Afta, Mahasiswa UMM yang Menang Best Leader, Dangdut, dan Pensi di Ajang Internasional

Adalah Afta Gita Muhammad, seorang mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses membawa banyak kemenangan di Ahmad Dahlan International Youth Camp, Oktober lalu. Ia berhasil memenangkan tiga kategori yakni best leader, pentas seni, dan dangdut song dalam ajang yang dilaksanakan di Kulon Progo, Yogyakarta itu. Adapun kegiatan itu merupakan platform bagi para pemuda dari berbagai negara untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, menjalin kolaborasi internasional, dan memperluas wawasan tentang isu global. Tema tahun ini adalah “Exploring Skills of Youngsters for Addressing Global Challenges,” yang fokus pada pengembangan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah. Afta, sapaan akrabnya mengatakan, kemenangan ini tentu tak lepas dari dukungan Kampus Putih UMM serta dosen pembimbing Novi Puji Lestari, S.E,.M.M. Dalam sesi best leader, ia menampilkan kepemimpinan yang baik, komunikasi yang efektif, dan mampu memfasilitasi diskusi dengan apik. Sementara pada kategori pentas seni, ia menampilan kemampuan pencak silat di hadapan para peserta lain. Ini menjadi caranya menunjukkan keterampilan dalma seni bela diri sekaligus menampilkan budaya Indonesia. “Saya juga Alhamdulillah meraih juara dua di penampilandangdut bersama tim. Sama seperti pencak silat, dangdut juga menjadi kesenian yang juga identik dengan Indonesia. Sehingga, ini menjadi cara saya memperkenalkan Indonesia ke peserta dari negara-negara lain,” katanya melanjutkan. Ia menilai, ADIYC 2024 memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kreativitas, dan kerjasama tim. Selina itu juga dapat jadi wadah membangun relasi dengan peserta dari berbagai negara. Keberhasilan dalam berbagai kategori tersebut mencerminkan semangat dan kompetensinya dalam berbagai bidang, serta menjadikan pengalaman ini sangat berharga bagi pengembangan dirinya di masa depan. “Sederet penghargaan ini tidak hanya berarti bagi saya, tapi juga bagi anak muda lainnya. Saya ingin agar teman-teman pemuda bisa memberikan yang terbaik, memproduksi ide cemerlang, dan menyediakan solusi apik untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Kita punya energi dan kreativitas yang tentu akan membantu dalam mewujudkan hal tersebut,” tegasnya. (*/wil)
Tim Mahasiswa Ini Sukses Menangi Penghargaan di Ajang Nasional
Tidak mudah menyerah serta selalu berusaha menjadi bentuk tanggung jawab tersendiri dari mimpi yang ingin diraih dan diperjuangkan. Hal itulah yang diterapkan oleh para mahasiswa Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses meraih penghargaan presentasi kelompok terbaik dalma ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang dilaksanakan Oktober lalu. Mereka adalah Sonya Dzakiyah Zayyantri selaku ketua, Putri Setia Ningsih, dan Muhammad Nasir Falah. Menariknya, dalam proses mengikuti kegiatan Pimnas, dua anggota kelompok sudah lulus terlebih dahulu sehingga hanya tinggal Sonya yang harus berjuang. Terkait hal itu, Sonya bercerita bahwa ia sempat ragu untuk pergi dalam ajang Pimnas ini. Namun mengingat dua anggota lainnya selalu mendukung dan ingin menemaninya, akhirnya ia terus melanjutkan perjuanganya. Meski, melakukan presentasi hasil karya ilmiahnya seorang diri, ia tidak merasa sendirian karena dibalik itu dua orang anggotanya yang selalu menyemangati. Adapun karya ilmiah yang ia bawa terkait dengan pembangunan instalasi air melalui kabut atau udara untuk masa depan. Menurutnya, di masa depan akan ada kemungkinan air akan berkurang hingga berpotensi habis. Apalagi mengingat jumlah penduduk di Bumi yang semakin bertambah banyak seiring waktu. Maka, ia berharap ide mereka dapat membantu memberi solusi atas permasalahan air tersebut. Meski ada sederet kelompok yang membahas pada aspek air, namun hanya timnya yang memiliki gagasan unik untuk membangun instalasi air dari kabut tersebut. Ini menjadikan mereka satu-satunya kelompok yang membahas permasalahan air dengan metode yang baru dan unik. “Ide ini sebenarnya terinpirasi dari hewan kumbang yang hidup di gurun terbesar di Afrika yang bernama Gurun Namib. Apalagi saat kami menyadari bahwa hewan tersebut dapat bertahan dengan baik di tengah panasnya gurun. Kita akhirnya melakukan riset lebih jauh terkait sistem bertahan hidup kumbang untuk mendapat pasokan airnya tersebut,” katanya. Mereka akhrirnya menemukan fakta bahwa hewan kumbang ini dapat bertahan dengan cara berdiri dengan sudut 40 derajat. Di bagian punggungnya terdapat benjolan yang mengandung hidrofobik dan hidrofilik untuk mengumpulkan air dari kabut. Dari situlah, mereka memiliki ide untuk mengadaptasi bentuk jaring-jaring yang punya pola sesuai dengan sayap dari kumbang tersebut. “Nantinya kami juga akan memanfaatkan energi listrik melalui panel surya cahaya dan juga menambahkan turbin udara agar prosesnya semakin maksimal.” Ujarnya menambahkan. Ia juga merasa sangat senang bisa mendapatkan penghargaan di kompetisi bergengsi itu. Apalagi ada dukungan penuh dari UMM, kemahasiswaan, dan juga dosen pembimbing yang membuat mereka mampu bertahan hingga ajang Pimnas usai. Ia berharap, ke depannya semakin banyak anak muda yang mampu menelurkan ide brilian untuk kemajuan manusia, khususnya di Indonesia. (zaf/wil)