UMM Kirim Sapi sebagai Hewan Kurban di Lapas Malang

Momen Idul Adha menjadi momen berbagi. Hal itu juga dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menyerahkan seekor sapi untuk dijadikan hewan kurban di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang. Adapun mereka mengirimkannya pada 16 Juni ini. Terkait hewan kurban ini, perwakilan Lapas Buyung Saputro berterimakasih atas bantuan kurban tahun ini. Sebelumnya, UMM telah mengirimkan hewan kurban setiap tahun ke Lapas. Tidak hanya para petugas yang senang, tapi juga para warga binaan yang antusias saat UMM datang. Baik itu saat pemberian sapi atau juga saat pelaksanaan berbagai program di Lapas. “Hewan kurban yang ada di Lapas biasanya akan diolah sendiri oleh petugas dan dibantu para warga binaan. Kemudian dinikmati oleh semua warga binaan usai salat idul adha,” katanya. Buyung berharap kerjasama antara UMM dan Lapas bisa terus berlanjut. Apalagi sudah ada banyak program Kampus Putih yang dijalankan di sana. Mulai dari pelatihan ecoprint hingga menulis buku. “Teman-teman binaan juga selalu menunggu mobil Kamis Membaca (KaCa) yang menyediakan ratusan buku menarik. Sehingga mereka juga bisa terhibur dengan bacaan. UMM juga sering mengundang kami untuk tampil seperti tari maupun karawitan saat ada acara,” tambahnya. Di sisi lain, ketua pelaksana Kurban UMM Abdus Salam, S.Sos. M.Si. menjelaskan bahwa ini menjadi bagian dari luasnya kepedulian UMM pada masyarakat. Memberikan kebahagiaan kepada para warga binaan meski masih harus menjaalni hari di Lapas. Selain itu, penyerahan hewan kurban ini juga sudah menjadi tradisi yang akan selalu dilakukan oleh Kampus Putih, tidak hanya di Lapas tapi juga di berbagai lembaga dan daerah. “Semoga ini menjadi kurban yang berkah dan juga sebagai cara dakwah Muhammadiyah dalam menebarkan kebaikan,” tegasnya mengakhiri. (wil)
Idul Adha di UMM: Daging Qurban Dibungkus Daun Singkong dan Talas

Ada yang menarik di perayaan Idul Adha dan kurban Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 17 Juni ini. Alih-alih menggunakan plastik, tim kurban UMM menggunakan besek, daun talas, dan daun singkong sebagai bungkus dari daging kurban yang sudah disembelih. Hal itu merupakan salah satu upaya Kampus Putih untuk mengkampanyekan Green Qurban. “Ini menjadi bentuk komitmen kita untuk menjaga kelestarian lingkungan. Begitupun juga sebagai dakwah kita agar diikuti oleh banyak orang. UMM sudah melakukan ini sejak beberapa tahun belakangan dan alhamdulillah disambut baik. Ini menjadi tradisi yang harus terus dijalankan,” kata ketua Panitia Kurban UMM Abdus Salam, S.Sos., M.Si. Salam melanjutkan, green qurban ini juga sejalan dengan berbagai istilah di Muhammadiyah seperti kader hijau Muhammadiyah dan juga ayat-ayat hijau. Keduanya menjadi cara Muhammadiyah untuk turut menjaga bumi. Selain itu, kurban dengan cara ini juga sesuai dengan SDG’s yang UMM sedang galakkan belakangan. Ke depan, Salam berharap green qurban di UMM dapat menginspirasi masyarakat untuk turut mengubah kebiasaan penggunaan plastik dalam proses distribusi daging kurban. Ini juga bisa dijadikan dasar untuk pemerintah dalam menyediakan perda atau himbauan pelaksanaan green kurban, sehingga semakin banyak warga yang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan bumi. Adapun UMM mendapatkan sejumlah hewan kurban. Sampai saat ini ada 19 kambing, lima domba, dan 12 sapi. Jumlah ini bisa bertambah karena masih ada beberapa hari penyembelihan. Beberapa di antaranya dikirim ke berbagai daerah, termasuk Sumbawa. Terkait penggunaan daun singkong sebagai bungkus daging, tim kesehatan hewan kurban UMM Ir. Ali Mahmud, S.Pt. M.Pt. menjelaskan alasannya. Menurutnya, daung singkong memiliki senyawa aktif, yakni flavonoid dan fenolik. Keduanya merupakan metabolis sekunder yang dihasilkan oleh tanaman dan memiliki banyak fungsi. Salah satunya sebagai antioksidan yang mampu emredukses proses oksidasi daging. Sehingga daging bisa tetap segar dalam proses distribusi ke masyarakat. “Jadi penggunaan daun sebagai bungkus daging tidak hanya untuk menggantikan plastik dan menjaga lingkungan. Tapi juga memebrikan manfaat untuk daging agar tetap segar,” katanya. Kampus Putih UMM juga senantiasa memastikan kesehatan sapi dan kambing yang akan disembelih. Menurutnya, semua hewan kurban UMM sudah diperiksa dengan teliti untuk memastikan hewan dan daging kurban aman dikonsumsi. Pada saat pembelian, pihaknya juga membawa tim untuk pemeriksaan lebih lanjut. Melihat riwayat peternak, memeriksa usia hewan, dan membeli di peternak terpercaya. Adapun untuk melihat sehat tidaknya hewan kurban, Ali dan tim telah mengecek beberapa hal seperti tidak adanya luka, air liut berlebihan, mata tidak sayu, bulu tidak berdiri, hingga kuku yang tidak pucat. “Hewan kurban yang sehat juga bisa dilihat dari pori-pori hidung yang mengeluarkan sedikit cairan. Kami juga mengecek apakah paru-parunya sehat dengan melihat ada tidaknya suara mengorok pada hewan terkait,” tambahnya. Adapula surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang menjadi salah satu aspek dalam melihat keadaan hewan kurban, baik itu sapi maupun kambing. Ia mengtakan bahwa sapi dan kambing ini sudah dinyatakan bebas dari cacing hati, antraks, dan bahkan virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Saat dipotong dan dilihat, semua jeroan, hati, hingga paru juga bersih dan sehat. “Jadi memang benar-benar bebas dari unsur-unsur bakterial dan parasit,” ungkap Ali mengakhiri. (wil)