Siapkan Generasi Cakap, PBA UMM Hadirkan Praktisi Penerjemah Bahasa Arab

Bekali mahasiswa untuk hadapi tantangan dunia kerja, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali datangkan para founder perusahaan penerjemah profesional. Mereka hadir dan memberikan kuliah praktisi melalui program unggulan UMM Center Of Excellence (CoE). Adapun agenda itu dilaksanakan pada 20 Agustus lalu dan diikuti puluhan mahasiswa peserta CoE. Salah satu yang memberikan materi adalah Managing Director CMM Translation Rika Agusmelda. Ia menyampaikan terkait pola pikir wirausaha untuk memasuki dunia kerja. Menurutnya, wirausaha memainkan peran penting dalam mendukung kestabilan ekonomi negara. namun sayangnya, di Indonesia masih ada gap rasion entreprenuer sekitar 3,47% dari total penduduk Indonesia. Angka ini tentu jauh jika dibandingkan dengan negara-negara maju. “Kekurangan jumlah wirausaha ini bisa berdampak pada tingkat pengangguran yang tinggi. Selain itu juga pertumbuhan ekonomi yang lambat dan kurangnya daya saing global,” terangnya. Rika melanjutkan, untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya upaya untuk membentuk generasi yang memiliki skill wirausaha. Selain itu, pola pikir kewirausahaan, pengetahun dan keterampilan, modal, serta perencanaan matang juga sangat menentukan. Hal itu agar anak-anak muda tidak salah mengambil langkah. Sementara itu, turut hadir Addie Priwibowo yang juga sebagai pemateri yang menerangkan mengenai persiapan menuju dunia kerja dari sisi informasi teknologi. Menurutnya, sebagai seseorang yang nantinya terjun di dunia kerja atau memiliki perusahaan sendiri, maka seyogyanya bisa menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi agar memudahkan proses pekerjaan. “Teknologi tentu akan memberikan kemudahan dan kecepatan yang lebih baik. Dengan menguasai teknologi, pekerjaan yang banyak bisa dilakukan dengan lebih mudah. Maka, penggunaan teknologi dalam berbisnis adalah sebuah kebutuhan yang vital. Beberapa aplikasi utama yang harus dikuasai misalnya Microsof Office, Google Workspace, Cloud, PDF, Artifical Intellegence (AI), data compress (WinZip, WinRar), hingga video editing,” tambahnya mengakhiri. (*/Wil)

Tim Dosen UMM Kembangkan Desa Agrowisata di Pasuruan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bosan-bosan berkontribusi kepada masyarakat. Kini, melalui Progam Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) tim UMM bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk Pengembangan Desa Binaan (PDB). Program yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sujono, M.Kes. ini melanjutkan pendampingan agrowisata di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, yang kini memasuki tahun kedua. Sujono menjelaskan bahwa pada tahun kedua ini, program pelatihan dan pendampingan difokuskan pada dua kegiatan utama. Pertama, yakni penataan lanskap di area seluas tujuh hektar yang akan dijadikan lokasi agrowisata berbasis tanaman sayuran serta taman bunga. Kemudian yang kedua adalah persiapan pembukaan agrowisata yang difokuskan pada pengembangan kuliner khas desa. “Dengan penataan ini, diharapkan agrowisata Desa Sumbergedang dapat menjadi daya tarik wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga edukasi tentang pertanian dan keanekaragaman hayati,” jelasnya. Adapun program ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi alam yang dimiliki desa tersebut agar dapat berkembang menjadi agrowisata yang mandiri dan sejahtera. Desa Sumbergedang dikenal memiliki keindahan alam yang luar biasa. Terletak di antara Gunung Arjuno di sebelah barat dan Gunung Penanggungan di sebelah timur, desa ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Ditambah lagi, desa ini memiliki sumber air yang mengalir sepanjang tahun. Menjadikannya lokasi yang sangat potensial untuk pengembangan agrowisata. Dalam prosesnya, Sujono tidak sendiri. Ia ditemani Dr. Ratih Juliati, M.M., Jamroji, M.Kom, serta Muhammad Nurul, M.M., M.P. yang bersama-sama memberikan pelatihan dan pendampingan komprehensif kepada masyarakat setempat. Misalnya saja mempersiapkan berbagai produk kuliner berbasis minuman tradisional, seperti sinom dan beras kencur. Begitupun dengan pengembangan olahan pisang yang sesuai dengan nama desa yakni Sumber Gedang yang memiliki arti sumber pisang. “Sesuai dengan nama desanya yakni sumbergedang. Jadi SDA disini itu lebih banyak pisang dengan jenis yang variatif. Pelatihan dan pendampingan diberikan kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) setempat untuk meningkatkan kualitas produksi. Mulai dari pemilihan bahan baku yang berkualitas, proses produksi yang higienis, pengemasan yang menarik, hingga pengurusan sertifikasi halal dan pemasaran digital,” lanjutnya. Menariknya, untuk mendukung peningkatan produksi, para pelaku UKM juga menerima bantuan alat-alat seperti mesin perajang serbaguna, pengemas plastik otomatis, dan pengemas minuman. Mesin perajang serbaguna ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan keripik dalam tiga bentuk, yaitu chips atau lempeng, stik, dan dadu, dengan kapasitas produksi mencapai 30–40 kg/jam. Dengan adanya program ini, Sujono dan tim berharap kapasitas produksi keripik dan minuman khas desa dapat meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Selain keripik pisang, UKM di Desa Sumbergedang diharapkan mampu memproduksi berbagai jenis keripik lainnya, seperti keripik ketela, singkong, kentang, dan wortel, dalam berbagai bentuk. (*/Faq/Wil)