Dosen UMM Teliti Efek Terapi Alquran Untuk Penyintas Bencana Alam

Bencana alam maupun bencana yang terjadi akibat kecerobohan manusia pasti akan meninggalkan dampak emosional yang besar bagi para korbannya. Meski tidak mengalami cedera fisik yang serius, reaksi emosional akibat trauma ini bisa menyebabkan efek samping serius jika tidak ditangani dengan baik. Pun, banjir termasuk dalam disaster atau bencana yang kejadiannya tidak pernah terduga. Akibat dari tak terkendalinya banjir di Indonesia saat musim penghujan, Tutu April Ariani, SKp., M.Kes., Ph.D selaku dosen Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penelitian keperawatan holistik dan pengajian Alquran serta dampaknya terhadap penyintas banjir di Indonesia. Bagaimanapun, mereka harus bisa mempertahankan mentalnya dalam keadaan yang terjepit, sekalipun pada saat banjir. Adapun manfaat yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah para korban bisa bertahan dalam keadaan terpaksa sekalipun terutama bencana. “Sebelumnya, saya telah melakukan review literatur dari berbagai jurnal internasional. Sampai akhirnya saya menemukan jumlah sesi yang efektif untuk dilakukan, yaitu delapan sesi,” ucap Tutu. Pada terapi ini, mereka membaca Alquran berulang-ulang dengan surah yang diinginkan. Dari hasil penelitiannya, Tutu menemukan bahwa terapi Alquran memiliki karakteristik yang sangat khas dan unik. Sebab, walaupun mereka tidak memahami makna surah yang dibaca, mereka tetap bisa mengungkapkan perasaan mereka dengan adanya ujian banjir yang selalu datang setiap tahunnya. Awalnya mereka terpaksa menerima keadaan pasca banjir, namun sekarang mereka bisa jauh lebih ikhlas menerima bencana yang ada. Awalnya, Tutu hanya melakukan terapi untuk korban banjir bandang. Namun setelah dievaluasi kembali, metode ini dapat digunakan untuk korban bencana yang lain. Dengan adanya terapi ini, reaksi para korban saat menghadapi bencana tidak seheboh sebelumnya. Jika terdapat pengumuman banjir dan bencana lainnya, mereka menjadi lebih ikhlas dan tahu harus melakukan apa. “Memang harus mengamankan diri saat bencana. Namun, setelah terapi mereka mengaku jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Alhamdulillah hal ini tidak hanya dirasakan oleh satu dua orang saja,” katanya. Penelitian Tutu ini dijalankan pada warga yang terbiasa mengalami banjir bandang tahunan atau annual di daerah Baleendah dan Dayeuhkolot, Jawa Barat. Banjir terjadi karena sungai buatan yang tidak dapat dialirkan dan berhenti di sekitar kawasan tersebut. “Terapi ini sementara memang dikhususkan untuk wanita berusia 18 hingga 67 tahun, karena biasanya mereka memiliki waktu yang paling fleksibel untuk terus melaksanakan terapi ini. Terapi ini harus dilakukan terus menerus dua kali dalam seminggu. Ini belum diterapkan pada warga masyarakat berjenis kelamin laki-laki karena khawatirnya mereka bekerja, dan tidak bisa konsisten mengikuti terapi. Karena jika tidak rutin, maka harus di drop out. Sehingga hanya didapatkan 17 orang yang rutin dan tidak meninggalkan sesi terapi,” pungkasnya. (wil)

Dosen UMM Gunakan Mikroba untuk Atasi Limbah Cair Domestik

Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan pola konsumsi, limbah domestik yang dihasilkan oleh masyarakat semakin mengkhawatirkan. Dampak limbah cair yang sebagian besar berasal dari rumah tangga ini tidak hanya menyebabkan pencemaran lingkungan, tetapi juga membawa berbagai penyakit menular melalui air yang terkontaminasi. Menyikapi permasalahan ini, Dr. Lud Waluyo, M. Kes. selaku dosen Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memberikan sebuah inovasi dalam mengatasi limbah cair domestik melalui pemanfaatan mikroba. “Limbah cair domestik memerlukan penanganan khusus. Limbah ini harus dikontrol dan diolah sebelum dibuang agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan, terutama karena kandungan bahan kimia berbahaya di dalamnya,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa limbah rumah tangga mengandung sisa-sisa buangan yang mudah diuraikan dan juga tidak mudah diuraikan. Adapun zat yang tidak mudah terurai adalah zat pembunuh kuman dan serangga, sisa detergen dan pestisida. Maka dari itu, memerlukan pendekatan khusus untuk diuraikan secara efektif. Secara mikrobiologi, salah satu upaya menangani hal tersebut adalah dengan memanfaatkan isolat mikroba asli (indigen) yang berpotensi dapat menguraikan limbah. Melalui penelitian ini, Lud juga berusaha untuk mempercepat proses penguraian limbah menggunakan mikroba yang terbukti dapat mengurangi waktu penguraian limbah hingga hanya dalam waktu seminggu. Penelitian ini menggunakan konsorsium mikroba, yaitu perpaduan lebih dari dua jenis bakteri yang bekerja sama dalam menguraikan limbah. Dalam penelitian ini, empat jenis bakteri yang telah diuji menunjukkan kinerja efektif dalam menguraikan komponen limbah seperti karbohidrat, lemak, dan protein yang menjadi penyebab bau tidak sedap. Dengan terurainya protein, bau tidak sedap yang biasanya timbul dari limbah cair dapat dihilangkan. Limbah rumah tangga tidak hanya mengandung karbohidrat, lemak, dan protein, tetapi juga logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Logam berat dalam konsentrasi kecil dapat mematikan mikroba, namun mikroba dalam penelitian ini mampu bertahan dan menguraikan limbah meski dalam kondisi yang mengandung logam berat. “Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk berbagai jenis limbah cair domestik, misalnya limbah comberan, air mandi, detergen, bahkan septic tank. Selain itu, formula konsorsium inokulum itu juga bisa bertindak sebagai biopestisida hayati karena mampu mematikan patogen,” jelasnya. Menariknya, penelitian yang dilakukan oleh dosen Biologi UMM ini mendapatkan pendanaan dari Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT). Selain itu, inovasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut dalam pengelolaan limbah industri yang memiliki beban pencemaran lebih berat. “Limbah yang diuraikan oleh bakteri kemudian dapat diuraikan lebih lanjut oleh tumbuhan air sebelum dibuang ke lingkungan. Proses ini tidak hanya efektif dalam mengurangi polusi tetapi juga dalam memitigasi dampak logam berat yang seringkali menjadi penyebab masalah kesehatan seperti autisme pada anak-anak,” pungkasnya. (lai/wil)