Alquran dan Sastra Arab Mirip? Begini Kata Dosen UMM

Sastra Arab memang memiliki sejarah yang kaya dan melibatkan berbagai genre dan penulis terkenal. Mereka menyajikan keindahan bahasa melalui gaya puisi yang unik, perumpamaan yang indah, dan metafora yang menawan. Sastra Arab digunakan sebagai sarana ekspresi kreatif dan hiburan. Sementara itu, bahasa arab Al-Qur’an juga dikenal karena keindahannya yang luar biasa. Mulai dari struktur kalimat yang mempesona, hingga makna-makna mendalam. Bahasa Alquran mengandung pesan-pesan agama dan pedoman untuk kehidupan Muslim. Meski terlihat serupa, Murdiono, S.S., M.Pd.I. selaku dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, sastra Arab dan bahasa dalam Alquran berbeda. Menurutnya, karya sastra baik dalam bentuk prosa maupun puisi, memiliki struktur bervariasi dengan kebebasan kreatif bagi penulis. “Utamanya untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan menggunakan gaya bahasa seperti majas, metafora dan simile,” katanya. Sementara Alquran, dengan struktur ayat yang unik dan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna, berfungsi sebagai pedoman hidup yang mengandung hukum, etika, sejarah, serta ajaran spiritual dan moral. Bahasa dalam Alquran, menunjukkan kekreatifan dalam penyampaian pesan dengan penekanan pada kejelasan dan ketegasan sebagai wahyu langsung dari Allah yang tidak berubah dalam teksnya. Alquran memiliki pengaruh yang besar terhadap sastra Arab. Bahasa yang digunakan dalam Alquran menjadi sumber inspirasi bagi penulis sastra Arab. Banyak karya sastra Arab yang terinspirasi oleh ayat-ayat Alquran, baik dalam penggunaan bahasa maupun tema yang diangkat. “Meskipun ada perbedaan antara sastra Arab dan bahasa Alquran, terdapat juga kesamaan di antara keduanya, yakni sama-sama memiliki keindahan bahasa yang luar biasa dan mampu memukau pembaca atau pendengar. Baik sastra Arab maupun bahasa Alquran memiliki daya tarik dan kekuatan yang unik,” tambahnya. Murdiono melanjutkan, penggunaan kata-kata indah dan khas dalam sastra Arab klasik menggambarkan keindahan alam dan emosi manusia, sementara metafora, majas, dan perumpamaan digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan emosional dalam syair yang indah dengan struktur kalimat yang rumit dan puitis. “Di sisi lain, Alquran menggunakan kosakata umum dan istilah khusus yang unik, dengan gaya bahasa yang sederhana namun jelas, serta struktur kalimat yang langsung dan tegas, memudahkan pemahaman pesan-pesan ilahi,” ucapnya. Walaupun memiliki keindahan masing masing, terdapat elemen keindahan sastra yang unik dalam Alquran yang tidak ditemukan dalam karya sastra Arab. Alquran menggunakan teknik retorika seperti repetisi, perumpamaan, penekanan, dan kontras untuk menyoroti pesan-pesan penting secara efektif, dengan struktur yang teratur dan harmonis. “Meskipun memiliki bagian-bagian yang berbeda, Alquran tetap konsisten dalam penyampaian pesan-pesannya, seringkali mengandung makna mendalam dan banyak lapisan yang memungkinkan interpretasi yang beragam dalam berbagai konteks. Daya tarik spiritualnya kuat, mampu menyentuh hati dan jiwa pembacanya, memberikan inspirasi, ketenangan, dan motivasi. Relevansinya tidak hanya pada zamannya, tetapi juga dalam konteks zaman modern, menjadikannya sumber inspirasi bagi berbagai situasi kehidupan manusia,” tutupnya. (lai/wil)
Jubir Prabowo Beri Edukasi Politik di UMM

