wawasan dan profesionalitas. Kemudian juga, diharapkan peserta Baitul Arqom memiliki pemahaman yang benar terhadap ideologi gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah. “Ibarat tanaman, harus memiliki akar dan tunas yang kuat dan tidak mudah goyah. PCA UMM diharapkan mampu sebagai penggerak organisasi Aisyiyah dan menjadi perempuan berkemajuan mencerahkan peradaban bangsa dan memberikan kontribusi. Termasuk untuk mengisi Indonesia Emas 2045,” ucap dosen akutansi itu. Di sisi lain, Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si selaku Ketua Pelaksana baitul arqam sekaligus menjelaskan ada beberapa kegiatan yang dilakukan selama dua hari. Mulai dari penguatan Anggaran dasar (AD) Anggaran Rumah Tangga (ART) serta visi misi Aisyiyah di tingkat akar rumput. Baru kemudian, di hari kedua melaksanakan sederet agenda seperti salat dhuha berjamaah, kajian pagi, serta outbond untuk mempererat tali silaturahmi antar pengurus. Sebagai rencana implementasi kontribusi dalam mengisi Indonesia emas, PCA UMM akan melakukan berbagai upaya seperti pengabdian masyarakat dan sinergi memajukan perguruan tinggi. Program tersebut akan disinergikan dalam perguruan tinggi serta dilakukan pada jenjang taman kanak-kanak atau sekolah dasar demi mewujudkan visi Aisyiyah yaitu sebagai penggerak wanita menuju masyarakat utama yang bahagia, sejahtera dan berkeadilan berdasarkan ajaran islam. Untuk itu, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. selaku Wakil Rektor V UMM turut bangga atas terselenggaranya baitul arqam bagi pengurus PCA UMM baru. Agenda ini dapat dijadikan ladang untuk saling memperkuat tali silaturahmi dan mengenal satu sama lain. Pun dapat menjadi implementasi nyata ke depannya untuk terjun ke masyarakat. “Baitul Arqam ini menjadi awal perjalanan PCA UMM ini untuk mengabdikan dirinya bagi masyarakat melalui kerja nyatanya,” pungkasnya. (tri/wil)
Deklarasi Dukung Palestina di UMM: Melihat Konflik dari Berbagai Perspektif

Sebagai bentuk dukungan penuh untuk Palestina, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar deklarasi dan diskusi konflik Palestina dan Israel. Dalam agenda yang dilaksanakan pada 7 Mei 2024 itu, ratusan sivitas akademika hadir dan memberikan dukungan berupa donasi, pemikiran, dan semangat agar Palestina dapat segera bebas dan menghentikan konflik yang berkepenjangan. Acara ini juga dilaksanakan serentak oleh 172 perguruan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia dalam waktu yang sama. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa diskusi dan deklarasi ini mencoba memberikan berbagai perspektif akan tragedi kemanusiaan di Palestina. Dukungan akan lebih bagus lagi jika memahami konsep dan hal yang sedang terjadi. Apalagi Indonesia memang tidak mengamini kekerasan antar manusia. Adapun Kampus Putih UMM juga telah mengambil berbagai sikap tegas dukungan untuk Palestina, misalnya dari segi finansial hingga kemanusiaan. “Pada agenda ini, sudah ada Pak Boy dan Pak Haryo yang akan memberikan penjelasan dan pencerahan. Bagaimana kita seharusnya bersikap dan melihat konflik Palestina-Israel dari berbagai perspektif. Sehingga bisa mendapatkan gambaran secara eksplisit tentang hal ini,” katanya. Diskusi menarik juga tersedia dalam acara itu. Turut hadir Pradana Boy ZTF, Ph.D. yang memberikan penjelasan menarik. Menurutnya, meski Indonesia memiliki banyak ideologi keagamaan, namun konflik yang terjadi di Palestina benar-benar bisa menyatukan mereka. Sayangnya, dukungan besar ini tidak dibarengi dengan pemahaman konflik yang cukup. Berbagai upaya juga sudah dilakukan oleh masyarakat, termasuk dari sederet ormas yang ada. “Misalnya saja Muhammadiyah yang sudah bantuan finansial ke Palestina sebesar 45 miliar rupiah yang terkumpul melalui Lazismu. Memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para pengungsi Palestina, hingga memperkuat dan pemberdayaan ekonomi. Selain itu, adapula Nahdatul Ulama (NU) yang turut berkontribusi mendukung kebebasan Palestina. Misalnya saja dengan tujuh statement tentang posisi NU, bantuan dana, dan dukugan narasi di media sosial untuk mendukung Palestina,” tambahnya. Di samping itu, Boy juga menjelaskan beberapa tantangan dalam dukungan pada Palestina. Beberapa di antaranya pemahaman yang cukup akan konsep dukungan dan konflik, kurangnya persatuan sikap politik dari neara-negara muslim, hingga penyediaan dukungan substansial yang fokus pada solusi atas inti masalahnya. Sementara itu, Haryo Prasodjo selaku pakar pemikiran politik Islam mengatakan bahwa konflik Palestina-Israel harus diliat dari berbagai perspektif, bukan hanya dari aspek agama saja. Namun juga pada sisi politik, militer, ekonomi dan lainnya. “Apalagi ada juga aktor-aktor internasional yang berkecimpung. Siapa yang memasok rudal atau iron dome? Siapa yang diuntungkan dari konflik di tanah Palestina ini? Hal ini tentu sangat kompleks,” katanya. Ia mengatakan, perlu meilihat juga dari struktur hubungan internasional. Palestina dan Israel tidak berdiri sendiri, pasti ada negara yang mendukung mereka. Misalnya Indonesia yang selalu siap mendukung Palestina. Begitupun dengan aspek hukum dan konsensus internasional “Permasalahannya adalah kita berada pada satu sistem bersama, yakni persyarikatan bangsa-bangsa (PBB). Di dalamnya, pemegang hak veto kebanyakan adalah negara yang mendukung dan pro Israel. Ini menjadi tantangan yang cukup menantang,” katanya. Haryo juga memberikan sederet kunci keberhasilan agar Pelastina mendapatkan haknya. Dimulai dengan penguatan struktur internal pemerintahan Palestina. Kemudian juga memotong dukungan pendanaan dan politik, misalnya dengan memboikot produk pendukung Israel. Begitupun dengan dukungan solid dan konkret dari negara-negara musli serta posisi Indonesia untuk memberikan bantuan kemanusiaan di sana. (wil)