Hasil Penelitian Dosen UMM Temukan Khasiat Kamandi Saebo

Masyarakat Madura identik dengan ramuan jamunya. Tradisi ini dijaga turun temurun untuk merawat ibu pasca melahirkan, sakit gigi hingga mengatasi berbagai masalah kesehatan lain seperti hipertensi. Meskipun terkenal akan kemujaaarabannya, keberhasilan jamu tradisional ini belum teruji secara ilmiah. Salah satu tumbuhan yang sering digunakan sebagai bahan ramuan oleh masyarakat pedesaan di Madura adalah Kamandin Saebo, sebuah tanaman endemik Madura. Temuan ini mendorong Dr. Dra. Elly Purwanti, M.P., selaku dosen di Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melakukan penelitian menarik mengenai kandungan tumbuhan tersebut. “Kamandin Saebo, bernama latin Glossocardia leschenaultii (Cass.) Veldkamp merupakan tumbuhan endemik Madura yang hanya tumbuh subur di Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, Madura. Tumbuhan berupa rumput ini banyak digunakan untuk campuran berbagai ramuan,” jelasnya. Sesuai dengan arti katanya, ‘Saebo’ dalam Bahasa Madura berarti seribu. Secara umum, Kamandin Saebo dipercaya oleh masyarakat Madura memiliki manfaat dan khasiat sebagai tumbuhan mujarab untuk menyembuhkan segala penyakit. Setelah melaksanakan penelitian ini, Elly dan tim menemukan bahwa Kamandin Saebo ternyata mengandung beragam komponen bioaktif yang bermanfaat sebagai imunomodulator. Komponen inilah yang memiliki peran penting dalam meningkatkan daya imun tubuh terhadap serangan penyakit. “Sebenarnya, Kamandin Saebo juga memiliki kandungan yang tinggi akan flavonoid, terutama yang disebut dengan zat rutin. Sehingga hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah mengapa penggunaan jamu efektif dalam meningkatkan imunitas tubuh,” tambahnya. Untuk mendukung penelitiannya, Elly berhasil mendapatkan pendanaan tambahan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2023-2024. Ia tidak sendiri, namun juga melibatkan dosen Pendidikan Biologi lainnya yaitu Moh. Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc dan Tutut Indria Permana, M.Pd. Selain itu, turut serta pula dosen Farmasi UMM yakni Dr. Hidajah Rahmawati, S.Si., Apt., Sp.FRS dan Apt. Amalia Dina Anggraeni, M.Farm. Elly memaparkan, proses penelitiannya tidak berjalan mulus. Musim kemarau yang panjang membuat pengumpulan sampel Kamandin Saebo menjadi sulit. Upaya deteksi komponen-komponen aktif dalam sampel yang terbatas menjadi salah satu kendala. Setelah musim hujan tiba, uji coba dilakukan kembali dengan hasil yang memuaskan. Selain mencari tahu potensi kandungan zat tersebut, penelitian ini lanjut Elly, bertujuan sebagai bioprospeksi serta memastikan perlindungan dan pemanfaatan ekonomi yang bijaksana terhadap sumber daya genetik. Menariknya, hasil penelitian ini juga dalam proses paten. Hasil penelitian Kamandin Saebo ini juga diharapkan dapat mendorong standarisasi dalam pembuatan jamu tradisional. Mulai dari komposisi Kamandin Saebo yang harus terkandung dalam setiap jamu, hingga proses higienitas dan standar pembuatan lainnya yang harus dipenuhi. “Di harapkan jamu tradisional Madura, khususnya yang menggunakan kamandin saebo, dapat menjadi lebih dikenal dan diapresiasi tidak hanya secara lokal tetapi juga secara global sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia yang kaya akan kekayaan alamnya,” pungkasnya. (law/wil)
Sekjen Kesejahteraan Sosial Filipina Bicara di Hadapan Wisudawan UMM

Ribuan wisudawan memenuhi Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 14 Mei ini. Untuk memebrikna inspirasi dan motivasi, Kampus Putih turut menghadirkan Secretary of Social Welfare and Development Filipina H.E. Rex Gatchalian untuk menceritakan kisah perjuangan suksesnya. Begitupun juga wejangan dari Menko PMK RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Dalam orasinya, Gatchalian awal perjalanan karirnya yang dimulai dari seorang wakil divisi penjualan dan pemasaran hotel di Filipina. Kemudian, ia mencoba terjun ke dunia politik dengan mengikuti jejak kakaknya pada 2007. Jatuh bangun ia rasakan, hingga akhirnya bisa mencapai posisi yang saat ini diemban. Meski sudah mencapai posisi sekarang, ia tidak berpuas diri dan masih mencari