UMM Sediakan Beasiswa Bakti untuk Bangsa, Free 100% Biaya Kuliah

Berbagai beasiswa menarik diberikan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya beasiswa bakti untuk bangsa yang memungkinkan mahasiswa baru mendapatkan potongan 100% biaya kuliah semester pertama. Beasiswa ini diperuntukkan bagi para mahasiswa baru yang berprestasi, baik dari segi akademik maupun non akademik. “Program ini merupakan beasiswa prestasi yang memberikan kesempatan bagi para siswa sebagai bentuk apresiasi dan kepedulian UMM untuk terus mencerdaskan anak bangsa,” tegas M. Isnaini selaku kepala humas UMM. Ia menegaskan bahwa semua calon mahasiswa baru punya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa Bakti untuk Bangsa. Adapun calon mahasiswa fakultas kedokteran, Fikes, dan psikologi akan diberlakukan aturan tersendiri yang sudah disiapkan. Nantinya, penerima beasiswa akan mendapatkan potongan penuh SPP, yakni 100% pada semester pertama. Jalur ini memungkinkan para camaba untuk mendaftar UMM tanpa tes. Pendaftaran dan seleksi pemberkasan dilakukan pada 10-24 Juni dan langsung diumumkan pada 24 Juni tahun 2024 ini. “Para mahasiswa baru juga bisa mendapatkan beasiswa lain saat sudah berkuliah di UMM. Apalagi ada banyak kesempatan beasiswa yang bisa dicoba. Ditambah dengan program entrepreneur yang sudah disiapkan Kampus Putih sehingga mampu mendorong mahasiswa untuk mandiri melalui bisnis dan skill mumpuni,” tambahnya. Selain beasiswa Bakti untuk Bangsa, UMM juga membuka beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa yatim hingga potongan untuk alumni sekolah Muhammadiyah. Pun dengan beasiswa ulama yakni Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT), beasiswa saudara kandung, dan lain sebagainya. Ini akan memberikan kemudahan dan pilihan bagi para mahasiswa untuk mengembangkan diri dan mendapatkan beasiswa selama menimba ilmu di UMM. (wil)
Gita Surya UMM Menangi Medali di Festival Paduan Suara Nasional

Tiada hari tanpa prestasi memang menjadi ciri khas dari jas merah kampus putih, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini kabar gembira datang dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gita Surya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil membawa pulang Gold Medali kategori Folksong dan Silver Medali di kategori Mixed Choir Song. Kemenangan itu mereka raih di ajang Festival Paduan Suara (FESPA) tingkat Nasional, yang dilaksanakan di Surabaya pada 28 Mei hingga awal Juni ini. Terkait prestasi ini, Ketua Official Gita Surya Nurul Naima Lesy menjelaskan, mereka sudah mempersiapkan penampilan untuk FESPA sejak bulan Desember 2023 lalu. Gita Surya sengaja mengirimkan 37 delegasi yang merupakan mahasiswa baru. Kemudian dilatih hingga mampu menampilkan hal yang menarik. Ada proses seleksi yang mereka lakukan untuk para mahasiswa baru yang berminat mewakili UMM di ajang FESPA. Apalagi mengingat lagu yang dibawakan mempunyai teknik yang cukup sulit. “Namun melalui pembinaan Annas Dwi Satriyo selaku music director, mahasiswa baru yang terpilih dapat menyesuaikan dengan musik yang dibawakan. Apalagi UMM juga mendukung penuh setiap proses yang ada,” katanya. Ona, begitu ia kerap disapa melanjutkan, sejak Desember para delegasi didorong agar menjaga suaranya, latihan olah vokal setiap malam, dan lainnya. Mereka sering melakukan teknik vocalizing sebagai dasar dalam memperoleh intonasi suara dari yang terendah hingga yang tertinggi. Tidak hanya itu, beberapa lagu perlu membuat suara suara imut seperti kucing, jadi dalam latihan selalu meniru suara kucing hingga sesuai dengan bait lagu. “Ada delapan lagu yang dibawakan dalam kompetisi kali ini. Di antaranya tiga lagu dengan kategori folk song, yaitu Karben Sape, Piso Suprit, dan Kruhay. Selain itu kami juga membawakan tiga lagu kategori mix song, yaitu Locus Iste, Zikr, dan Hentakan Jiwa,” tambahnya. Saat pelaksanaan lomba, tim Gita Surya UMM diminta untuk mempersiapkan dirinya dengan uji coba panggung selama sepuluh menit, untuk melihat panggung yang tersedia termasuk dalam panggung kering (suara tidak menggema) atau panggung basah (suara menggema). Tidak hanya itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk coral clinic yang dipandu langsung oleh salah satu juri. “Tidak semua tim dapat berkesempatan melakukan coral clinic dengan juri secara langsung. Berkat hubungan baik dengan music director, kami bisa mendapatkan kesempatan emas tersebut dan dikoreksi secara langsung oleh juri,” katanya. Di sisi lain, Annas selaku music director yang mendampingi dari awal hingga akhir sangat bangga dengan pencapaian yang diperolah anak didiknya. Walaupun masih tergolong baru terjun ke dalam bidang seni suara, mereka dapat mengalahkan delegasi dari universitas lain yang sudah pernah berlayar hingga ke jenjang internasional. “Meski sudah mendapatkan berbagai kejuaraan, tentunya saya belum puas dan masih akan terus mendampingi Gitasurya UMM hingga menjadi yang terbaik. Kita memang harus selalu haus ilmu dalam bidang apapun,” tegasnya. (ri/wil)