Ratusan Peserta Ramaikan Audisi Indonesia Idol di UMM

Lebih dari 750 bakat penyanyi Indonesia berkumpul dan datang menuju Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 19-20 Juli ini. Hal ini dikarenakan Kampus Putih UMM terpilih menjadi tuan rumah audisi Indonesian Idol season ke 13 di Malang. Tidak hanya mereka yang tinggal di Malang, bahkan ada sederet peserta yang rela jauh-jauh ke Malang untuk mengikuti audisi ini. Asisten Produser Indonesian Idol Hardian Eka Putra mengatakan bahwa bakat-bakat yang ada di Malang punya karakter yang bervariasi. Ada yang lucu, teknik vokalnya menarik, hingga unik. Ia juga mengatakan bahwa suara yang dimiliki peserta berbeda-beda dan cocok dengan masing-masing genre. Hal itu membuat proses audisi semakin seru. Eka, sapaannya, juga mengapresiasi UMM sebagai lokasi audisi yang mendukung penuh jalannya agenda tersebut, Menurutnya, berbagai fasilitas yang ada memudahkan para peserta untuk turut serta da membuat ju lebih nyaman dalam menemukan bakat terbaik di Malang. “Flownya lancar, pesertaanya juga tidak kepanasan. Biasanya audisi Indonesian Idol diadakan di lapangan dan aula sehingga seringkali para peserta kepanasan di bawah terik matahari. Apalagi Malang kan iklimnya sejuk sehingga lebih nyaman,” katanya menambahkan. Terpilihnya UMM sebagai lokasi audisi Malang tak lepas dari fasilitas yang memadai dan cukup baik. Misalnya parkir yang luas, aula yang besar, dan gedung yang sangat cukup. UMM juga dinilai sebagai kampus yang besar sehingga memudahkan para peserta untuk pergi ke lokasi audisi. “Kami berharap proses audisi ini bisa mendapatkan bakat-bakat terbaik Malang yang bisa bersinar di masa depan,” katanya menegaskan. Adapun dari 700-an peserta yang menunjukkan kemampuan tarik suara di audisi, ada sekitar 50-an yang lolos dan berhasil melaju ke tahap selanjutnya. Sebagian peserta yang lolos juga para mahasiswa dan alumni Kampus Putih UMM. Sementara itu, salah satu peserta Muhammad Gilbran mengatakan keikutsertaannya tak lepas dorongand ari keluarga dan teman. Selain itu dia juga ingin merasakan pengalaman ikut kompetisi pencarian bakat seperti Indonesian Idol. “Awalnya dulu saya tidak sadar kalau bisa menyanyi dengan baik. Baru saat SMP guru seni saya mendorong saya untuk memulai bernyanyi dan alhamdulillah dari situ saya bisa tampi menyanyi di berbagai event,” katanya bercerita. Mahasiswa hubungan internasional UMM itu juga mengatakan bahwa kemampuan bernyanyinya juga tak lepas dari keaktifannya di paduan suara Gita Surya UMM. Dari sana, ia bisa memahami berbagai teknik dalam bernyanyi. Ditambah dengan upayanya untuk belajar otodidak melalui video-video Youtube. ”Alhamdulillah saya lolos tahap pertama dan melanjutkan ke tahap video booth. Semoga saya bisa lolos kembali dan mengikuti proses selanjutnya di Jakarta. Saya juga ingin serius mendalam dunia musik dan salah satunya bekompetisi di ajang Indonesan Idol,” pungkasnya. (wil)
Hafal Alquran, Wisudawan UMM Ini Lulus Tanpa Skripsi

Adalah Dzikru Izzuddin, wisudawan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil lulus tanpa skripsi melalui hafalan Alquran. Ia juga sering menjuarai berbagai ajang musabaqah hifdzil quran (MHQ) dan bahkan membuatnya mendapatkan pendanaan biaya pendidikan dari salah satu masjid di Kota Malang. Dzikru menjelaskan, setelah lulus dari pondok pesantren ia memang mempunyai bekal hafalan 30 Juz Alqruan. Untuk menjaga amalannya, ia mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) UMM agar mempunyai teman dan ustaz untuk memurojaah hafalan yang dimilikinya. Saat masih menjadi mahasiswa baru, mahasiswa asli kota Malang itu tidak pernah terpintas untuk bisa mengikuti ajang perlombaan tingkat nasional. Menurutnya, ia tidak bisa melawan rasa minder ketika melihat teman yang lebih hebat darinya. Namun motivasi dari ustaz pembimbingnya membuatnya memberanikan diri. “Salah satu lomba MHQ tingkat Nasional yang saya ikuti berlokas di Universitas Muhammadiyah Riau. Yakni agenda Pekan Olahraga dan Seni (Porseni). Saat itu, saya dan tim harus berkompetisi dengan berbagai kampus besar lainnya. Alhamdulillah kami berhasil membawa juara,” katanya. Dzikru mengatakan bahwa setiap ikut perlombaan MHQ, ia juga selalu mempelajari tafsiran yang ada. Ditambah dengan memperdalam ilmu dari beberapa kitab untuk menambah pengetahuan ketika menjawab pertanyaan. Menariknya, dari berbagai prestasi yang dicapai, Dzikru berkesempatan mengonversi mata kuliah. Selain itu juga karena sukses menghafal 30 juz Alquran. Ia juga bisa masuk ke program Merdeka Belajar dengan hafalan minimal 5 uaz dan membuatnya bebas skripsi. “Saya menyetorkan hafalan sebanyak 5 Juz dari depan ke FAI secara langsung dan satu kali duduk. Selain itu juga memerlukan bukti beberapa sertifikat penghargaan yang saya miliki agar syaratnya terpenuhi,” katanya. Tidak hanya itu, dengan kemampuan yang dimilikinya, ia juga berhasil mendapatkan biaya pendidikan dari salah satu masjid di kota Malang dari semester 1 hingga 7. Namun saat di akhir semester 7 biaya pendidikan tersebut terputus karena berbagai hal. “Alhamdulillah selalu ada jalan keluar di setiap masalah. Ternyata pihak FAI UMM langsung mengambil alih seluruh biaya pendidikan saya,hingga saya dapat menjadi sarjana,” katanya. Terakhir, ia mengatakan bahwa ia adalah orang yang sangat beruntung karena dapat berkuliah secara gratis dengan modal menghafal Alquran. “Saya sangat bersyukur karena UMM adalah kampus yang sangat mewadahi mahasiswanya untuk bisa menggapai prestasi tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya. Bahkan kita yang seringkali dibiayai,” katanya. (ri/wil)