Edukasi politik tidak hanya penting bagi kelas menengah ke bawah, tapi juga harus diberikan pada kalangan menengah keatas dan yang berpendidikan. Hal itu ditegaskan oleh Jubir Menteri Pertahanan RI Dr. Dahnil Anzar Simanjutak, M.E. dalam diskusi Harmoni Membangun Negeri di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 13 Mei ini. Acara yang dilaksanakan Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM dan bertajuk ‘Refleksi Kedewasaan Berdemokrasi Pasca Pemilu 2024’ itu dihadiri pemateri andal serta ratusan anak muda. Lebih lanjut, Dahnil menjelaskan bahwa kebanyakan masyarakat yang ekonominya lemah biasanya berlalu dan melanjutkan hidup mereka setelah pemilu usai. Sementara, sebagian kelas menengah ke atas akan ‘tantrum politik’ dan benci dengan lawan politik terpilih. “Kalau ingin demokrasi kita bisa sehat, salah satu syaratnya adalah tingkat pendidikan masyarakat yang baik. Sementara, rata-rata lama sekolah masyarakat kita hanya ada di kisaran 7,2 tahun atau bisa dibilang tidak lulus SMP. Maka pendidikan politik itu penting dan harus meluas ke seluruh kelompok,” katanya. Dahnil juga membahas mengenai bagaimana pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan berpolitik. Menurutnya, Mbah Dahlan selalu bersikap kooperatif. Beberapa peneliti juga menyebut sikap ini sebagai rival politic atau di era sekarang disebut dengan mitra kritis. “Kalau menurut saya, politik Mbah Dahlan ini adalah politik yang alokatif, tidak misuh ke Belanda secara terbuka tapi terus meningkatkan akselerasi sosial dan dahwah melalui Muhammadiyah,” katanya. Terkait pemilu, ia mengatakan bahwa demokrasi Indonesia masih cukup berantakan. Intelektualitas yang baik dan rekam jejak tidak akan berpengaruh besar jika tidak ada dana atau uang. Saat ini, politik dikuasai oleh mereka yang memiliki darah politik atau oleh mereka yang memiliki uang yang banyak. Meski begitu, ia juga memberikan cara untuk menghadapinya yakni dengan politik taawun atau politik gotong royong. Sementara itu, Direktur Eksekutif DEEP Indonesia Neni Nurhayati M.Ikom. menjelaskan tentang peran anak muda dan harapan demokrasi Indonesia di masa depan. Menurut data, indeks demokrasi Indonesia masih pada taraf demokrasi yang cacat. Neni juga mengatakan bahwa 57% anak muda di bawah 40 tahun yang masuk di DPR terindikasi memiliki hubungan dengan politik dinasti, kekerabatan, dan oligarki. “Melihat situasi seperti ini, maka akan susah untuk bisa bergerak bebas dan fair dalam persaingan menuju parlemen. Indikasi ini juga menutup ruang anak-anak muda untuk bisa masuk sistem. Mungkin ada beberapa yang punya modal sosial, tapi sayangnya tidak memiliki modal kapital. Ini tentu mempersulit anak-anak muda untuk berkecimpung,” katanya. Reformasi politik yang digaungkan oleh partai politik juga sukar untuk dilakukan. Melihat beberapa partai politik yang tidak melakukan reformasi partai dengan menjadi ketua partai bertahun-tahun. Bagaimana bisa memberikan kesempatan dan peluang anak muda juga partainya saja enggan untuk melakukan reformasi. Maka salah satu peran anak muda yang bisa dilakukan dalam menghadapi hal ini adalah dengan merebut narasi publik yang masih kosong. Termasuk narasi-narasi yang ada di media sosial. “Perubahan besar tidak akan terjadi jika tidak dimulai dengan perubahan-perubahan kecil. Kita harus saling bahu membahu dan berkolaborasi,” tegasnya. Hal menarik juga disampaikan Cendekiawan Muhammadiyah Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. Ia menyoroti pentingnya sosial kapital dalam memperkuat harmoni demokrasi pasca pemilu. Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki kekuatan sosial yang dapat digunakan untuk mengatasi tantangan sosial. Dalam konteks politik, ia menekankan bahwa pemilihan calon kandidat seharusnya didasarkan pada nurani individu, bukan sekadar aliran atau janji manis semata. “Sementara itu, peran anak muda menjadi kunci dalam menggalang perubahan menuju demokrasi yang lebih baik. Untuk itu, mereka perlu memiliki modal sosial yang kuat, termasuk saling percaya dan bekerja sama untuk membangun harmoni dalam kehidupan berdemokrasi,” ujarnya. Keterlibatan anak muda dalam struktur politik juga menjadi esensial dengan memberikan perhatian dan empati kepada pemimpin. Terlebih, hal ini juga berfokus pada reformasi sistem pendidikan. Dengan demikian, keterlibatan anak muda memberikan perubahan yang signifikan dalam menciptakan transformasi positif bagi masa depan demokrasi Indonesia. Di sisi lain, Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. menyambut baik diskusi tersebut. Menurutnya, tema yang dibawa menarik dan berada pada momen yang tepat karena Indonesia baru saja melaksanakan pesta demokrasi. Ia juga mengutip pernyataan beberapa politikus tentang keadaan demokrasi Indonesia. “Ada politikus yang bilang bahwa politik Indonesia itu unpredictable. Ada juga yang bilang bahwa demokrasi di Indonesia masih berada di tataran perut dan belum dewasa. Apakah benar demikian? Mungkin nanti akan ada penjelasan menarik dari para pemateri. Semoga kita juga termasuk masyarakat yang dewasa dalam berdemokrasi,” pungkasnya. (wil)
Dosen UMM: Judi Online Bisa Terjerat Pidana Berat

Judi adalah permainan dengan memakai uang atau barang berharga sebagai taruhan. Praktik judi, termasuk judi togel, bukanlah hal asing di Indonesia. Di Indonesia, praktik perjudian dilarang. Namun, faktanya masih banyak masyarakat yang berjudi. Penting untuk diketahui bahwa terdapat sanksi pidana yang mengintai bandar judi dan para pemainnya. Tinuk Dwi Cahyani, S.H., S.HI., M.Hum. Ph.D. selaku dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa penyelesaian kasus judi ini tergantung dari jenisnya. Misalnya judi togel yang mudah dideteksi, penyelesaian dapat dengan proses non litigasi. “Bisa melalui restorative justice atau melalui mediasi dan seterusnya,” kata Tinuk. Jenis judi yang lain seperti online dan lainnya yang lebih canggih atau nilainya lebih besar, maka bisa menggunakan sistem peradilan pidana. Artinya menggunakan proses litigasi, agar memberikan efek yang jera. Namun yang harus diperhatikan adalah memberantas sampai ke akar-akarnya. “Ini harus diperhatikan. Tidak dapat disamakan, judi kelas kecil yang ada di desa-desa dengan judi kelas kakap,” tambah Tinuk. Bagi pelaku judi online, lanjut Tinuk, dapat dikenakan UU ITE pasal 27 (ayat 2). Hukuman untuk mereka yang melanggar adalah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Kalau untuk bandar, gabungan antar UU ITE pasal 27 ayat (2) dengan UU ITE pasal 45 ayat (2). “Kalau dalam KUHP kita, bisa dilihat pada pasal 303 ayat (1) dimana para pelaku judi ini dapat diancam pidana penjara minimal 10 tahun atau pidana denda paling banyak Rp25 juta. Kemudian, ketentuan Pasal 303 bis ayat (1) KUHP mengatur ancaman hukuman pidana penjara maksimal 4 tahun atau denda paling maksimal Rp10 juta,” jelasnya. Indonesia adalah surganya judi online karena tidak ada pajak, sehingga negara tidak memiliki keuntungan apa-apa. Jika di bandingkan dengan Malaysia, judi online memiliki tempat khusus. Kemudian, dananya tersebut nantinya akan dialirkan terpisah dengan perolehan pemasukan-pemasukan harta yang bersih. “Jangan sampai Indonesia dijadikan tempat untuk berjudi, tapi yang menikmati hasilnya malah negara-negara lain,” ucapnya. Menurut Tinuk, untuk mencegah beredarnya judi, peran pemerintah sangatlah penting. Perlu ada tindakan tegas, termasuk kementerian dan semua yang terkait. Jangan sampai orang yang memiliki pengaruh, seperti aparat penegak hukum turut andil bermain judi. “Diharapkan pelaksanaannya bisa tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” pungkas Tinuk. (dev/wil)