Fatih, Dosen FH UMM yang Bicara Pentingnya Publikasi di TSUL Uzbekistan

Kabar gembira kembali ditorehkan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini Dr. Sholahuddin Al-Fatih, SH., MH., selaku dosen Fakultas Hukum UMM mendapat kehormatan sebagai pembicara di Tashkent State University of Law (TSUL), Uzbekistan, dalam sebuah forum internasional bergengsi. Adapun forum ini membahas dampak publikasi internasional bagi penulis, institusi, dan negara dalam pemeringkatan global. Bukan tanpa alasan Fatih diundang dalam forum prestisius ini. Ia merupakan Editor in Chief Legality: Jurnal Ilmiah Hukum, salah satu jurnal di UMM yang telah terindeks Scopus Q1, kategori tertinggi dalam pemeringkatan jurnal akademik. Kesempatan ini semakin membuktikan bahwa akademisi Indonesia, khususnya yang bersekolah dalam negeri, dapat bersaing dan diakui di tingkat global. Tak hanya sekadar berbagi ilmu, ia juga menjalin kerja sama akademik dengan TSUL Uzbekistan. Kerja sama ini diharapkan membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen UMM untuk studi atau exchange program di TSUL. Dalam forum tersebut, Fatih menjelaskan bahwa publikasi internasional yang berkualitas memiliki peran penting dalam meningkatkan reputasi akademisi, kampus, hingga negara dalam pemeringkatan dunia. Ia juga berbagi pengalaman mengenai strategi publikasi yang berdampak tinggi, termasuk pentingnya kolaborasi dengan penulis asing. Materi yang ia bawakan merujuk pada prinsip-prinsip hukum konstitusi yang telah ia bahas dalam berbagai forum akademik. “Peserta yang hadir dalam acara ini terdiri dari dosen, mahasiswa pascasarjana, baik secara daring maupun luring, dengan total sekitar 150 peserta. Selain menjadi pembicara utama, saya juga mendapat kesempatan menjadi visiting lecturer di kelas hukum konstitusi, membagikan wawasan tentang sistem konstitusi di Indonesia,” jelasnya. Fatih menjadi contoh nyata bahwa lulusan dalam negeri tetap bisa bersaing dan diakui di panggung internasional. Ia menyelesaikan S1 dan S3 di Universitas Brawijaya (UB), serta S2 di Universitas Airlangga (Unair). Meski tidak memiliki gelar dari universitas luar negeri, ia telah beberapa kali diundang sebagai narasumber di berbagai negara. Pada Desember 2024, ia juga diundang sebagai pembicara di Fakulti Undang-Undang dan Hubungan Antar Bangsa, Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia. Dua bulan sebelumnya, tepatnya pada Oktober 2024, ia juga terpilih sebagai peserta Teaching Mobility di Universidade do Minho, Braga, Portugal dengan dana dari Erasmus+. “Saya diterima dengan sangat baik oleh pihak universitas. Ke depan, kerja sama ini diharapkan dapat mempererat hubungan akademik antara UMM dan TSUL. Memberikan lebih banyak kesempatan bagi dosen dan mahasiswa UMM untuk mengembangkan karier akademik mereka di luar negeri dan semakin banyak dosen UMM yang mendapatkan kesempatan seperti ini,” katanya. Kehadirannya di TSUL Uzbekistan menjadi bukti bahwa akademisi Indonesia memiliki kapasitas dan kualitas yang diperhitungkan dalam kancah akademik internasional. Semoga semakin banyak akademisi tanah air yang mengikuti jejaknya dan membawa nama baik Indonesia ke tingkat dunia. (vin/wil)

Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah jadi Konsen Muhadjir Effendy