arti kesuksesan. Menurutnya, kesuksesan tidak hanya berkisar pada materi semata tapi juga apa saja dampak dari apa yang sudah kita lakukan. “Kesuksesan itu bukan bentuk dari uang, jabatan, kekuatan,atau hal lainnya. Kesuksesan didapat dari efek positif apa yang diberikan kepada masyarakat,” ucapnya. Untuk itu, ia berpesan agar para wisudawan selalu ingat lima hal yang dapat membantu dalam menghadapi kehidupan setelah perkuliahan. Pertama adalah menyambut ketidakpastian. Maka mereka tidak boleh untuk membuat kesalahan karena hidup itu adalah proses mencoba dan terus mencoba. Kedua, tidak takut untuk meminta bantuan karena setiap manusia pasti membutuhkan bantuan kecil untuk mencapai tujuan. Ketiga, menjaga keharmonisan batin dan tidak goyah dengan apa yang dikatakan orang lain. Keempat, menjaga integritas diri dengan mempertahankan prinsip yang sudah dibuat. Kelima mempetaam keahlian yang dimiliki. “Manusia tidak bisa hanya hidup dari apa yang dipunyai saat ini, namun juga terus menerus belajar dari apa yang lalu,” tegasnya. Sementara itu, Muhadjir meminta wisudawan untuk selalu mengingat dan memanfaatkan apa yang sudah didapat selama empat tahun di UMM. Apalagi keluarga dan masyarakat di daerah masing-masing pasti berharap banyak agar wisudawan mampu menghadapi tantangan dunia di masa depan. “Jangan terlalu berlarut dalam kesenangan. Sebagai manusia coba cari tantangan baru yang bisa membawa kamu ke jenjang yang lebih tinggi. Tantangan dan kesulitan itu bukan untuk dihindari namun diselesaikan,” tegasnya. Hal serupa juga disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Prof. Dr. Dyah Sawitri, M.M. Ia memberikan wejangan bahwa wisudawan perlu punya skill dan pengetahuan agar mampu bersaing di era emas. Salah satunya melalui program Center of Excellence yang dimiliki oleh UMM. Program ini terbukti memiliki kontribusi nyata dalam mencetak generasi unggul sesuai dengan minatnya. Terakhir, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. selaku Rektor UMM mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan. Menurutnya, wisuda adalah isyarat bahwa para wisudawan akan terjun ke masyarakat dan dituntut untuk memberikan apa yang mereka punya. Dorongan utama dalam hidup bukanlah kesenangan semata, melainkan penemuan dan pencarian yang bermakna. “Untuk itu, pegang kuat janji pada almamater UMM dan berikan yang terbaik bagi masyarakat. Bekerja keras, cerdas, dan tidak menjadi beban untuk masyarakat,” pungkasnya. (tri/wil)
Sosiologi UMM Bahas Nusantarisasi untuk Lepas dari Paradigma Kolonial

Nusantarisasi kunci melepaskan ddiri dari pengaruh paradigma kolonial. Hal itu ditegaskan Prof. Mohammad Reevany Bustami, Ph.D. selaku pemateri internasional dari Universiti Sains Malaysia pada kuliah tamu internasional prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakn pada 14 Mei tersebut diramaikan oleh ratusan mahasiswa dan tamu yang antusias. Lebih lanjut, Bustami, sapaannya, mengatakan bahwa nusantarisasi sangat penting. Termasuk bagi para ilmuwan sosiologi untuk mentransformasi ilmu sosial nusantara yang berbasis diri. Menurutnya, masyarakat akan bisa menggunakan potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk melihat dan memahami dunia dengan sudut pandang dan konstruksi berpikir sendiri. “Dengan demikian, kita bisa menggunakan pikiran, bahasa, kebijaksanaan, dan warisan budaya kita untuk memahami realitas yang ada dengan lebih baik. Selain itu juga untuk menemukan solusi atas masalah yang dihadapi sambil tetap berhubungan harmonis dengan dunia di sekitar kita tanpa terjebak dalam pandangan penjajah,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa konsep nusantarisasi bukan hanya wacana, tapi juga merupakan panggilan untuk memperkokoh identitas dan kekuatan kolektif bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan global. Dengan melepaskan diri dari pengaruh kolonial, Indonesia dapat menggali potensi yang ada dan membangun pemahaman serta solusi yang autentik sesuai dengan realitas dan nilai-nilai lokal. Ini juga sebagai cara menjaga harmoni dengan lingkungan sekitar. Sementara itu, Wakil Dekan I FISIP UMM Najamuddin Khairur Rijal, M.Hub.Int. menekankan