Belasan Mahasiswa Teknik Mesin UMM Exchange ke INTI Malaysia

Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan berdaya saing global. Kali ini, sebanyak 12 mahasiswa terpilih untuk mengikuti program bergengsi International Student Mobility di International University (INTI), Malaysia, yang akan berlangsung dari 6 Januari hingga 11 Mei 2025 nanti. Sebelumnya, Teknik Mesin UMM dan INTI Malaysia juga sudah melangsungkan kerjasama di bidang pertukaran dosen dan kolaborasi riset. Acara pelepasan resmi digelar pada Kamis 26 Desember lalu di Kampus UMM dengan dihadiri Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. dan Kepala International Relations Office, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP. Dalam pelepasan itu, Salis mendorong mahasiswa yang turut serta dalam program itu untuk memanfaatkan peluang yang ada. “Kegiatan ini adalah peluang besar untuk mengembangkan diri dan memperluas wawasan. Tantangan yang Anda hadapi di luar negeri akan menjadi pengalaman berharga yang membentuk karakter Anda. Jadilah pribadi yang percaya diri, optimis, dan tetap rendah hati. Jaga nama baik almamater dan tunjukkan bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di level internasional,” pesannya. Di sisi lain, Kepala IRO Listiari menambahkan bahwa program ini membuka pintu bagi mahasiswa untuk menjalin jejaring global. Membangun relasi yang kuat dengan berbagai negara dna berkolaborasi untuk menciptakan inovasi baru untuk masyarakat. “Pelajari keberagaman budaya dan ciptakan koneksi yang konstruktif. Jadilah aktif, tetapi tetap bijak dalam pergaulan. Jaga integritas sebagai mahasiswa UMM dan pastikan Anda menaati semua peraturan yang berlaku selama di Malaysia. Saya percaya, pengalaman ini akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi Anda, tetapi juga bagi perkembangan UMM di masa depan,” pesannya dengan penuh optimisme. Hal serupa juga disampaikan Ir. Iis Siti Aisyah, MT., Ph.D. IPM. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata dari strategi internasionalisasi Teknik Mesin UMM. Menjadi langkah penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan global. “Kami ingin mahasiswa Teknik Mesin UMM tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki pengalaman internasional yang memperkaya kompetensi mereka. Semoga Anda menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain dan membawa manfaat besar untuk program studi ini,” jelasnya. Para mahasiswa peserta program juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan luar biasa ini. Mereka berkomitmen untuk memberikan yang terbaik selama mengikuti program di INTI, Malaysia. Kerja sama strategis antara Teknik Mesin UMM dan INTI Malaysia ini diharapkan terus membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman internasional, memperkuat kompetensi, dan membangun jejaring global yang bermanfaat untuk masa depan. (*/wil)

Tanggapi Isu Tren Sad Beige Mom, Dosen UMM: Orang Tua Tidak Boleh Egois

Tren parenting ‘Sad Beige Mom’ belakangan sedang naik daun dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Istilah ini kerap dikaitkan kepada orang tua yang menggunakan warna-warna lembut (netral) seperti warna beige, putih, dan krem, sebagai kiblat gaya estetika dalam pengasuhan anak. Diklaim memiliki nuansa classic dan bersih, tren ini menjamur ke berbagai kalangan masyarakat global, tak terkecuali Indonesia. Meski dianggap ‘aestethic’, tren ini masih menimbulkan pertanyaan besar mengenai dampaknya terhadap perkembangan psikis anak. Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Iswinarti, M.Si. menegaskan pentingnya pemilihan dan variasi warna dalam mendukung stimulasi visual dan perkembangan kognitif anak, sejak bayi. “Pada saat bayi beranjak usia 2-3 bulan, pergerakan benda dan suara-suara sangat berpengaruh terhadap stimulasi penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga) bayi. Sedangkan, dengan segala keterbatasan, penglihatan bayi cenderung menangkap benda berwarna cerah atau yang memiliki kontras tinggi, seperti hitam, putih, merah, kuning, dan lain sebagainya,” ungkapnya. Kemudian setelah itu, anak berada di tahap perkembangan stimulasi kognitif. Dimana pada tahap perkembangan ini, anak akan mulai mampu melakukan klasifikasi warna. Pada umumnya, orang tua akan memperkenalkan warna-warna dasar kepada anak, seperti merah, kuning, dan hijau. Sehingga, di tahap selanjutnya anak mampu melakukan klasifikasi warna yang diciptakan dari kombinasi warna dasar tersebut atau biasa dikenal dengan istilah warna pelangi. Disamping itu, Ia juga mengungkapkan psikologi warna juga merepresentasikan emosional, seperti warna cerah menggambarkan kecerian dan semangat, hitam berarti kesedihan yang mendalam, dan lainnya. “Biasanya anak akan cenderung mengenal warna dasar dan turunan kombinasinya atau warna-warna pelangi dari hasil perkembangan stimulasi kognitif. Sehingga, ketika anak hanya diberi satu warna dan warnanya tidak menarik perhatian anak, maka kemungkinan stimulasi kognisi anak tergolong kurang,” jelasnya. Terlepas dari fenomena tren ini, Iswinarti memandang, perbedaan selera seseorang terhadap warna, style dan sebagainya itu merupakan suatu hal yang wajar. Adapun penggunaan diksi ‘sad (kesedihan)’ dengan maksud memvonis dalam istilah tren ini dinilai cukup berlebihan. Namun, Ia juga menekankan sosok Ibu atau orang tua tidak boleh egois dengan memaksakan kehendak atau pikirannya kepada anak. Yang efeknya, dapat mengganggu perkembangan psikis, maupun kognitif anak. “Sejatinya, orang tua itu tidak boleh memaksa anak untuk menuruti kehendak atau passionnya kepada anak. Karena satu unsur yang tak kalah pentingnya dalam optimalisasi perkembangan anak ialah unsur stimulasi emosi yang tercermin dalam pola serta metode parenting orang tua kepada anak,” ungkapnya. Terakhir, Ia menegaskan pada masa stimulasi perkembangan anak, variasi warna penting diterapkan. Ia juga berharap masyarakat khususnya para orang tua lebih bijak lagi dalam memilih sesuatu yang berkaitan dengan parenting. (din/wil)