Di tengah perkembangan pesat dunia bisnis, Muhammadiyah menyadari pentingnya perubahan mindset, terutama dalam melihat bisnis sebagai sarana yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah. Hal itu ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Efendy, M.A.P. dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Agenda diselanggarakan pada 26 Februari 2025 itu berlokasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dan terus mendorong perubahan dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi. Menurutnya, banyak warga Muhammadiyah yang masih memandang dunia usaha dengan skeptis, menganggapnya “kotor” karena adanya praktik kecurangan dan permainan dalam perdagangan. Oleh karena itu, Muhammadiyah bertekad untuk mengubah pandangan ini dan menciptakan peluang bisnis yang mengutamakan etika, kejujuran, dan prinsip agama yang kuat. Muhadjir mengatakan, konsep kapitalisme religius menjadi landasan utama dalam pembangunan ekonomi ini. Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa bisnis tidak harus berseberangan dengan nilai-nilai agama. Kapitalisme yang dibangun dengan etika agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah berusaha menumbuhkan para kapitalis yang sangat agamis, dan memiliki tanggung jawab sosial dan moral dalam setiap langkah bisnis yang diambil. Serta menekankan pentingnya pemahaman bahwa bisnis harus dijalankan dengan landasan etika yang kuat. “Kapitalisme yang lahir dengan prinsip agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah bagi umat,” ujarnya. Di sisi lain, pembinaan birokrasi Muhammadiyah juga menjadi fokus penting. Untuk merespons dinamika zaman yang terus berubah, organisasi ini menyadari bahwa birokrasi yang kaku tidak lagi efektif. Oleh karena itu, Muhammadiyah berkomitmen untuk membangun sistem yang lebih fleksibel dan inklusif, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan, serta mendukung keberlangsungan bisnis dan usaha yang dijalankan. Salah satu inovasi menarik adalah dalam hal kepemilikan bisnis. Muhammadiyah menyadari bahwa bisnis yang sukses tidak hanya dapat dimiliki oleh pengurus organisasi, tetapi juga bisa dibagi dengan warga Muhammadiyah atau mitra yang terlibat. Hal ini membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam ekonomi, tidak hanya dalam skala individu tetapi juga secara kolektif. Ini adalah salah satu langkah penting untuk memastikan bahwa bisnis Muhammadiyah dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. Peluang lebih besar hadir dalam dunia ritel, yang diharapkan menjadi tempat distribusi utama produk-produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan adanya outlet ritel, produk dari UMKM warga Muhammadiyah dapat lebih mudah diakses, memberikan peluang pasar yang lebih luas bagi produk lokal. Tentunya, produk yang dijual harus memenuhi standar kelayakan, baik dari segi kualitas maupun kemasan. Jika ada produk yang belum memenuhi standar, outlet memiliki kewajiban untuk membina produk tersebut agar dapat lebih diterima di pasar. “Kemudian kita mengontrol sendiri sirkulasi barang yang ada di Mentari Mart, tanpa ada campur tangan dari pihak manapun dan diatur oleh manajemen Muhammadiyah,” jelasnya. Sebagai contoh, bisnis pada sektor kesehatan yakni infus Suryavena yang diluncurkan oleh Muhammadiyah yang menawarkan produk infus dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk memastikan kesuksesan distribusinya, peta geospasial akan digunakan untuk mengukur kelayakan wilayah yang potensial untuk mendirikan outlet, sehingga mengurangi risiko kebangkrutan. Dalam hal pemberdayaan, Muhammadiyah juga memperhatikan pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda, khususnya siswa-siswi SMK Muhammadiyah jurusan perniagaan. Mereka akan diberdayakan untuk menjadi tenaga kerja terampil di berbagai bisnis yang didirikan, seperti di outlet Mentari Mart yang akan segera hadir. “Saya mempunyai mimpi bahwa sosial enterprise dapat menjadi prioritas utama dalam ekonomi kita di kemudian hari, setelah BUMN, Swasta, Koperasi, dan Bisnis Sosial,” ujarnya. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Muhammadiyah berupaya untuk menciptakan perekonomian yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan membawa kesejahteraan bagi warganya dan masyarakat luas. Muhammadiyah terus berupaya untuk tidak hanya menjadi organisasi yang besar, tetapi juga menjadi pendorong perubahan sosial dan ekonomi yang dapat membawa kesejahteraan bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan semangat kapitalisme religius, pembenahan birokrasi, dan pemberdayaan masyarakat, Muhammadiyah bergerak untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, berkeadilan, dan penuh berkah. (nam/wil)