UMM Pertegas Komitmen Jadi Kampus Inklusi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung inklusivitas di lingkungan akademik. Salah satunya dengan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pembentukan Lembaga Layanan Disabilitas (LLD). Acara ini diselenggarakan pada 4 September lalu dan diikuti puluhan skretaris prodi dan kaprodi dari berbagai program di UMM. FGD ini menghadirkan dua pemateri utama, yakni psikolog Siti Suminarti Fasikhah dan Ni’matuzahroh. Mereka memaparkan tentang pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan ramah bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus. Dalam sesi diskusi, Siti Suminarti Fasikhah menekankan bahwa inklusivitas bukan hanya sekedar label. Namun merupakan upaya berkelanjutan yang harus diwujudkan melalui kebijakan, sarana prasarana, serta dukungan yang menyeluruh bagi seluruh sivitas akademika. Di sisi lain, Ni’matuzahroh selaku pemateri kedua menilai bahwa UMM telah lama membuka peluang bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus dan beragam karakteristik. Termasuk di dalamnya terkait hambatan fisik, kognitif, sosial, dan emosi. “Upaya untuk memodifikasi proses dan evaluasi pembelajaran sudah dilakukan. Namun dengan adanya LLD, diharapkan komitmen ini semakin kuat dan terintegrasi,” katanya menegaskan. Selama ini, UMM terus menunjukkan dedikasinya terhadap prinsip education for all. Melalui FGD ini, berbagai program studi di UMM diharapkan dapat lebih memahami dan meningkatkan kapasitas mereka dalam mendukung mahasiswa berkebutuhan khusus, sehingga tercipta suasana belajar yang adil dan setara. Adapun pembentukan LLD di UMM merupakan langkah strategis untuk menyatukan berbagai upaya yang telah dilakukan secara terpisah menjadi satu lembaga yang terstruktur dan terarah. LLD akan berfungsi sebagai pusat koordinasi dan pengembangan layanan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, serta memberikan pelatihan bagi tenaga pendidik dan staf dalam menangani kebutuhan khusus di lingkungan kampus. Ni’matuzahroh melihat, terselenggaranya FGD ini juga menjadi upaya UMM untuk mempertegas peranannya dalam mendukung inklusivitas. Selain itu juga langkah untuk memastikan bahwa seluruh mahasiswa, tanpa terkecuali, dapat meraih pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan mereka. (*/Wil)
UMM Borong Anugerah Kampus Unggulan LLDikti Jatim

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini Kampus Putih sukses memborong banyak penghargaan dalam Anugerah Kampus Unggulan (AKU) pada 5 September lalu di Grand Mercure Malang. Pengahragaan tersebut diberikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur yang meliputi berbagai kategori. Menariknya, UMM mendapat empat penghargaan langsung dalam anugerah tersebut. Antara lain kualitas pelaporan terbaik, perguruan tinggi berprestasi bidang kemahasiswaan, implementasi sistem penjaminan mutu internal (SPMI), dan kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat klaster mandiri. Tidak sampai disitu, ada juga tiga dosen UMM yang mendapat anugerah academik leader. Mereka adalah Dr. Sugiarti, M.Si. pada bidang seni dan budaya, Prof. Dr. Tobroni, M.Si pada bidang kependidikan, dan Prof.Ir. Ilyas Masudin, MLogSCM., Ph.D. pada bidang teknologi. Kepala Humas UMM Dr. Isnaini, M.Pd. menyampaikan bahwa berbagai penghargaan yang didapatkan kampus putih tersebut menjadi komitmen nyata dalam memajukan pendidikan. Selain itu juga menjadi bentuk konsistensi sivitas akademika UMM dalam menjaga pelayanan pendidikan. Apalagi mengingat bahwa ini bukanlah kali pertama UMM mendapat anugerah kampus unggulan dari LLDIKTI Wilayah VII, bahkan setiap tahun. “Menjaga pelayanan pendidikan di UMM itu wajib hukumnya dan itu bisa dibuktikan dari anugerah yang kami raih. Ini bukan kali pertama kami memperolehnya, hampir setiap tahun kami raih,” ungkapnya. Menurutnya, prestasi tersebut tentu akan dijaga dan terus ditingkatkan. Mengingat bahwa kebutuhan masyarakat juga sangat dinamis di setiap zamannya. Hal itulah yang menjadi tantangan tersendiri bagi perguran tinggi untuk terus meningkatkan inovasi dan produk unggulan. Sementara itu, Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah VII Dr. dr. Ivan Rafian, M.KP., menyampaikan, anugerah kampus unggulan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan semangat bagi universitas, baik negeri maupun swasta yang ada di Jawa Timur. Semangat tersebut tentu untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih unggul. Terlebih lagi sebagai persiapan dalam menyambut Indonesia Emas tahun 2045. Selain itu, ia juga mendorong para pimpinan universitas untuk saling berkolaborasi untuk kemajuan pendidikan. Apalagi melihat tantangan global yang sangat dinamis dan akan sulit jika dihadapi sendirian. Ia berharap, anugerah ini menjadi motivasi bagi semua kampus, khususnya yang ada di Jawa Timur untuk terus meningkatkan kualitas. “Harapan kami tidak lain untuk menciptakan perubahan dalam dunia pendidikan yang mampu menjawab tantangan global. Universitas sebagai tempat untuk mencetak sumber daya manusia harus mampu menciptakan produk yang unggul pula,” ungkapnya. (Faq/Wil)