PAI UMM Terjunkan Mahasiswa untuk Mengajar di Sekolah Malang-Batu

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berupaya melahirkan sumber daya manusia (SDM) terbaik, termasuk di bidang pendidikan. Terbaru, Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) kirimkan lebih dari 60 mahasiswanya untuk melaksanakan dalam program Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sekolah se-Kota Malang dan Kota Batu. Hal itu sebagai cara menciptakan pendidik yang berkuakitas. Kepala Laboratorium PAI I’anatut Thoifah S.Pd.I., M.Pd.I menjelaskan bahwa PKL merupakan kegiatan penting mengingat banyaknya narasi pendidikan unggul yang digaungkan. “Pendidikan unggul itu dapat tercipta apabila para pendidik juga unggul. PAI UMM ini sudah menyiapkan mahasiswanya untuk bisa menjadi seorang pendidik yang unggul juga,” ungkapnya. Tidak hanya sekedar kegiatan PKL saja di sekolah, namun mahasiswa juga harus berkolaborasi bersama pihak sekolah untuk menciptakan inovasi. Kolaborasi tersebut bisa berupa kegiatan-kegiatan positif yang tidak lain untuk meningkatkan proses belajar mengajar serta mencetak karakter siswa dengan baik. Selain itu, seluruh mahasiswa PKL juga telah dibekali dengan keterampilan mengenai perencanaan pembelajaran di kelas, proses evaluasi pembelajaran, serta Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). “Mereka ini kita kirim ke berbagai SMA sederajat di Kota Malang dan Batu, terdiri dari sekolah negeri, swasta, dan sekolah Muhammadiyah. Sebelum berangkat, mereka diberi berbagai materi penguatan. Utamanya terkait dengan Alquran, Fiqih, Keputrian, serta Kemuhammadiyahan. Tidak lupa juga keterampilan khusus terkait dengan kurikulum merdeka,” tegasnya Iana, sapaan akrabnya, juga menegaskan bahwa PKL ini tidak lain untuk memberikan direct experience bagi mahasiswa. Hal itu penting sebagai cara mempraktekan ilmu-ilmu yang telah didapat selama perkuliahan. Selain itu juga sebagai jalan menganalisis secara langsung bagaimana dunia pendidikan yang terjadi di lapangan. Terlebih lagi berhadapan langsung dengan seorang siswa yang merupakan subyek aktif dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Terakhir, dia berharap seluruh mahasiswa khususnya yang fokus di ilmu pendidikan untuk dapat memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan. Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari produk-produk pendidikan yang unggul serta mampu memberikan inovasi-inovasi baru. Sementara itu, Wakil Dekan I FAI UMM Dr. Saiful Amien, M.Pd. memberikan berbagai motivasi untuk para mahasiswa agar semangat menjalani proses PKL. Menuruntya, dalma PKL mahasiswa bisa melihat secara langsung keadaan pendidikan. Selain itu juga agar bisa memaknai pentingnya ilmu untuk kehidupan manusia. “Tetaplah gigih menggapai cita-cita dan jangan mudah menyerah. Segala usaha saudara hari ini akan memberikan hasil terbaik di masa depan,” tegasnya. (Faq/Wil)
Konferensi Internasional FH UMM Sebut Hukum dan Teknologi Solusi Masalah Hukum

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar konferensi internasional pada 23 Juli 2024 lalu yang dihadiri berbagai praktisi hukum dari beragam negara. Konferensi yang bernama International Conference on Law Reform (INCLAR) itu salah satunya membahas mengenai cara menghadapi era disrupsi yang tidak mudah di tengah isu kemanusiaan yang sulit diatasi. “Upaya diplomatik dan represif belum berhasil menyelesaikan permasalahan ini, padahal seharusnya hukum menjadi pelindung bagi masyarakat yang terkena dampak konflik yang tidak manusiawi,” tegas Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H. LLM. yang didapuk sebagai keynote speaker. Menurutnya, dunia internasional memiliki program yang menjunjung perdamaian, keadilan, dan stabilitas hak asasi manusia, yang mana tercantumkan pada Sustainable Development Goals (SGDs) ke 16. Namun sayangnya, masih ada beberapa wilayah yang tidak dapat menikmati hasil dari program ini. “Perkembangan dunia kini semakin luas dan resiko perpecahan semakin tinggi. Terlebih lagi adanya perbedaan nasib wilayah. Ada yang menikmati kedamaian, keamanan, dan kemakmuran, adapula negara yang harus terjerumus dalam siklus konflik dan kekerasan yang tidak ada ujungnya,” katanya. Ada berbagai kampus luar dan dalam negeri yang turut aktif membahas hukum dalam INCLAR. Misalnya saja dari Willaim and Mary Law School, Maastricht University, Deakin University, hingga Universitas Kebangsaan Malaysia. Selain itu, kampus-kampus Indonesia juga turut hadir, di antaranya Universitas Muria Kudus, STIH Adhyaksa, Unika Soegijapranata, UM Aceh, Unisla, Universitas Hang Tuah, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Ngurah Rai dan lain sebagainya. Dalam konferensi tersebut turut hadir oleh Prof. Hilaire Tegnan selaku pembicara dari William and Mary Law School, Williamsburg, Australia. Menurutnya, seringkali masyarakat bersuara karena haknya yang seharusnya mereka miliki tidak terpenuhi. Termasuk pada aspek peningkatan lingkungan hidup yang baik. Maka dari itu, perlu kajian khusus untuk membahas hubungan antara hak asasi manusia dengan lingkungan hidup. Ia melanjutkan, pencemaran lingkungan hidup akan berpengaruh dengan hak manusia karena berujung pada pelanggaran dan kerusakan ekosistem. Hal ini mengancam kehidupan karena dapat menyebabkan degradasi lingkungan dan parahnya akan timbul diskriminasi sosial. “Adanya diskriminasi akan mengakibatkan ketidakstabilan sumber daya manusia dan menghambat masuknya informasi. Maka perlu adanya undang-undang yang melindungi norma sosial dan mencegah praktek diskriminasi menuju kekerasan,” jelasnya. Selain itu, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan lingkungan yang sehat perlu diterapkan. Menurutnya, manusia kini memang harus berkolaborasi dengan teknologi untuk bisa menjangkau pengelolaan lingkungan sosial yang berkelanjutan. Di samping itu juga bisa menelurkan inovasi yang bisa menciptakan kehidupan yang sejahtera. Turut hadir Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. selaku Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerjasama UMM. Ia mengatakan bahwa melalui hukum yang dikolaborasikan dengan teknologi, maka diharapkan bisa melahirkan generasi yang lebih inovatif untuk menanggapi suatu permasalahan. “Saat ini, perlu adanya kolaborasi berbagaia aspek dengan teknologi, termasuk hukum. Hal itu sebagai cara untuk memajukan sumber daya manusia. Apalagi dalam upaya mewujudkan transformasi hukum yang diciptakan memang untuk manusia. Oleh karena itu konferensi ini diharapkan bisa mengahasilkan diskusi yang mendalam dan inovatif untuk merumuskan strategi hukum yang mampu menghadapi tantangan saat ini,” pungkasnya. (Ri/Wil)