Alumnus UMM Bekerja di BRIN, Begini Kisahnya

Impian tak bisa dicapai dalam satu malam saja. Butuh banyak perjuangan serta banyak waktu untuk mencapai impian tersebut. Bermimpi boleh, namun juga harus dibarengi dengan konsistensi, perjuangan, serta doa yang tak kenal lelah untuk menggapai hal tersebut. Ucapan ini disampaikan oleh Andi Afrilliya Ani S. Ikom, M. Ikom selaku Corporate Communication Kebun Raya Purwodadi dalam UMM Talks awal Juli ini. Ia juga merupakan alumnus Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, impian adalah suatu pencapaian yang didapat melalui usaha dan doa yang tiada henti. Lia, panggilan akrabnya, merupakan salah satu lulusan terbaik UMM saat itu. Ia bercerita, capaiannya tersebut tak dipungkiri karena kegigihan dan perjuangannya selama kuliah. “Jadi awalnya, saya pernah bilang ke salah satu dosen UMM saat itu, bilang kalau saya akan membawa orang tua duduk di bangku VIP saat wisuda,” ucapnya. Impiannya terwujud, dengan IPK 3,89 ia dengan bangga membawa orang tuanya duduk di bangku VIP berjajar dengan para orang tua wisudawan terbaik. Impian tersebut dapat a capai berkat konsistensinya sejak awal. Ia selalu menjadi mahasiswi yang aktif di kelas dengan mencatat, menjawab pertanyaan dosen, atau membantu teman yang kesusahan dalam mata kuliah. Semua itu ia lakukan tanpa paksaan dan dengan rasa suka cita. Lanjutnya, ia mengatakan bahwa untuk mencapai impiannya dapat dimulai dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Seperti hal apa yang disukai, kelebihan, kelemahan, atau hal basic untuk mengenali diri sendiri. Dapat juga dilakukan dengan menjalankan suatu hobi, melalui hobi tersebut juga dapat menjadi salah satu hal untuk menentukan impian. Dalam mencapai impian, pasti banyak rintangan yang harus dilewati. Seperti Lia, yang menceritakan awal perjalanan karirnya sebagai corporate communication tak mudah. Setelah lulus, ia awalnya bekerja di salah satu hotel. Rintangan yang dihadapi cukup banyak lantaran dirinya baru terjun ke dunia kerja dan belum mengetahui skill mengenai dunia perhotelan. Lantas, dirinya terus belajar demi mendapat skill di dunia perhotelan. Setelah itu, ia melanjutkan karir di salah satu galeri batik area Malang. Berbekal skill relasi dan public relation yang ia miliki selama kuliah dan bekerja di hotel, ia membuat perubahan yang cukup signifikan di galeri tersebut dengan mendatangkan banyak peminat. Kemudian ia memutuskan untuk vacum dari dunia kerja dan berfokus untuk merawat anak. Akhirnya, berbekal pengalaman dari hotel dan galeri batik, saat ini ia dapat bekerja sebagai Corporate Communication Kebun Raya Purwodadi. Impian yang ia capai tak serta merta mudah untuk didapatkan. Banyak perjuangan dan suka duka yang harus ia lewati. “Khususnya berkorban waktu, apalagi saat itu saya kan juga mengurus anak dan bekerja. Senang iya, capek iya, banyak lah suka duka yang saya hadapi waktu itu,” sambungnya. Intinya, dalam mencapai impian itu yang pertama adalah kenali diri sendiri, berusaha, dan tidak membuang waktu. Jangan hanya karena ada waktu senggang tidak dilakukan untuk hal produktif. Selagi masih muda, lakukan banyak hal produktif untuk menunjang skill di dunia kerja. “Jangan bersedih atau berkecil hati jika saat ini belum mencapai impian. Cukup fokus, konsisten dan tidak memuang waktu saja maka dapat memetik hasilnya nanti. Jika masih bingung dengan passion kita, coba me time dan lakukan hal yang membuat kamu senang. Jika hal tersebut tidak ada celah, maka hal tersebut bisa jadi adalah passion kamu,” ucapnya mengakhiri. (Tri/Wil)
Mahasiswa PGSD Tampilkan Empat Dongeng Fantasi

Para mahasiswa prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pertunjukan drama bertema dongeng fantasi. Mereka yang tergabung dalam teater Harmonia Saskara menampilkan empat cerita terkenal yakni Snow White, Cinderella, Hanzel and Gretel serta Penggembala Domba dan Serigala pada akhir Juni lalu. Ketua Teater Harmonia Saskara, Exzal Antolin Febriansyah, menjelaskan bahwa tujuan utama pagelaran ini adalah untuk menghidupkan kembali kisah-kisah dongeng yang sarat akan pesan moral dan hiburan. Mereka ingin membawa penonton ke dunia magis yang penuh pelajaran hidup serta menunjukkan bahwa dongeng-dongeng Fantasi ini masih relevan dengan kehidupan saat ini. Adapun drama “Snow White” dipilih karena pesan moral dan nilai-nilai universalnya yang relevan, seperti kebaikan hati dan keberanian menghadapi kejahatan. Drama ini juga menampilkan elemen visual menarik seperti cermin ajaib dan tujuh kurcaci, dengan menonjolkan adaptasi segar dan sentuhan lokal. Selanjutnya, drama “Hanzel and Gretel” juga menarik. Hal itu tak lepas dari ceritanya yang berasal dari cerita rakyat Jerman yang menyuguhkan perjuangan dua anak yang berusaha untuk bertahan hidup di tengah kondisi sulit, mengajarkan nilai-nilai keberanian, kerja sama, dan pentingnya keluarga. “Begitupun dengan ceirta-cerita lain. Harapannya, para penonton tidak hanya mendapatkan hiburan tapi juga bisa bisa mendapatkan inspirasi untuk menjalani hidup lebih baik,” kata Exzal. Menariknya, setiap drama menampilan elemen-elemen modern tanpa menghilangkan esensi asli dari cerita tersebut. Misalnya saja dalam kisah Hanzel dan Gretel yang memberikan setting yang lebih kiontemporer. Begitupun dengan tata rias dan kostum. Bahkan tim drama Hanzel dan Gretel berhasil mendapatkan penghargaan tata rias dan kostum terbaik. Sealin itu, mereka juga memenangkan poster dan teaser terfavorit serta juara umum. Drama Cinderella serta Penggembala Domba dan Serigala juga menjadi sorotan tersendiri. Dengan kostum mewah, setting panggung yang spektakuler, dan dukungan teknologi pencahayaan modern, kedua drama ini diharapkan memberikan pengalaman teater yang tak terlupakan bagi penonton. Melibatkan mahasiswaprodi PGSD UMM, pagelaran ini juga bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni teater di tanah air. Dengan segala persiapan dan konsep yang matang, pertunjukan ini diprediksi akan menjadi salah satu yang paling dinantikan oleh kalangan mahasiswa. (*/Wil)