dukungan penuh akan kegiatan serupa. Hal itu tak lepas dari upaya peningkatan pemahaman dan wawasan mahasiswa akan nusantarisasi dalam konteks ilmu sosia. “UMM memang selalu menyediakan berbagai pilihan dan cara untuk menambah wawasan baru para mahasiswa. Maka, jangan sampai saudara menyia-nyiakan potensi dan kesempatan yang ada. Ikuti seminar dan konferensi kemudian tingkatkan pengetahuan lewat agenda-agenda tersebut. Sehingga ketika nanti turun ke masyarakat, saudara bisa memberikan solusi inovatif akan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat,” tegasnya. Adapun agenda itu dipandu langsung oleh Ketua Prodi Sosiologi UMM Luluk Dwi Kumalasari, M. Si. Yang membawakan dengan lancar. Adapun para mahasiswa yang terdiri dari angkatan 2020-2023. Luluk berharap, nusantarisasi bisa menjadi landasan para anak muda untuk menemukan solusi. Jadi, tidak terkungkung dan terjebah di paradigma kolonial. (*wil)
Dosen UMM Gagas Pemilu Langsung Hakim MK, Sabet Juara Nasional

Kabar membanggakan kembali datang dari sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. yang sukses meraih artikel terbaik dalam ajang 1st Sharia Writing Competition 2024 di Palangkaraya pada awal Mei ini. Hal itu tak lepas dari ide menariknya terkait pemilihan umum untuk memilih haki mahkamah konstitusi (MK) di Indonesia. “Alhamdulillah, tentu saya senang dengan penghargaan ini. Capaian ini sekaligus bukti bahwa tidak hanya mahasiswa dan tendik UMM saja yang berprestasi, tapi juga para dosennya yang juga harus ikut berprestasi. Kan guru itu digugu lan ditiru, semoga menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika yang ada,” ujar Fatih Adapun Fatih menulis tentang pemilihan Hakim MK secara langsung oleh rakyat karena melihat model pemilihan hakim MK sekarang kurang akuntabel dan transparan. Model sembilan hakim yang dianut Indonesia meniru kroean representatives. Masing-masing lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif memilih tiga hakim. Hal itu juga membuka kemungkinan akan adanya peluang conflict of interest. “Kan kemarin ada mantan legislator yang jadi Hakim MK. Ada pula Hakim MK yang tersandung kasus, mulai etik hingga pidana. Nah kita mau coba gagas pemilu secara langsung. Memang minusnya adalah berbiaya tinggi, tapi bisa menjadi legitimasi rakyat bahwa memang Hakim MK yang terpilih itu bernar-benar dipilih dan didukung oleh rakyat,” tambahnya. Pemilu langsung Hakim MK tersebut modelnya seperti pemilihan umum, dengan melibatkan rakyat sebagai pemilik suara. Hal itu esuai dengan slogan demokrasi, ‘dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’. Selanjutnya, Fatih berharap agar ide tersebut bisa menjadi topik diskusi dan kembali diteliti oleh akademisi yang lain, sehingga bisa menjadi masukan untuk perbaikan kelembagaan MK kedepan. Lebih lanjut, dosen fakultas hukum itu menjelaskan bahwa cara ini memang tidak menjamin akna mendapatkan sumber daya manusia terbaik. Namun hal ini membuat pemilihan hakim MK lebih transparan dan akuntabel sehingga masyarakat bisa tahu dan tidak berprasangka buruk. “Sebenarnya, pemilihan langsung hakim MK ini sudah dipakai di beberapa negara bagian di Amerika dan tidak dipilih dari lembaga lain. Jadi lebih transparan dan tidak menimbulkan banyak prasangka,” katanya. Fatih juga menjelaskan bahwa selain berbiaya mahal, model ini juga memungkinkan munculnya sengketa. Apalagi memang pemilu identik dengan sengketa. Meski begitu, sudah ada lembaga yang memiliki tugas memeriksa dan memantau kinerja hakim, yakni komisi yudisial (KY). Di samping itu, ide ini juga dirasa belum bisa dijalankan karena tidak adanya aturan yang mengatur. Bisa juga melalui peraturan pemerintah,preaturan presiden, atau bahkan juga peraturan MK. “Memang belum ada atruan yang mengakomodir model ini. Tapi undang-undang MK bisa diamandemen dan diatur lebih lanjut. Sebenarnya ada potensi dalam pasal bahwa ‘pemilihan MK diatur secara demokratis, akuntabel dan transparan’. Sayangnya, pemahaman kita selama ini hakim MK hanya dipilih oleh lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Padahal frasa itu juga bisa dipahami dengan menggunakan model pemilihan umum,” katanya mengakhiri. (*wil)