Aktif di bidang SDGs, Alumnus UMM Turut Andil di WWF ke 10

Adalah Haziz Hidayat, alumnus Program Studi (Prodi) Ekonomi Syariah Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjadi salah satu perwakilan anak muda di World Water Forum (WWF) 2024, di Bali pada Mei ini. Ia yang mewakili SDGs Center UMM, turut andil memberikan solusi atas masalah global, terutama terkait air. “Pada Forum WWF itu saya berbagi kisah dan ide dengan pemuda-pemuda lainnya. Menjalin persahabatan dengan teman dari berbagai negara dan memperkenalkan UMM yang turut aktif menjalankan misi melalui SDGs Center UMM,” ucapnya. Ia merasa sangat bangga bisa bagian dari WWF dari UMM dan memperkenalkan Kampus Putih di hadapan dunia. Haziz, sapaannya juga bisa banyak belajar terkait isu terkini dalam level global. Khususnya terkait ketersediaan air. Apalagi air memang merupakan bagian penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Tak hanya itu, ia juga turut memperkenalkan Center of Excellent (CoE) UMM di hadapan perwakilan dari berbagai negara di WWF. Menurutnya, CoE bisa menjadi solusi dan dapat diterapkan di kampus bahkan daerah-daerah lain/ Terlebih lagi, melalui CoE UMM mahasiswa dilatih berbagai keahlian yang sesuai minat bakat mereka untuk menyongsong masa depan depan yang lebih baik bagi dirinya dan lingkungan. Adapun WWF ke-10 yang diadakan di Nusa Dua Bali memiliki tiga misi khusus yang disepakati yakni center of excellence on water and climate Resilience, mainstream integrated water management in small lands, dan kegiatan rutin world lake days. “Tiga misi WWF ini juga dapat dijadikan kiblat bagi UMM dalam mendirikan CoE baru yang bertemakan air. Terlebih lagi CoE umm telah berjalan cukup lama sehingga pendirian program serupa juga tidak akan sulit,” tambahnya. Terakhir, ia berharap keterlibatannya dan UMM dalam forum WWF ini dapat menjadi pembuka dan motivasi bagi mahasiswa untuk ikut terlibat dalam menjaga ketersediaan air dunia. Setelah forum ini selesai, target khusus Haziz adalah menyelenggarakan dan mendirikan komite khusus air yang bisa dijadikan konsentrasi UMM untuk turut andil melestarikan bumi. (tri/wil)

Presiden Iran Meninggal, Bagaimana Dukungan untuk Palestina?

Perang antara Israel dan Palestina terus memanas hingga saat ini. Serangan roket dari Gaza dan balasan militer Israel telah mengakibatkan ketegangan yang semakin sulit dikendalikan. Di tengah konflik yang berkecamuk ini, dukungan dari negara-negara lain menjadi faktor yang signifikan. Iran, yang telah lama mendukung Palestina, baru saja menghadapi guncangan besar dengan meninggalnya Presiden Ebrahim Raisi dalam sebuah kecelakaan helikopter. Lantas, bagaimana dukungan Iran pasca meninggalnya Presiden Raisi? Menanggapi hal tersebut, Haryo Prasodjo, M.A., selaku dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pandangannya tentang dampak dari peristiwa ini. “Konflik antara Israel dan Palestina adalah imbas dari peristiwa di masa lalu. Dari segi hubungan internasional, Iran ingin menunjukkan kekuatan baru dalam politik regional,” ujarnya. Haryo menambahkan bahwa dukungan Iran terhadap Palestina juga dipengaruhi oleh dinamika internal seperti kepentingan politik, identitas regional dan adanya hubungan kerja sama dengan negara lain. Secara geografis, lokasi Iran yang relatif dekat dengan Israel dan Palestina menambah kompleksitas situasi. “Di negara-negara Timur Tengah, aspek kesukuan tidak dapat diabaikan. Ini mempengaruhi bagaimana Iran melihat kepentingannya dalam konflik ini,” jelas Haryo. “Sebenarnya konflik ini terjadi atas dasar masalah pengakuan atau kedaulatan, di mana Palestina tidak mendapatkan pengakuan dari internasional. Sementara itu, negara internasional terutama negara muslim belum cukup berani untuk memutuskan kedaulatan tersebut, karena saat ini cenderung menganut sistem barat,” jelasnya. Kematian Presiden Raisi menyebabkan ketidakpastian politik di Iran. Terlebih, Iran sedang mengalami masa transisi kepemimpinan yang penting. Iran harus mempertimbangkan kembali mengenai keterlibatannya dalam perang dan memastikan apakah pengganti presiden Raisi memiliki visi, misi, dan perspektif yang sama. Meskipun kematian Presiden Iran tidak langsung mengubah dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan Palestina, namun ketidakstabilan politik bisa mempengaruhi seberapa aktif Iran dapat terlibat dalam konflik Israel-Palestina. Menurut Haryo, saat ini belum ada perubahan signifikan dalam peta konflik antara Israel dan Palestina. “Dunia internasional masih fokus pada bantuan kemanusiaan, diplomatik di PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), serta dukungan moril dan materiil,” jelasnya. Namun, ketegangan konflik diperkirakan akan semakin meningkat dengan adanya kabar meninggalnya Presiden Raisi yang belum jelas penyebabnya. Entah memang karena campur tangan Israel atau justru faktor internal dari helikopter maupun faktor cuaca. Di tengah situasi yang semakin kompleks ini, Haryo menekankan pentingnya kesatuan di antara kelompok-kelompok Palestina. “Hamas dan Fatah, sebagai dua kelompok besar di Palestina harus memiliki satu suara mengenai masa depan Palestina. Masalah internal ini seharusnya diselesaikan lebih dulu sebelum merambah ke tingkat internasional,” katanya. (lai/wil)